
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Cherika," kata Chandika pada sang kekasih yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak usah alibi, sudah jelas lo ingin mencium Jane," celetuk Ben bagai menabur garam di luka yang masih basah.
"Mana ada mencium!" bantah Chandika.
"Lo kira kita buta?" tukas Ben.
"Jangan berasumsi seenaknya," ucap Chandika menatap Ben tajam.
"Cukup!" seru Cherika berniat menghentikan adu mulut si ke dua pemuda.
Cherika melangkah mendekat pada si pemuda mullet. Chandika sudah mempersiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan pukulan yang mungkin akan diberikan Cherika. Pasti gadisnya itu sudah salah paham padanya, lihat saja air mata di pelupuk mata si gadis yang sudah tidak bisa dibendung.
Si gadis belo langsung mengambil sesuatu dari waist bag miliknya. Lalu dia meraih ke dua tangan Chandika untuk dibersihkan dengan tisu basah dan menyemprotkan sanitizer pada si pemuda. Seakan membersihkan Chandika dari kuman-kuman yang menempel.
Chandika hanya diam saja menerima apa yang gadisnya lakukan.
Setelah itu Cherika langsung memeluk badan tegak Chandika. "Hiks... Jangan selingkuh. Lupakan saja perkataan Cheri semalam, tidak apa-apa jika Dika bodoh, Cheri tetap mau menikah. Dika jangan menikah dengan Jane.. " isak Cherika.
Chandika dan Ben melongo seketika. Kenapa reaksi Cherika sangat berbeda dengan yang mereka pikirkan?
Si pemuda mullet menggigit pipi bagian dalamnya menahan gemas. Kekasihnya begitu menggemaskan sekali. Padahal dia sudah ketakutan duluan. Eh, justru Cherika merengek seperti anak kecil yang kehilangan permen.
"Sudah jangan menangis, sayang. Aku tidak selingkuh dengan Jane. Bagaimana bisa aku melirik perempuan lain sedangkan aku sudah menjatuhkan hatiku padamu seutuhnya," kata Chandika membalas pelukan Cherika.
"Pokoknya jangan pernah selingkuh," cicit Cherika.
"Yes, baby."
Ben mengeraskan wajah karena sepasang kekasih itu seakan melupakan keberadaan dirinya. Apakah dia hanya dianggap mahkluk halus di sini?
"Ayo pergi dari sini. Dika jangan dekat-dekat dengan Jane lagi," ujar Cherika yang sudah mengurai pelukannya.
Chandika mengangguk dan tersenyum kecil.
"Karena menangis aku jadi haus," kata Cherika tiba-tiba. Mata coklatnya menatap gelas yang berisikan cairan pekat berwarna hitam.
"Apakah itu sirup?" tanya Cherika yang meraih gelas wine milik Chandika.
Sebelum Chandika mencegahnya gadis itu sudah meminum habis wine berkualitas terbaik itu. Meskipun wine itu tidak di masukan obat tidur, tapi kadar alkoholnya sangatlah banyak.
"Pahit sekali, apa.. ini? ..hik," kata Cherika dengan cegukan. Wajahnya memerah seketika, sepertinya gadis itu sudah mabuk.
Chandika langsung menangkap tubuh Cherika yang terhuyung ke depan. "Kenapa kamu minum itu?" tukas Chandika dengan khawatir.
__ADS_1
"Hik.. hai cowok ganteng, hehehe," gumam Cherika yang melihat Chandika dengan tatapan sayu.
Si putra tunggal Aldebaron itu segera menggendong Cherika bridal style.
"Hehhe aku terbang..."
Chandika menghiraukan Cherika yang berbicara meracau.
"Mau ke mana lo?" cegah Ben saat Chandika ingin pergi dari tempat itu.
"Bukan urusanmu," jawab Chandika.
"Serahkan Cherika pada gue, biar gue yang mengantarnya pulang. Lagi pula gue yang datang bersamanya," kata Ben ingin mengambil alih Cherika dari gendongan Chandika.
Chandika segera mengeratkan gendongannya, mana sudi dia memberikan gadisnya pada maniak seperti Ben. "Urus saja Jane, bukannya dia sedang mengandung anakmu."
Ben terkejut karena Chandika sudah mengetahui fakta itu. Dia pikir Chandika terlalu bodoh untuk mengetahuinya.
"Aku bukanlah Chandika yang idiot seperti dulu. Jangan kamu mengusik kehidupanku lagi, atau aku akan membuat hidupmu hancur seketika," ancam Chandika dengan tatapan dingin.
Si pemuda curly hanya bisa mengepalkan tangannya untuk menahan amarah, entah kenapa dia menjadi mati kutu karena ancaman yang dilontarkan Chandika. Dirinya yang sekarang memang bukan apa-apa dibandingkan dengan si pewaris tunggal pengusaha raksasa itu.
Chandika segera berlalu meninggalkan Ben.
Ben mendekati Jane yang masih tertidur pulas. "Dasar wanita tidak berguna," desis Ben.
"Hik... Kepalaku pusing sekali, kenapa banyak kunang-kunang?" Cherika masih meracau saat dirinya sudah berada di dalam mobil.
Chandika yang sudah duduk di jok pengemudi langsung memasangkan safety belt pada Cherika. Keamanan gadisnya itu adanya hal yang terpenting.
Ketika dia ingin menjauhkan badannya tiba-tiba saja Cherika memegang kedua pipinya dan langsung mencium mulutnya.
Pemuda mullet itu kaget.
Kedua mata onyx yang masih terbuka menatap kelopak mata si gadis yang tertutup sempurna. Dia merasakan napas teratur dari Cherika yang masih menciumnya.
Chandika pun melepas tautan mereka dengan sedikit tidak rela. "Tidur saja masih sempat-sempatnya mencuri ciuman," katanya dengan terkekeh.
Pemuda itu langsung menjalankan mobilnya, menembus jalanan yang masih terlihat padat meskipun sekarang adalah hari Minggu.
"Galen," ucap Chandika setelah memasang fitur handsfree untuk melakukan panggilan telepon.
[Ya.]
"Aku sudah berhasil melakukannya."
__ADS_1
[Bagus. Apa lo mengalami kesulitan?]
"Sedikit," Jawab Chandika yang melirik Cherika yang masih terlelap dengan ekor matanya.
[Sedikit?]
"Kamu tidak perlu tahu."
[Hais, siapa juga yang ingin tahu.]
"Hmm."
[Gue lagi senggang hari ini, lo bisa membawa USB itu ke markas sekarang.]
Chandika diam sesaat. Sekarang dia sedang bersama Cherika. Apa tidak apa-apa jika membawa gadis itu juga?
"Baiklah, aku akan ke markas," ujar Chandika dan mengakhiri panggilan itu.
Sebaiknya memang dia harus membawa Cherika. Gadisnya saat ini sedang mabuk, tidak mungkin dia mengantarnya ke rumah, yang ada dia bisa langsung dikebiri oleh para kakak laki-laki Cherika. Dia akan di tuduh sudah berbuat macam-macam, kalau begitu caranya dia bisa gagal mendapatkan restu.
Mana mau Chandika mengambil resiko itu.
Chandika segera mengarahkan laju mobilnya ke markas geng Bruiser.
Setelah 20 menit kemudian, mobil Lamborghini Veneno itu sudah sampai didepan bangunan bergaya industrial. Chandika segera memarkirkan mobilnya.
Tiba-tiba saja dia merasakan pahanya geli sampai membuatnya merinding. Dia menatap tangan kecil Cherika sedang mengelus-elus pahanya yang terlapisi plain pants hitam.
"Cherika," Chandika mengeram pelan. Dia langsung memegang tangan Cherika yang lama-lama naik ke atas itu.
"Dika, kenapa kamu menahan tanganku?" tanya Cherika dengan tatapan sayu.
"Hentikan, memangnya tanganmu ini mau pergi ke mana?"
"Lepaskan," ronta Cherika dengan mengerucutkan bibir.
Chandika menurut untuk melepas tangan kekasihnya itu.
"Sebaiknya kita turun," ujarnya setelah membuka kaitan safety belt Cherika.
Bukannya turun dari mobil, Cherika justru bangkit dari duduknya dan berpindah ke pangkuan Chandika. Dengan posisi yang menghadap Chandika dengan kedua kaki mengapit kedua sisi.
"Kenapa kamu malah pindah ke pangkuanku?" tanya Chandika dengan menahan napas. Bagian bawahnya menjadi sesak karena Cherika menempel erat padanya. Apalagi gadis itu menggunakan short jeans yang mempertontonkan paha mulusnya. Ingatkan dia jika harus melarang Cherika untuk tidak menggunakan celana kelewat pendek itu lagi!
"Dika.. cium aku," pinta Cherika dengan tatapan memohon.
__ADS_1
_To Be Continued_