Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Engagement Day


__ADS_3

Hari pertunangan Chandika dan Jane.


Dekorasi gedung dengan warna emas dan putih identik dengan kemewahan dan lambang kesucian dan sakral. Latar backdrop berwarna putih dengan furniture dan hiasan yang berwarna emas. Beberapa jenis bunga mawar putih, melati, dahlia putih, camelia, hingga baby’s breath menghiasi dengan sangat indah. Aula pesta pertunangan terlihat mewah dan elegan.


Tamu undangan semua dari kalangan pembisnis, artis terkenal, pejabat pemerintah, dan orang penting lainnya.


"Selamat ya, Jane. Akhirnya lo bertunangan juga dengan Chandika," ucap Jolie yang menggunakan long dress tosca.


"Terima kasih, Jolie. Karena lo sudah mendukung gue untuk tidak menyerah pada Chan," kata Jane memeluk Jolie.


Jane sangatlah cantik hari ini, dia bagai ratu Nefertiti. Gadis itu mengenakan long dress putih dengan manik-manik emas dan mutiara, rambut burgundy miliknya di keriting sosis dengan paduan gaya kepang half updo.


"Gue ucapkan happy engagement untuk pasangan paling sempurna di dunia," kata Izzy tersenyum manis, gadis itu menggunakan long dress dengan aksen pendek selutut di depan yang semakin panjang ke belakang.


"Gue sangat bersyukur karena lo kini sudah mendapatkan pasangan yang lo idamkan", ujar Thea yang berani tampil daring dan bold dengan one piece dress.


"Thanks untuk sahabat-sahabat gue," ucap Jane dengan haru, memeluk Izzy dan Thea. 


"Kami persilahkan kepada keluarga Aldebaron untuk dapat memasuki ruang acara dan menempati tempat duduk yang telah disediakan," ujar seorang MC perempuan membuka prosesi pertunangan.


Chandika datang bersama kakek Albert, papi Jauzan, dan mami Aminta.


Chandika berjalan dengan wajah datarnya. Dia menggunakan setelan Charcoal Grey Striped Wool & Silk Peak Lapel Suit dari brand terkenal, gaya rambut hitam gondrongnya tertata rapih.


"Calon lo makin mempesona saja," goda Jolie pada Jane yang sudah tersipu.


"Gue nggak pernah menyangka sepupu gue yang hebat ini akan segera melangsungkan pernikahan bersama orang yang tepat dan baik. Selamat bertunangan sepupu, kalian pasangan hebat!" seru Alvis yang menghampiri Chandika, pemuda babyface itu tersenyum mengejek.


Mata hitam Chandika memicing tidak suka pada Alvis yang bermaksud menyindirnya. "Sindir saja terus," jawab Chandika kesal.


Alvis hanya terkekeh.


"Bang Alvis, jangan kayak gitu. Bang Chan kan memang mencintai kakak Jane," kata Alice, adik perempuan Alvis dengan polos.


"Ya, si bodoh ini memang mencintai gadis jelek itu," ucap Alvis semakin terkekeh.


'Sialan Alvis, pengin gue bogem lama-lama,' batin Chandika menatap tajam pemuda bayi.


"Huaaaa sedih banget gue, padahal gue sudah mengincar Jane sejak awal masuk sekolah," ujar Bart dengan wajah putus asa.


"Ngaca dulu bos, muka macam sampah masyarakat kayak lo bukan tipe Jane," celetuk Caka meledek Bart dengan sarkasme.


"Bangs*t lo, Cak," ketus Bart.


"Ihh, jangan ngomong kasar bisa kali," kata Alice memarahi Bart, gadis itu terlihat feminim dengan ruffled dress dengan kombinasi tulle berwarna pastel.


Seketika Bart melihat Alice seperti uang yang berjatuhan dari atas langit. "Oh astaga, siapa gadis cantik ini?" tanyanya heboh. Sepertiya dia akan segera move on dari Jane.


"Adik gue. Kenapa?" tukas Alvis dengan tatapan menusuk pada Bart.

__ADS_1


"Boleh juga adik lo, bro," kata Bart tanpa takut. "Boleh dong gue jadi adik ipar lo," lanjutnya berkedip genit pada Alice.


Seketika Alice bergidik ngeri, gadis itu langsung bersembunyi dibalik punggung sang kakak.


"Kok ngumpet sih, memangnya aa Bart nakutin ya," ucap Bart masih mencoba menggoda Alice.


"Jauh-jauh dari adik gue," ujar Alvis memperingati Bart dengan tatapan membunuh, dia sangatlah posesif pada Alice.


"Aih, jangan gitu kenapa, bro. Gue kan cuman pengen kenalan sama adik cantik lo itu," kilah Bart takut melihat perubahan ekspresi Alvis yang menyeramkan.


"Sekali lagi lo ngeliatin Alice, gue congkel mata lo," ancam Alvis.


"Galak banget si jadi calon kakak ipar," ucap Bart dengan berat hati mengalihkan tatapannya dari Alice.


"Jangan macem-macem lo, Bart. Jangan berani-beraninya lawan Alvis," kata Caka mengingatkan Bart.


"Yang bilang berani siapa?" ketus Bart. Ya, dia mana berani dengan Alvis, meskipun Alvis sering bercanda dengannya, tapi dia tahu ada sisi lain dari diri Alvis yang sangat menakutkan.


"Ck, berisik banget. Berasa yang punya acara ya?" tukas Chandika dengan datar.


"Aduh, ampun bosque," kata Bart bertingkah seakan menyesal. Padahal tidak sama sekali.


Caka yang melihat Bart hanya geleng-geleng kepala.


Suasana hall pesta yang tadinya riuh, kini menjadi hening ketika kakek Aldebaron menaiki panggung podium untuk memulai acara pertunangan.


"Untuk mempersingkat waktu marilah kita buka bersama sesi acara lamaran kali ini. Saya selaku kakek dari pihak pria akan mengajukan lamaran untuk Jane Eyre, putri dari Ridwan Moch dan Emily Vinsen."


"Yang selanjutnya acara utama yakni acara seserahan atau tukar cincin. Kepada cucu saya Chandika Leofic Aldebalon bersama saudari Jane Eyre. Mohon untuk mepersipkan diri, serta mohon untuk saling berhadapan."


Chandika dan Jane segera menaiki panggung podium dan saling berhadapan. Jantung Jane seakan ingin meloncat dari tempatnya, dia sangatlah gugup dan merasa bahagian secara bersamaan.


Seseorang menyerahkan sebuah cincin berlian pada Chandika.


"Terima kasih, Chan. Kamu telah mengizinkan aku untuk berada di sisimu," kata Jane tersenyum manis ketika Chandika ingin menyematkan cincin pada jari manis tangan sebelah kiri miliknya.


Chandika hanya diam saja, tidak perduli dengan perkataan si gadis blaster. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan acara pertunangan ini.


Namun.


SPLASH


Tiba-tiba saja hall pesta menjadi gelap, semua lampu mati.


"Kyaaaaa!"


"Mati lampu!"


"Bagaimana bisa tiba-tiba seperti ini?"

__ADS_1


"Chan, aku takut," kata Jane langsung memeluk Chandika yang di hadapannya, melupakan cincin yang gagal disematkan di jarinya.


Keadaan menjadi ricuh.


DOR


DOR


Suara tembakan semakin mengagetkan semua orang. Dan semuanya berteriak kalang kabut untuk segera mencari perlindungan.


"AAAAAAA!"


Chandika langsung menarik tangan Jane untuk segera berlindung.


DOR


DOR


Chandika membawa Jane ke balik meja untuk berlindung dari tembakan yang membabi buta. Dia khawatir dengan keadaan keluarga dan teman-temannya.


DOR


"Ugh..."


Seseorang tertembak dan terjatuh di sebelah mereka. Jane menutup mulut takut, air mata sudah membasahi pipinya.


"Jane, berlindung di sini, jangan kemana-mana," perintah Chandika pada Jane yang menatapnya terkejut.


"Kamu mau kemana, Chan? Jangan tinggalkan aku," kata Jane menggenggam lengan Chandika kuat.


"Gue harus menyelamatkan keluarga dan teman-teman."


"Tidak, aku takut sendirian," ucap Jane menolak.


"Lo sudah aman di sini, tunggulah sebentar, jangan kemana-mana," kata Chandika final dan langsung melepas cengraman tangan Jane di lengannya.


Jane langsung berjongkok memeluk dirinya sendiri, dia hanya bisa menuruti perkataan Chandika.


Chandika langsung mengendap di dalam kegelapan, dia mencari keluarga dan teman-temannya.


DOR


DOR


Suara tembakan masih saja terdengar, dia melihat beberapa orang sudah tumbang karena tertembak.


Mata hitam kelamnya melihat ke pintu keluar hall pesta, seorang pemuda tengah menatapnya tajam.


"Ludhe?"

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2