Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : Save Yourself


__ADS_3

"Dasar pengganggu," sinis Siska.


Kemudian gadis itu pergi dengan menabrak bahu Ben.


Sepeninggal Siska Ben berjalan mendekati Cherika, "Hei, honey."


Cherika melotot saat Ben mengelus pipinya, dia menatap Ben tajam.


"Jangan menatapku seperti itu," kata Ben yang tangannya menjalar mengelus rambut Cherika yang berantakan dan mencoba merapikannya.


Cherika menggeleng-gelengkan kepala berniat menolak sentuhan Ben.


"Kenapa lo selalu menolak gue? Coba saja jika lo nggak menikah dengan Chandika, hidup lo nggak akan seperti ini," ucap Ben menatap sendu Cherika.


"Padahal gue begitu mencintai lo, Cherika," sambung Ben dengan berjongkok dan menatap dalam mata Cherika, tapi gadis itu melengos.


Ben menghembuskan napas berat, "Sekarang nikmatilah kehidupan lo selamanya di sini, jangan berharap jika lo akan kembali pada Chandika lagi."


"Hemmp!" Cherika ingin meneriaki Ben tapi tidak bisa.


Pemuda berkulit eksotis itu berbalik pergi dan meninggalkan Cherika.


Cklek.


Pintu tertutup kembali dan terkunci dengan rapat.


Cherika mencoba melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu badannya tapi dia tidak bisa. Bagaimana pun dia harus keluar dari sini dan kembali pada Chandika.


'Korek?' batin Cherika saat menemukan korek gas yang tergeletak di bawah kakinya. Korek yang tidak sengaja terjatuh dari saku celana Ben saat pemuda itu berjongkok.


Dengan segera dia menggoyangkan dirinya untuk menjatuhkan diri.


Bruk


Cherika terjatuh dengan dirinya yang masih terikat pada kursi. Dengan gerakan perlahan dia mencoba meraih korek gas dengan tangannya yang terikat.


Dan Cherika berhasil mendapatkan korek itu, dengan hati-hati dia menyalakan korek untuk membakar tali yang mengikat tangannya. Dia merasa sakit saat kulit tangannya terbakar oleh api, tapi sedikit demi sedikit ikatan tali pada tangannya mulai meleleh.


Setelah berjuang cukup lama akhirnya ikatan pada tangannya terlepas. Cherika segera melepas ikatan pada kakinya dan lakban yang membungkam mulutnya.


"Ugh," rintih Cherika saat berhasil melepaskan diri.


"Aku harus mencari jalan keluar," gumam Cherika mencoba mencari jalan untuk bisa keluar dari ruangan yang terkunci itu.


Saat menengok ke atas dia menemukan fentilasi udara yang tertutup, mungkin dia bisa lewat situ jika berhasil membukanya.

__ADS_1


Dengan bermodalkan kursi yang tadi dia duduki, Cherika mencoba membuka fentilasi itu. Begitu keras dan sangat susah untuk dibuka.


"Terbukalah.... Aku mohon," gumam Cherika.


Krak


Fentilasi itu berhasil terbuka setelah.


"Syukurlah."


Cherika segera memanjat untuk memasuki fentilasi itu. Dia merangkak di lorong yang begitu gelap, dia terus merangkak ke depan untuk menemukan ujungnya.


Saat sampai diujung Cherika mencoba membuka penghalang yang menutupi, dengan kekuatan terakhir dia menendang-nendang penghalang itu hingga berhasil terbuka.


Cherika berhasil keluar dari bangunan tua itu, dia mengedarkan pandangannya. Gelap dan hanya ada pepohonan yang rindang. Tempatnya disekap adalah bangunan tua di pinggir kota. Pantas saja Chandika tidak dapat menemukannya.


"Di sini lo rupanya, berani sekali kabur," kata Ben yang tiba-tiba saja datang.


Ben yang menyadari jika koreknya hilang langsung kembali ke ruangan di mana Cherika disekap, dan betapa terkejutnya saat dia tidak menemukan Cherika. Dia dan Siska segera mencari Cherika.


Dan dia menemukan Cherika dengan begitu mudahnya.


Cherika segera berlari tapi ada Siska yang menghadangnya, dengan masih berlari dia meninju muka Siska dengan begitu keras.


Bukh.


Cherika berhasil melewati Siska dan berlari memasuki hutan, dia semakin dalam memasuki hutan dengan Ben yang masih mengejarnya dari belakang.


"Berhenti, Cherika! Atau gue akan benar-benar membunuh lo!" teriak Ben dengan marah.


Cherika tidak perduli dengan keadaannya yang bertelanjang kaki dan menginjak tanah yang terdapat ranting-ranting pohon dan batu yang begitu tajam, telapak kakinya begitu sakit, mungkin sudah banyak luka di sana.


Gadis itu bersembunyi di balik pohon yang lumayan besar saat napasnya sudah tidak kuat lagi untuk berlari, dia melihat Ben yang masih mencarinya.


"Di mana lo bersembunyi?" desis Ben dengan mengeluarkan belati dari balik jaket. "Gue akan membunuh lo saat ini juga," lanjutnya dengan memotong rerumputan liar yang panjang.


Cherika berkeringat dingin saat melihat Ben hampir sampai di tempat persembunyiannya.


Grep


Sebuah tangan tiba-tiba saja membungkam mulutnya. Cherika terkejut saat tahu siapa siempunya tangan itu.


**


Danny menghentikan mobilnya di parkiran gedung apartemen tempat dia tinggal, di jok sebelahnya ada Jane yang tertidur.

__ADS_1


Pemuda itu habis menjemput Jane dari pekerjaan model gadis itu. Dia sempat melarang agar Jane menghentikan pekerjaannya itu, dia akan membiayai semua kebutuhan Jane, calon istrinya. Danny dan Jane memang sudah sepakat untuk menikah saat Jane sudah melahirkan.


Jadi tidak ada salahnya kan jika Jane tergantung padanya?


Namun, si gadis blaster menolak dan ingin melanjutkan pekerjaannya karena tidak mau terlalu merepotkan Danny.


Danny tahu jika Jane adalah perempuan yang sangat keras kepala, jadi dia membiarkan Jane untuk bekerja dengan catatan dialah yang akan mengantar jemput gadis itu. Meskipun pekerjaannya kian menumpuk karena sang tuan muda yang masih saja murung karena istrinya yang menghilang.


Pemuda bersurai cokelat terang itu segera keluar dari mobil Pajero Sport miliknya itu dan membuka pintu samping untuk menggendong Jane. Dia tidak mau membangunkan Jane karena gadis itu terlihat sangat kelelahan.


Dengan menggendong Jane bridal style Danny melangkah ke lift dan menuju lantai kamar apartemen miliknya dan Jane.


Ting


Tidak lama kemudian pintu lift terbuka. Saat melangkah keluar dia dikejutkan dengan seorang pemuda yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya.


Gionino Lazuardy.


Untuk apa Gionino datang? Apa pemuda itu ingin menemui Jane lagi?


"Selamat malam, Danny," sapa Gionino dengan sopan.


"Mau apa anda ke sini?" tanya Danny menatap tidak suka Gionino, "Apa anda ingin memaksa Jane?"


Gionino menatap Jane yang tertidur di gendongan Danny, dia menggeleng, "Saya ingin berbicara dengan anda."


Danny mengangkat alisnya heran, tapi dia penasaran dengan apa yang Gionino akan bicarakan, "Saya akan mengantar Jane dahulu."


Danny segera merogoh tas jinjing milik Jane dan mengambil kunci dari sana, dia segera membuka kunci apartemen gadis itu, dan membawa Jane masuk ke dalam. Lalu dia menidurkan Jane di ranjang, tidak lupa untuk menyelimuti gadis itu.


Kemudian Danny melangkah keluar untuk menemui Gionino.


"Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Danny saat sudah berada di hadapan Gionino.


"Ini tentang anak dari kakak perempuan anda," kata Gionino dengan ekspresi yang serius.


Danny tidak paham dengan maksud Gionino, anak dari kakak perempuannya sudah meninggal, kenapa juga Gionino membicarakan itu?


"Dia masih hidup."


Danny tercekat, "A-apa?"


"Ben. Dia keponakanmu."


"Lelucon apa yang kau katakan, ha!"

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2