
"Oh my my my, oh my my my."
"I've waited all my life."
"Ne jeonbureul hamkkehago sipeo."
"Oh my my my, oh my my my."
"Looking for something right."
"Ije jogeumeun na algesseo."
Gumam Cherika bernyanyi dengan tangan yang masih bergerak di atas buku tulis. Dia sedang mengerjakan PR matematika sambil tengkurap di kasur single size miliknya.
Cklek
Bunyi pintu kamar yang terbuka mengalihkan atensi gadis berponi itu, dia melihat Malvin melongok dari balik pintu.
"..."
"..."
Ke dua kakak beradik itu terdiam saling tatap.
"Apa sih, bang?" tanya Cherika ketus.
"..."
Malvin diam saja dan langsung berbalik pergi tanpa menutup pintu kamarnya lagi.
Cherika gondok melihatnya.
"Tutup lagi sih pintunya!" seru gadis itu kesal.
Kakak laki-lakinya itu memang mempunyai kebiasaan yang tidak jelas, tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya untuk sekedar melihatnya. Dan setelah itu langsung pergi tanpa menutup pintu kembali.
"Ganggu saja sih," gerutu Cherika bangkit untuk kembali menutup pintu.
Namun, Nathan tiba-tiba saja datang dan mengagetkannya. "Oh astaga," tukas Cherika memegang dadanya yang hampir copot.
Nathan hanya nyengir kuda."Motor siapa tuh di depan? Kayak kenal," tanya Nathan yang baru pulang kuliah itu.
"Motor Cheri," jawab Cherika yang sudah menormalkan kekagetannya. "Ngagetin tahu nggak, tiba-tiba datang kayak setan."
"Yang penting gue bukan dia yang tiba-tiba datang dan setelah itu hilang tanpa penjelasan," ujar Nathan malah curhat.
"Habis di Ghosting siapa lo, bang?" tanya Aland yang tahu-tahu nimbrung.
"Ada cewek," jawab Nathan cuek. Seperti sudah menjadi hal biasa baginya.
"Andai lo good looking, pasti cewek itu fast respon ke lo," celetuk Aland.
"Ini kenyataan atau puyer sih? Kok pahit bangat," kata Nathan meratapi nasibnya.
"Cewek itu lebih suka yang tulus, tampang nomer sekian," kata Cherika mencoba menghibur Nathan.
"Serius lo, Cher?" kilah Nathan berharap jika perkataan adik perempuannya benar.
"Cherika lo percaya bang. Ludhe yang sudah tulus mencintai Cherika saja di tolak. Cherika lebih memilih Chandika yang lebih ganteng dan kaya. Lihat saja, dua motor di depan itu pemberian dari Chandika. Cewek itu cuman luluh sama tampang dan duit," kata Aland realistis.
"Sialan lo, bang Al," maki Cherika marah. "Gue nggak gitu. Lagi pula Chandika juga tulus mencintai gue kok, jadi kita saling mencintai."
Cherika langsung mengatupkan mulutnya, dia keceplosan.
__ADS_1
"Wow, jadi benar kalian saling mencintai," heboh Aland.
"Nah kan, ngaku juga," tambah Nathan ikut heboh.
"Wahh Cherika bakalan nikah muda nih," kata Aland berniat menggoda sang adik.
"Brisik ih."
BRAK
Cherika langsung menutup pintu kamarnya kasar, dia sangat malu saat ini. Pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus siap santap.
Dia mendengar cekikikan ke dua abangnya dari balik pintu.
"Nyebelin," gerutu Cherika menghentakkan kakinya.
Drett
Drett
Cherika langsung menyambar ponsel miliknya di atas kasur. Seketika rasa kesalnya hilang karena melihat siapa yang tengah menghubunginya.
"Ya, Dika?"
**
Chandika sedang bersender di depan kap mobilnya. Kini dia sedang di depan pintu gerbang rumah minimalis tempat gadis tercintanya tinggal.
Pintu gerbang terbuka dan menampakkan gadis mungil berponi dengan sweater oversize cokelat.
"Kenapa kamu ke sini? Katanya sedang sibu—"
Cherika tidak melanjutkan perkataannya karena tercekat melihat pipi Chandika memerah seperti habis ditampar.
"Ah, tidak kenapa-kenapa," jawab Chandika tersenyum manis. Dia menatap Cherika dengan binar kerinduan, mana tahan dia untuk tidak bertemu dengan gadis itu.
"Coba menunduk," kata Cherika yang sudah berdiri tepat di depan Chandika.
Tanpa banyak bertanya Chandika langsung saja menurut untuk menunduk, Cherika memang hanya setinggi dadanya.
Cherika langsung mengelus pipi si pemuda dengan sayang. "Apanya yang tidak kenapa-kenapa, sampai ada bekas telapak tangan begini," lirih Cherika.
Chandika hanya diam, justru menikmati elusan lembut Cherika.
"Siapa yang menamparmu? Biar aku beri pelajaran," tukas Cherika. "Kamu tidak menangis kan saat ditampar?"
"Mami sudah memberi balasan kok, aku juga tidak menangis," jawab Chandika dengan mengelus surai hitam Cherika.
"Mami Aminta? Memang siapa yang menamparmu? Dan bagaimana ceritanya kamu bisa ditampar?" tanya Cherika dengan berbondong.
"Sebelum aku ceritakan cium dulu dong," ujar Chandika mendekatkan wajahnya pada si gadis.
"A-apa?"
"Ayo cium aku," kata Chandika tidak sabaran dan sudah menutup kedua matanya.
Cherika menelan ludahnya dengan susah payah.
"Cepat, sayang," ucap Chandika mengalun merdu di telinganya.
Cup
Cherika mencium pipi Chandika yang terkena tamparan.
__ADS_1
"Lagi."
Cup
Dia mencium pipi sebelahnya.
"Lagi."
Cup
Ciuman mendarat di jidat paripurna si pemuda.
"Lagi."
Cherika jadi gemas sendiri, bukannya memberi ciuman dia memberikan gigitan di hidung mancung Chandika.
"Ouch," rintih Chandika seketika membuka matanya. "Gadis nakal, kenapa menggigit hidungku?"
"Salahmu yang serakah," kata Cherika tertawa kecil.
"Bagian manakah yang serakah? Aku hanya minta cium pada kekasihku sendiri," ucap Chandika yang membuat Cherika merona.
"Ke-kekasih? Pa-pacar maksudnya?" tanya Cherika gagap karena rasa gugup.
"Ya," jawab Chandika mantap.
"Kamu saja tidak menembak aku, bagaimana caranya aku bisa menjadi pacarmu?" kilah Cherika cemberut.
"Menembak? Aku bahkan sudah meminta kamu untuk menikah denganku, apakah menembak lebih penting dari lamaran?" tanya Chandika bingung.
"Tentu saja penting," kata Cherika dengan cepat.
Chandika seketika tercengang, apakah dia sudah salah selama ini?
Pemuda itu melihat arloji di pergelangan tangannya, masih pukul 8 malam.
"Sebentar," kata Chandika yang mengambil ponsel di saku celananya dan berjalan menjauh dari Cherika. Dia sedang menghubungi seseorang.
Cherika bingung melihat tingkah Chandika. Siapa yang sedang pemuda itu hubungi? Apakah Jane?
Oh, sepertinya si gadis tomboy itu sedang cemburu.
Sekitar 10 menit Chandika menelepon, dan itu sangat membuat Cherika kesal. Moodnya seketika menurun drastis.
"Maaf membuatmu menunggu, sayang," kata Chandika yang sudah kembali di hadapan Cherika.
Cherika hanya diam saja, gadis itu sedang marah. Wajah manisnya cemberut.
"Oh ayolah jangan memasang wajah imut seperti itu, aku jadi ingin mengigit," ucap Chandika yang sama sekali tidak peka akan kecemburuan tanpa dasar si gadis mungil.
"Apakah kamu habis menghubungi Jane?" tanya Cherika dengan nada ketus.
"Bukan kok," jawab Chandika cepat.
"Terus siapa? Kenapa menjauh dariku? Apa ada yang kamu tutupi?" tanya Cherika semakin ngawur.
"Sebaiknya kamu ikut denganku sekarang," kata Chandika segera menarik tangan Cherika untuk menuntunnya masuk ke dalam mobil.
"Mau kemana sih?" tanya Cherika dengan nada yang masih kesal, tapi dia tidak menolak ajakan si pemuda.
"Ke suatu tempat," jawab Chandika cepat. "Sudah ikut saja, sayang."
Cherika diam tidak bertanya lagi meskipun masih penasaran.
__ADS_1
_To Be Continued_