Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Threat To Jane


__ADS_3

Suasana kantin BSJ sudah ramai karena bel istirahat sudah sejak tadi berbunyi.


"Eh, Jolie. Makeup lo nggak ketebalan apa? Udah kayak tante saja," celetuk Izzy yang melihat Jolie memoles bedak di wajah.


"Stop bilang makeup gue kayak tante-tante. Target pasar gue emang bapak-bapak," kata Jolie masih memoles wajahnya.


"Idih, cabe burik," ucap Thea memaki Jolie.


"Iri bilang bos," ujar Jolie dengan percaya diri.


Thea menatap jijik Jolie.


"Jane, tumben lo nggak nyamperin Chandika," ujar Izzy penasaran melihat Jane tengah sibuk bermain headphone, biasanya ketika istirahat gadis blaster itu akan segera berlari untuk menempeli si calon tunangan.


"Nggak, gue lagi ngambek sama Chan," kata Jane dengan wajah yang ditekuk.


"Loh, ngambek kenapa, beb?" tanya Jolie yang sudah mengakhiri acara poles memolesnya.


"Sejak kemarin dia nggak ngasih kabar sedikitpun sama gue," jelas Jane dengan wajah kesal.


"Loh kenapa?" tanya Thea.


"Dia pergi ke Singapura untuk berduaan dengan gadis lain," lanjut si gadis blaster. "Padahal gue sudah datang ke rumahnya untuk mengajak kencang."


"Ya ampun, gue nggak nyangka Chandika gitu," celetuk Izzy menutup mulutnya shock.


"Lo memang penyuka binatang ya? Sudah tahu buaya, masih saja disayang," kata Thea yang semakin mengeruhkan suasana.


Jolie langsung menginjak kaki Thea yang berada di bawah meja.


"Aduh!" pekik Thea yang hanya mendapatkan delikan dari Jolie dan Izzy.


Wajah Jane semakin di tekuk, "Chan bukan buaya, pasti cewek itu yang kecentilan menggodanya."


"Nah, lo harus kasih pelajaran untuk cewek itu," kata Izzy mengompori.


"Ya, lo betul," jawab Jane dengan meremas headphone yang masih di genggamannya. Dia memang harus mencari tahu tentang Cherika dan memberi gadis itu pelajaran, persetan dengan peringatan Danny.


Namun, Jane tidak menyadari jika pemuda berkacamata sejak tadi memperhatikannya dengan sorot yang tajam.


"Jane, itu Chandika datang," seru Jolie menunjuk dua orang pemuda yang baru saja datang ke area kantin.


Dengan refleks Jane mendongak untuk menatap calon tunangan, seakan melupakan rasa ngambeknya gadis itu langsung berjalan ke arah Chandika.


"Lah katanya ngambek," ucap Thea yang melihat Jane menghampiri Chandika yang sedang bersama Alvis.

__ADS_1


"Makannya lo jatuh cinta, maka lo akan merasakan rasanya menjadi orang bodoh," kata Jolie dengan menyeruput strawberry juice miliknya.


Thea hanya mengangkat bahu tidak berminat. "Betewe, lo udah dapet sugar daddy?" tanyanya pada Jolie membuka obrolan lain.


"Chan~" seru Jane langsung bergelayut manja, dia mendorong Alvis yang berjalan di sebelah Chandika.


"Hmm," Chandika hanya bergumam, dia kira Jane akan marah padanya, dia paham jika perempuan sangatlah sensitif.


"Kangen," kata Jane dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ck, minggir lo!" seru Alvis melepas pelukan manja Jane pada lengan Chandika.


"Ish, apa sih lo!" pekik Jane tidak terima atas perlakuan kasar Alvis yang menyingkirkan dari Chandika.


"Lo yang apa! Datang-datang dorong gue!" sentak Alvis dengan kesal.


"Virus kayak lo memang harus dijauhkan dari Chan," kata Jane yang membuat Alvis semakin terbakar api amarah.


Sudah ke dua kalinya Alvis di bilang virus, dia tidak terima itu.


Melihat perubahan ekspresi Alvis, Chandika langsung memegang bahu si pemuda bayi, tidak mungkin dia membiarkan Alvis menonjok muka mulus si gadis blaster. Alvis memang tidak memandang bulu.


"Sudahlah, kalian ribut mulu, lama-lama gue nikahin juga," kata Chandika dengan tanpa ekspresi.


"OGAH!"


"OGAH!"


"NGAPAIN LO IKUT-IKUTAN?"


"NGAPAIN LO IKUT-IKUTAN?"


Alvis dan Jane melotot semakin kesal karena perkataan mereka selalu sama.


Chandika memutar bola matanya malas.


"Anak-anak monyet lagi pada berantem," celetuk Ben yang tiba-tiba saja nimbrung.


Kedua sejoli yang sejak tadi beradu mulut seketika menatap Ben emosi.


"Anjin*, ngapain lo setan?" Jane menatap geram Ben dengan kedua tangan di pinggang, menantang.


"Dulu dipanggil sayang, sekarang guguk-gugukan," kata Ben menatap Jane remeh.


"Ternyata benar mantan itu singkatan dari manis tapi setan," bisik Alvis pada Chandika.

__ADS_1


Chandika terkekeh pelan karena perkataan konyol si pemuda bayi, tapi hanya sebentar karena dia langsung berwajah datar kembali.


"Karena lo mengingatkan gue pada receh gopekan. Bermuka dua dan nggak terlalu berharga," ucap Jane membalas perkataan Ben.


"Dulu katanya nggak bisa hidup tanpa gue, kok sekarang masih hidup?" tanya Ben yang membuat muka Jane memerah antara malu dan marah.


Jane malu karena dulu sudah mengejar-ngejar Ben sampai mengabaikan Chandika, dia sangat menyesal. Dia dulu memang pernah berkata tidak bisa hidup tanpa Ben pada pemuda itu. "Mantan itu seperti mendelete file atau data, lo adalah sesuatu yang sudah gue hapus dari hidup gue," kata Jane menatap tepat pada mata cokelat Ben.


Pemuda curly itu tertawa mengejek, "Itu berlaku pada cowok yang sekarang menjadi calon tunangan lo dong? Dia kan mantan lo juga," kata Ben menatap Chandika dengan tatapan meledek.


Jane mematung seketika, dia lupa akan kenyataan itu, kenapa pula dia gampang sekali terbawa emosi, pasti Ben sengaja memancingnya untuk menyakiti perasaan Chandika.


"Ya, benar. Sesuatu yang sudah pecah tidak akan bisa kembali utuh lagi," ucap Chandika dengan dingin yang membuat Jane ingin menangis.


"Tidak, Chan. Tidak seperti itu maksud aku," ujar Jane mendekati Chandika. Namun, Chandika langsung pergi meninggalkannya.


"Lo terdengar lebih merdu ketika mulut lo tertutup," kata Alvis pada Jane sarkastik, dia langsung mengikuti Chandika yang pergi.


Jane merutuki dirinya sendiri.


"Ternyata lo masih berguna untuk menghancurkan hati Chandika," ucap Ben yang membuat Jane mengepalkan kedua tangannya.


"Bajinga*, lo sengaja kan!?" maki Jane pada Ben yang malah semakin tertawa.


"Benar-benar gadis yang bodoh," kata Ben mendorong dahi Jane dengan telunjuknya. "Makannya otak itu di pakai. Jangan memakai otak lo untuk pelajaran sekolah saja."


PLAK


Jane memukul tangan Ben yang kurang ajar itu. "Jangan sentuh gue!" seru Jane menatap sengit.


"Jangan sok jual mahal, dulu lo bahkan sudah membuka kedua kaki lo untuk gue," bisik Ben tepat di telinga Jane. "Gue ingin melihat reaksi Chandika ketika tahu lo sudah tidak suci lagi."


Seketika Jane merasakan ada bongkahan batu yang menimpanya, dia takut akan kenyataan itu. Dia memang sudah menyerahkan mahkota berharganya untuk pemuda bejat di hadapannya. Saat itu dia terlalu dibutakan oleh cinta, dia rela melakukan segalanya untuk Ben.


"Jangan beri tahu Chandika," ucap gadis blaster dengan wajah pias.


"Kalau gue mau kasih tahu dia, gimana dong??"


"Gue mohon jangan," kata Jane memohon dengan wajah yang memucat.


"Gue nggak akan kasih tahu Chandika.."


"..asal lo harus turuti semua yang gue bilang."


'Aku hanya tidak ingin menjadi boneka siapapun, tapi pada akhirnya memang itulah takdirku.'

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2