Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : In Danger


__ADS_3

Jam pulang sekolah.


Semua murid SMA Tunas Harapan kini sudah berhamburan ke luar ruang kelas untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Bos, lo pulang bareng sama Leo?" tanya Ignancio yang masih duduk di samping Cherika.


"Ya," jawab Cherika yang sedang merapihkan buku dan alat tulis miliknya.


"Lo nggak ikut kita nongkrong di warung mang Ucup? Sudah lama banget nih kita-kita nggak kumpul," kata Adam yang menghampiri meja Cherika.


"Ayo ikut kita saja, bos," ujar Brian yang menghampiri meja Cherika juga.


"Tidak, aku ingin pulang saja," tolak Cherika.


"Akhir-akhir ini lo jadi susah di ajak kumpul, padahal kan lo ketua geng Aodra," celetuk Ignancio dengan merengut.


"Mulai sekarang kamu saja yang jadi ketuanya, Ignancio," kata Cherika dengan santainya.


"Jangan bercanda lo, bos," ucap Ignancio.


"Nggak lucu banget bercandanya," timpal Brian.


"Jangan bilang kalau lo mau pensiun dari geng motor kita," tukas Adam menatap tidak percaya Cherika.


Cherika mengisyaratkan agar ke tiga pemuda itu semakin mendekat padanya. Ke tiga pemuda itu pun menurut.


"Aku dan Chandika sudah menikah, aku tidak bebas seperti dulu lagi," bisik Cherika membongkar pernikahannya.


"Apa!?" pekik Ignancio, Adam, dan Brian bersamaan.


"Shtt, jangan berisik dan ini rahasia," kata Cherika memperingatkan.


"Sejak kapan lo dan Chandika..." kata Adam tercekat.


"Sudah hampir sebulan," jawab Cherika jujur.


"Kenapa baru bilang sama kita?" tanya Ignancio dengan mimik kecewa, "Padahal kita kan sahabat."


Cherika menjelaskan penyebab kenapa pernikahannya belum di publikasikan, ke tiga pemuda itu pun mengerti dan berjanji akan menyimpan rahasia itu.


Pada akhirnya ke tiga pemuda itu pergi untuk ke warung mang Ucup dan meninggalkan Cherika yang ingin menghampiri Chandika di kelas pemuda itu.


Kini koridor sekolah sudah terlihat sepi, karena obrolan tadi Cherika jadi lupa waktu. Semoga saja Chandika tidak marah karena lama menunggu.


Tanpa disadari ada seseorang yang mengikuti Cherika dari belakang dengan membawa sebuah tongkat kayu.


BUGH

__ADS_1


"Akh!" Cherika merasakan jika tepi lehernya dipukul dengan tongkat kayu dan dia langsung tergeletak pingsan.


Si pelaku yang menggunakan topi dan kacamata tersenyum miring saat melihat Cherika.


**


Terlihat Alvis yang sedang memainkan ponselnya. "Ironi dalam hidup, manusia menciptakan ponsel. Ponsel makin pintar. Manusia tidak," tukas Alvis tahu-tahu kesal sendiri, pemuda itu kalah dalam bermain game online.


Chandika memudar bola matanya. "Jangan menyamakan semua manusia bodoh seperti lo."


"Kalau saja mulut lo itu BPKB, pasti sudah gue gadaikan," ucap Alvis menatap Chandika sengit.


"Mulut lo saja sini yang gue ga—"


Deg


Deg


Chandika tidak dapat melanjutkan perkataannya karena jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan kencang. Seketika wajahnya panik, dia langsung bangkit dan berlari keluar kelas.


"Oi, kenapa lo!?" seru Alvis terheran-heran pada tingkah mendadak Chandika, dia segera mengikuti Chandika.


"Dika..." gumam Chandika dengan raut yang khawatir, jiwanya dan Cherika memang sudah terhubung jadi dia tahu jika gadis itu tengah dalam bahaya. Langkah lebarnya menuju ke kelas Cherika.


BRAK


Chandika membuka paksa pintu kelas, dan hanya kekosongan yang dia dapatkan.


"Chandika dalam bahaya," kata Chandika dengan menyebut nama asli si gadis.


"Dalam bahaya bagaimana?" kilah Alvis yang menunjukan raut terkejut.


"Gue nggak tahu, tapi perasaan gue dan dia sudah terhubung. Gue tahu kalau sekarang dia sedang berada dalam bahaya. Kita harus mencarinya, Alvis," ucap Chandika dengan rasa paniknya.


Alvis segera mengangguk. "Gue akan menghubungkan geng Bruiser untuk membantu mencari Chan," kata Alvis kemudiannya.


"Ya."


'Dika, di mana kamu?'


**


Danny membuka pintu apartemennya, kini pemuda itu sudah rapi dengan setelan jas formal yang membuatnya begitu gagah. Image anak SMA dalam penyamarannya dulu sudah hilang, dia memang sudah tidak perlu melakukan penyamaran itu.


Saat keluar dia melihat jika Jane juga tengah keluar dari kamar apartemen. Sejak kejadian lamaran mendadak yang dilontarkan Danny, hubungan ke duanya memang menjadi semakin canggung dan berjarak. Jane selalu menghindar dari pemuda berkacamata itu.


Jane tersenyum singkat dan langsung melangkah untuk menuju lift. Danny mengikuti Jane dari belakang. Setelahnya mereka menaiki lift bersama.

__ADS_1


"Tidak bekerja?" tanya Danny yang berusaha memecah keheningan.


"Libur."


"Mau kemana?" tanya Danny sekali lagi.


"Minimarket," jawab Jane jujur. Dia memang ingin ke minimarket untuk membeli susu ibu hamil, persediaan susunya sudah habis.


Tingg


Pintu lift terbuka, Jane segera melangkah keluar. Namun, Danny segera mencekal tangannya dan menariknya lagi untuk masuk kembali ke dalam lift.


Jane ingin melontarkan kemarahannya, tapi Danny segera membungkam mulutnya dengan ciuman.


Si gadis blaster terkesiap seketika. Dia memberontak dan memukul-mukul dada yang terbalut jas itu, tapi hanya dihiraukan oleh Danny.


Pintu lift tertutup kembali. Selagi bibir yang masih bertaut Danny memencet tombol lift untuk menuju lantai di mana kamar apartemennya dan Jane berada.


Danny tidak hanya menempelkan bibirnya, tapi dia mulai menyesap bibir Jane. Ciumannya begitu kaku karena memang ini adalah kali pertama bagi pemuda itu. Ya, Danny adalah jomblo dari lahir, mana pernah dia berciuman dengan seorang perempuan sebelumnya.


Pemuda itu menjauhkan wajahnya. "Jangan membuat jarak dengan gue," kata Danny setelahnya.


Jane manatap mata hitam di balik kacamata pemuda itu, jantungnya bergetar. "Kenapa memangnya?"


"Karena gue nggak suka," jawab Danny dengan ekspresi yang terlihat frustasi. "Setiap hari yang ada dipikiran gue adalah lo. Gue nggak bisa menghapus lo dari pikiran gue."


"Berhentilah untuk mengasihani gue, Danny. Gue bukanlah kakak perempuan lo, jangan jadikan gue pelampiasan atas rasa bersalah lo," tukas Jane dengan mendorong tubuh Danny.


"Nggak, Jane. Gue nggak menganggap lo seperti itu. Gue benar-benar perduli dengan lo," kata Danny mencoba meyakinkan Jane.


"Gue sudah mulai sayang sama lo," sambung Danny.


Jane terkejut mendengar pernyataan pemuda bersurai cokelat terang itu.


Tingg


Pintu lift terbuka, Danny segera menarik Jane keluar.


"Jangan seperti ini, Danny," kilah Jane menepis tangan Danny yang memegang tangannya.


"Kenapa memangnya?" tanya Danny tidak mengerti dengan Jane yang masih menolaknya itu.


"Gue...gue nggak pantas untuk lo, gue hanya perempuan yang tengah hamil di luar ikatan pernikahan. Masih banyak perempuan baik-baik yang lebih pantas untuk lo," ucap Jane dengan mata yang berkaca-kaca.


Danny menggeleng. "Gue nggak perduli tentang itu. Kehidupan ini memang tidak akan seutuhnya sempurna dan semua orang pasti memiliki kesalahan masing-masing, tapi sikap ingin memperbaiki diri bisa menjadikan lo terbaik dari yang bisa orang lain lakukan. Dan itu sudah sempurna."


Jane tidak sanggup menahan air matanya lagi, gadis itu terisak.

__ADS_1


Danny membawa Jane ke dalam pelukannya. "Gue akan selalu memberikan lo perasaan tanpa syarat, yang menerima lo apa adanya."


_To Be Continued_


__ADS_2