
"Suasana krik krik, kayak nggak ada tanda-tanda kehidupan saja," celutuk Alvis saat semua orang sedang fokus mengerjakan soal ulangan. "Nasib orang ganteng ya begini. Baru sembuh dari sakit, ehh.. sudah mendapat hadiah soal yang menguras otak," gerutu Alvis mencak-mencak.
"Hais, berisik lo. Diliatin Pak Guru," bisik Chandika yang jengah mendengar ocehan pelan pemuda bayi.
Alvis hanya mengerucutkan bibirnya.
"Sttt, Cak," panggil Alvis menusuk punggung Caka yang duduk di depannya dengan bolpoin. "Nyontek dong."
"Cobalah tanya pada rumput yang bergoyang dan lo akan dianggap gila," jawab Caka berbisik dan menengok sekilas.
Alvis membeo mendengar jawaban Caka.
"Nyontek saja lo kerjanya," ucap Bart pelan yang duduk di samping Caka.
"Pendidikan adalah pintu kesuksesan. Mencontek adalah kuncinya," kata pemuda deep auburn dengan membusungkan dada.
"10 menit lagi ulangan dikumpulkan," kata pak guru membuat Alvis ketar-ketir.
Chandika langsung menggeser lembar jawabannya ke samping meja Alvis, dia memang sudah menyelesaikan soal sejak tadi.
"Dari tadi kek," gumam Alvis senang dan langsung segera menyalin jawaban milik Chandika dengan cepat. "Kan jadi makin sayang, eh," sambung Alvis langsung menutup mulutnya sendiri karena keceplosan.
".."
Alvis melirik Chandika yang sepertinya tidak mendengar gumamnya.
'Dasar mulut nggak bisa di rem,' maki Alvis dalam hati.
Namun, dugaan Alvis salah. Chandika hanya pura-pura tidak mendengar.
"Baiklah kumpulkan lembar jawaban kalian!" seru Pak Guru mengintruksi.
Kringggg
Semua murid bernapas lega saat mendengar bel istirahat, ulangan Matematika memang sungguh menguras otak hingga perut keroncongan.
"Sampai jumpa dipertemuan berikutnya," kata Pak Guru dan melangkah keluar kelas.
"Kantin, kuy," ajak Alvis menarik tangan Chandika.
"Gue akhir-akhir ini selalu bermimpi aneh," kata Chandika saat berjalan di koridor menuju kantin.
"Mimpi aneh gimana?" tanya Alvis heran.
"Bermimpi bersama sorang cowok yang nggak jelas rupanya dan gue menjadi seorang gadis yang bernama Ellisha," jelas Chandika, dia hanya bisa bercerita pada Alvis yang tahu tentang rahasianya.
"Maksud lo mimpi basah?" tanya Alvis ngasal. "Itu mah sudah biasa buat cowok."
"Bukan itu!" bantah Chandika dengan kesal.
"Terus?"
"Mimpi itu kayak nyata banget, bahkan gue merasakan jelas perasaan cewek yang bernama Ellisha itu, seperti suatu keadaan di mana gue merasakan hal yang familiar, seolah-olah gue sudah pernah mengalami hal itu sebelumnya."
"Mungkin ingatan masa lalu lo."
"Gue nggak pernah punya masa lalu kayak gitu, lagi pula sejak kecil nama gue itu Cherika bukan Ellisha," bantah Chandika.
__ADS_1
"Atau itu ada kaitan dengan pertukaran jiwa lo dengan Chandika asli?" tanya Alvis dengan ekspresi yang serius.
"Gue juga berpikir kayak gitu," kata Chandika menyetujui Alvis. "Dan gue di teror dengan bunga matahari yang tiba-tiba saja ada di manapun gue berada."
"Bunga matahari?"
"Ya, gue yakin bunga matahari itu ada kaitannya dengan mimpi yang selama ini gue alami."
"Apa lo tahu siapa pengirim bunga itu?"
"Sepertinya gue tahu," kata Chandika tanpa berpikir dengan lama.
"Siapa?" tanya Alvis penasaran.
"Seorang nenek-nenek yang bernama Cynderyn."
"Cynderyn? Gue nggak pernah dengar nama asing itu," kata Alvis dengan berpikir.
"Nenek itu sangat misterius. Terakhir saat gue bertemu dengannya, dia bisa menghilang bagaikan debu."
"A-apa? Hal mustahil apa lagi itu?" tanya Alvis dengan terkejut. "Apakah dia Jin Tomang??"
"Gue nggak tahu," jawab Chandika menanggapi perkataan absurd Alvis.
"Tidak ada misteri yang tidak bisa diungkapkan oleh waktu," sambung Chandika dengan tatapan menajam.
Alvis hanya menatap terpesona Chandika. Dia tahu tatapan tajam itu adalah milik Cherika, gadis tomboy itu memang memiliki tatapan yang setajam pisau dan mampu menembus jantungnya.
PLAK
Alvis segera menampar pipinya sendiri karena ingin menghilangkan pikiran ngawurnya.
"Eits.. mau ngapain lo, cewek!?" cegah Alvis menghalau pelukan Jane pada Chandika.
"Minggir lo cowok nirfaedah youth!" seru Jane kesal dengan Alvis karena menghalanginya memeluk di pemuda tercinta.
"Nirfaedah youth?" tanya Alvis bingung.
"Cowok tidak berguna!" maki Jane dengan berteriak.
"Heh, lo cewek jelek!" balas Alvis dengan berteriak
"Lo manusia bayi!" seru Jane memincingkan mata sinis.
"Minggir lo pada, menghalangi jalan saja," kata Chandika yang menghentikan adu mulut Alvis dan Jane, mereka langsung menyingkir dari tengah-tengah koridor, membiarkan Chandika lewat.
'Nggak tahu apa gue sudah lapar,' batin Chandika menggerutu.
Alvis dan Jane mengekori Chandika dengan masih beradu mulut. Mungkin Chandika akan berterima kasih pada Alvis karena Jane tidak menempelinya seperti lem lagi.
"Sana lo pesan makanan," kata gadis blaster menyuruh Alvis.
"Lo kira gue babu!!" tukas Alvis heboh.
"Gue saja," kata Chandika menyela pertengkaran kedua orang itu.
"Jangan! Biar aku saja," kata Jane dengan panik, mana mungkin dia membiarkan sang pujaan hati memesan makanan, berdesakan dengan para perempuan centil.
__ADS_1
"Nah sana lo," kata Alvis tersenyum menang.
Jane mendelik pada Alvis, dia langsung berbalik dan memesan makanan.
"Kali-kali ngebabuin primadona sekolah," ucap Alvis langsung menggandeng Chandika dan mencari kursi yang kosong.
"Lo ngapain si gandeng-gandeng gue mulu," ucap Chandika melepas gandengan si pemuda bayi.
"Pelit banget sih," kata Alvis dengan ekspresi tidak rela.
"Homo lo!" seru Chandika bergidik.
"Lah kok homo? Lo itu cewek," kata Alvis segera duduk di kursi yang kosong.
"Di mata orang lain gue ini cowok tulen," jelas Chandika yang mengikuti duduk di hadapan Alvis.
"Oh, berarti kalau lo sudah kembali jadi cewek lagi, gue boleh dong gandeng lo," kata Alvis menaik turunkan kedua alisnya.
"Nggak, tangan lo bau tai," tolak Chandika dengan menatap Alvis jijik.
Pemuda deep auburn langsung refleks mencium kedua tangannya. "Nggak bau!"
Chandika hanya mendengus menanggapi Alvis yang menurutnya sangat konyol.
**
Di belakang sekolah SMA Tunas Harapan.
"Cynderyn," kilah pemuda bermata biru menatap wanita tua yang dihadapannya.
"Kamu sudah ingat padaku, anak muda?" tanya Cynderyn dengan tersenyum. "Ah, maksudku Eros," lanjutnya mengoreksi.
"Anda yang membuat ingatan saya kembali?" Ludhe berbalik bertanya.
"Ya," jawab Cynderyn membenarkan.
"Apa yang anda inginkan?" tanya Ludhe tanpa basa basi, dia tahu jika wanita tua di hadapannya pasti menginginkan sesuatu darinya.
"Tolong, jagalah reinkarnasi Ellisha," kata Cynderyn dengan tatapan sendu.
"Maksud anda Cherika?" tukas pemuda pirang memastikan.
"Ya, gadis itu adalah Ellisha."
"Tanpa anda suruh, saya akan melakukan itu," kata Ludhe dengan serius, lagi pula dia memang sangat mencintai Cherika.
"Lindungilah dia dari Felix," ucap Cynderyn membuat wajah Ludhe mengeras. "Kamu tidak mau, kan. jika kehilangan Ellisha lagi?"
"Tidak akan saya biarkan itu terjadi," jawab Ludhe dengan rahang yang mengeras.
"Bunuhlah reinkarnasi Felix," ucap Cynderyn menyeringai tipis.
"Sayang memang sudah berniat seperti itu," ucap Ludhe dingin.
Sangat mudah bagi Cynderyn untuk mengendalikan Ludhe. Dia sengaja tidak memberitahu jika jiwa Cherika tertukar dengan Chandika. Jika Ludhe tahu, tidak mungkin pemuda itu mau membunuh Chandika.
Lagi pula, ingatan Ludhe tidak sepenuhnya kembali, hanya beberapa ingatan yang membuat pemuda itu semakin membenci reinkarnasi Felix.
__ADS_1
'Manusia bodoh'
_To Be Continued_