Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Just A Dream


__ADS_3

Kringggg


Bel istirahat sudah berbunyi bagaikan angin segar untuk para murid-murid yang sudah menguras otak karena belajar.


"Lo suka sama Guru bahasa Inggris, ngab?" tanya Bart yang menengok ke belakang bangkunya.


"Nggak," jawab Chandika kalem, tangannya merapihkan buku paket bahasa Inggris dan memasukkan ke dalam ransel.


"Malu-malu saja lo," goda Bart tertawa dengan nyaring.


"Berisik banget," kata Chandika menatap tajam Bart, dan si pemuda honey blonde seketika menciut.


"Satai, ngab," kata Bart dengan kikuk.


Chandika hanya diam saja dan tidak perduli.


"By the way, anyway, busway, Alvis gimana keadaannya?" tanya Caka, pemuda yang duduk di sebelah Bart.


"Dia baik-baik saja," jawab Chandika cepat. "Lusa juga sudah masuk sekolah."


"Kita mau menjenguk Alvis, boleh nggak?" tanya Bart menimbrung.


"Jenguk saja, dia di RS Royal Taruma."


"Yang di Jakarta Barat itu?" tanya Caka memastikan.


Chandika hanya mengangguk.


"Ok, kita berdua dan beberapa perwakilan kelas ingin menjenguk sehabis pulang sekolah hari ini," kata Bart.


"Ya," jawab Chandika. Tangnnya mengambil ponsel yang tadi dia taruh di laci meja, dia ingin menghubungi Alvis dan memberitahu jika teman-teman sekelas ingin datang menjenguk.


Namun, seketika ekspresinya menjadi pelik, dia terkejut karena menemuka satu bouquet bunga matahari di laci mejanya.


"Weh, penggemar rahasia? Imut banget ngasih bunga matahari," celetuk Bart yang melihat Chandika menemukan bouquet bunga.


"Imut gundulmu," kata Chandika sengit.


Dari mana bagian yang imutnya. Kini, dia merasa di teror.


"Haish, nggak bersyukur," kata Caka.


"Tau tuh, Cak. Kita saja mana pernah dapat kembang begitu," ucap Bart dengan wajah iri.


"Kita? Lo saja kali, Ndro," jawab Chandika dengan mengerutkan dahi.


"Sialan lo!" umpat Bart tidak terima.


Tanpa memperdulikan keributan Bart dan Caka yang tidak penting, Chandika langsung melangkah ke luar kelas dengan membawa bouquet bunga. Dia langsung pergi ke tong sampah untuk membuangnya.


"Chan," panggil Jane yang tiba-tiba datang dan sudah di samping pemuda mullet.


Chandika hanya mengangguk sekilas.


"Apa itu?" tanya Jane dengan mata yang berbinar menatap bunga yang hendak di buang Chandika. "Apa itu untuk aku?" sambungnya penuh harap.


"Untuk tong sampah," jawab Chandika datar dan langsung membuang bunga itu ke dalam tong sampah.


Seketika semua orang yang berada di koridor tertawa mengejek Jane karena gadis itu terlalu percaya diri.

__ADS_1


Jane langsung menunduk karena malu.


"Sabar ya, cayang Jane," kata Bart yang menghampiri Jane. "Chandika itu memang jahat. Jangan perdulikan dia, cayang sama aa Bart saja."


"Modus saja lo, dugong," ejek Caka yang menyusul.


"Cemburu bilang," balas Bart dengan tatapan sengit.


"Gue kantin dulu," kata Chandika langsung pergi.


Jane tidak menghiraukan Bart dan Caka, dia langsung mengejar Chandika untuk ke kantin bersama.


"Tunggu aku," kata Jane langsung menyelipkan tangannya ke lengan Chandika.


'Hais, rasanya pingin gue dorong nih cewek,' batin si pemuda mullet tidak suka dengan apa yang dilakukan Jane.


Tapi, dia hanya bisa bersabar.


Sesampainya di kantin, semua pandangan tertuju pada Chandika dan Jane yang datang bersama, apalagi tangan Jane yang bertengger manis di lengan si pemuda bermata onyx.


"Eh, lihat itu. Mereka jadian lagi?"


"Kalau di lihat-lihat mereka cocok banget."


"Cowok ganteng sudah pasti dengan yang cantik."


"Aku mah apa atuh, cuman kayak flat shoes, nggak punya hak atas Chandika."


"Gue mah apa atuh, minyak wangi saja pakai k*spray."


"Da aku mah apa atuh, pacar bukan, gebetan bukan, mantan bukan, ngarepin Chandika iya."


"Aku mah apa atuh, ibarat iklan di y**tube yang Chandika skip."


[One]


[Talkin' in my sleep at night, makin' myself crazy]


(Out of my mind, out of my mind)


[Wrote it down and read it out, hopin' it would save me]


(Too many times, too many times)


[My love]


[He makes me feel like nobody else, nobody else]


[But, my love]


[He doesn't love me, so I tell myself, I tell myself]


Lagu New Rules yang di populerkan Dua Lipa menjadi soundtrack yang semakin membuat hati para gadis patah menjadi dua.


"Ahelah, siapa sih yang nyetel lagu patah hati!?"


"Mang Bejo tuh!"


Mang Bejo yang sedang menyetel radio hanya bergidik ngeri melihat para perempuan yang menatapnya sinis. "Maaf atuh neng sekalian, mang Bejo nggak sengaja," kata mang Bejo penjaga main kafetaria.

__ADS_1


BRAK


PRANG


Seketika kantin menjadi sunyi dan tegang.


"Di mana Cherika sekarang, Bangs**!?" seru putra ke dua keluarga Lazuardy menatap nyalang Chandika.


Chandika yang tadi sedang makan dengan tenang tiba-tiba saja dikagetkan dengan Ben yang menendang meja hingga terbalik, mengakibatkan makanan yang dia santap tumpah.


"Apa-apa lo, Ben!" bentak Jane, menghalangi Ben yang ingin memukul Chandika.


"Minggir lo, ******!" seru Ben pada sang mantan, dia langsung mendorong Jane hingga tersungkur agar menyingkir.


"Sopan lo udah ganggu gue makan?" tanya Chandika dengan tatapan tajam.


"Belum saja gue mampusin," kata Ben yang tidak kalah menatap tajam.


"Kalau bisa," ucap Chandika menatap remeh.


Ben yang melihat Chandika yang memandang remeh padanya langsung mengepalkan tangan. "Gue tanya sekali lagi, di mana Cherika?"


"Apa urusan lo?" Chandika heran kenapa Ben menanyakan dirinya yang dulu.


"Gue tahu jika dia tertembak karena menolong sampah kayak lo," kata Ben yang membuat Chandika mengeryit. Pasalnya itu adalah sebuah rahasia, hanya orang-orang terdekat yang tahu, sejak kapan Cherika dekat dengan Ben.


"Dari mana lo tahu?" tanya Chandika menatap menyelidik.


"Nggak sulit untuk gue tahu tentang cewek yang gue cintai," jawab Ben dengan serius.


'Wtf'


"Lo sama Cherika?" tanya Chandika dengan tatapan horor.


"Masalah buat lo? Lo bukannya sudah ingin bertunangan dengan Jane? Jadi, lo sudah nggak ada hak untuk mengikat Cherika, berikan dia bersama gue," kata Ben yang semakin membuat Chandika kaget.


'Hal gila macam apa lagi ini,' gumam Chandika dalam hati.


"Gue memang tidak pernah berpacaran dengan Cherika," kata Chandika jujur. "Tapi, mungkin hanya dalam mimpi lo bisa mendapatkan Cherika," lanjutnya dengan pongah.


Oh ayolah. Cherika adalah tubuh asli miliknya, mana sudi dia bersama dengan Ben yang seorang tempramental. Yang dia sukai adalah seorang laki-laki yang imut dan lucu seperti Chandika asli.


Tapi, sayang dia bertepuk sebelah tangan.


"Bangs**!" umpat Blangsung langsung  melayangkan tinju ke wajah Chandika. Tapi, Chandika menghindar dengan mudahnya.


"Danny!" seru Chandika tiba-tiba dan membuat Ben membeku ketakutan.


Hari ini dia terlalu malas untuk baku hantam.


Semua orang yang menonton seketika menyingkir saat pemuda berkacamata berjalan menghampiri Chandika. "Ya, tuan muda," kata Danny menunduk.


"Urus dia!" perintah Chandika.


"Si-sialan, maju lo Chandika, lawan gue!" seru Ben yang melihat Chandika  sudah pergi dan meninggalkannya dengan Danny.


"Mau apa?" tanya Danny yang membuat Ben bergetar ketakutan. Dia cukup trauma dengan keberingasan pemuda berambut cokelat terang itu.


"Sepertinya ada yang tertinggal," katanya cepat dan langsung ngacir.

__ADS_1


"Heh, bocah pengecut," ucap Danny tersenyum miring.


_To Be Continued_


__ADS_2