
"Suka kok," jawab Cherika jujur.
Alis tebal Chandika berkedut mendengar jawaban Cherika yang bernada datar. Apakah gadis itu tidak tahu itu adalah kode?
"Apa lo ingat dengan gue?" tanya Cherika setelah meminum obat.
"Hmm?" Chandika bingung apa yang gadis itu maksud.
"10 tahun yang lalu, kantor polisi," kata Cherika menjelaskan tanpa ba-bi-bu.
Chandika tersenyum karena sudah mengerti maksud Cherika. "Entahlah," jawabnya berniat menggoda.
Seketika wajah Cherika murung, gadis itu pikir Chandika mengingatnya.
"Memangnya ada apa 10 tahun yang lalu?" tanya Chandika menatap wajah Cherika, dia terkikik di dalam hati.
"Lupakan saja," kata Cherika dengan nada yang dingin, dia kesal dengan pemuda itu.
"Aku tidak akan melupakannya," ujar Chandika semakin melebarkan senyumnya.
Cherika hanya diam saja, mendadak moodnya menjadi buruk. Dan lagi Chandika cengar-cengir tidak jelas sedari tadi.
"Aku tidak akan melupakan gadis kecilku yang telah menyelamatkan aku dan memberikan sebuah buku novel," ucap Chandika kemudian.
"Ga-gadis kecilmu?" tanya Cherika tergagap. Dia tercekat dengan ucapan si pemuda, dia pikir Chandika benar-benar melupakan dirinya.
"Ya, Cherika kamu adalah gadis kecilku," kata Chandika yang membuat hati Cherika mendesir.
Cherika tidak bisa berkata apa-apa. Apakah pemuda itu menyukainya? Kenapa dengan gamblang mengatakan hal itu? Gadis kecilku? Maksudnya dia adalah milik Chandika?
"Kenapa diam saja?" tanya Chandika merengut. "Aku sedang berbicara serius, aku tidak suka didiamkan," lanjutnya berpura-pura sedih.
"O-oh maaf, jangan menangis," kata Cherika panik dan mengelus rambut gondrong Chandika. "Gue hanya terkejut saja,"
Skakmat. Cherika memang gampang sekali luluh dengan mahkluk yang rapuh. Beruntunglah Chandika yang memiliki image cengeng itu.
"Jadi?"
"Apa?" tanya Cherika bingung dengan pertanyaan ambigu si pemuda.
"Kita menikah ya?" tanya Chandika menarik kedua tangan Cherika untuk dia genggam.
"Hah?" Cherika membelalakkan matanya.
"Ya?" tangan Chandika lagi dengan puppy eyes.
Cherika menatap Chandika yang seperti kucing kecil refleks mengangguk.
"Asik!" seru Chandika menerjang si gadis ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Nggak, lepaskan," kata Cherika yang sudah sadar dan langsung mendorong Chandika yang memeluknya, dia hanya refleks mengangguk tadi. Mana mungkin dia mau menikah, umurnya masih 16 tahun. Lagi pula kenapa Chandika tiba-tiba mengajaknya menikah? Apakah pemuda itu gila karena habis koma?
"Pokoknya kita menikah," ucap final pemuda mullet.
"Apa lo gila? Kenapa tiba-tiba memaksa untuk menikah? Kita masih sekolah, dan menikah itu adalah mengikat ke dua orang yang saling mencintai. Memangnya lo mencintai gue?" kilah Cherika panjang lebar.
"Aku tidak gila," kata Chandika dengan bibir mengerucut lucu.
Cherika menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran betapa imutnya pemuda di hadapannya itu.
"Aku serius, Cherika." ucap Chandika dengan mimik serius. "Bukankah 10 tahun yang lalu kamu bilang jika kita bertemu lagi itu berarti berjodoh. Jodoh itu berarti menikah," jelasnya sambil mengingat masa lalu.
Cherika menjatuhkan rahangnya, menganga tidak percaya. Apakah pemuda itu sebegitunya polos? Atau memang bodoh?
Namun, gadis itu tidak tahu jika Chandika hanya menggunakan alasan itu untuk cepat-cepat mengikatnya. Dia tidak mau jika Cherika akan disakiti Cynderyn lagi, sebisa mungkin dia harus selalu bersama dengan gadisnya.
"Lagi pula aku mencintaimu," lanjut Chandika menatap dalam mata coklat Cherika.
Ingin rasanya gadis itu pingsan sekarang, Chandika sangat membuatnya spot jantung hari ini. "Ba-bagaimana bisa?" tanyanya tidak percaya.
"Aku tak punya alasan kenapa aku mencintaimu. Hanya satu yang aku tahu, aku bahagia saat bersamamu," jawab Chandika tulus.
'OMG! Dia serius? Chandika mencintai gue? Dan mengajak untuk menikah muda? Dia menyatakan perasaannya dan melamar gue di kamar rumah sakit ini?' batin Cherika bermonolog akan kenyataan manis dan konyol itu.
"Berhentilah untuk berbicara di dalam hati," ujar Chandika yang membuat Cherika kaget.
"Aku bukan manusia super."
"Hentikan membaca pikiran gue!" seru Cherika dengan alis yang menyatu.
"Siapa yang membaca pikiran siapa?" tanya Nathan yang tiba-tiba saja sudah di dalam kamar inap Cherika.
Sepertinya mereka berdua tidak menyadari bunyi kenop pintu. "Chandika, dia bisa membaca pikiran orang," jawab Cherika menunjuk pemuda mullet.
"Aduh, aku tidak bisa membaca pikiran. Berhentilah berpikir konyol, sayang," kata Chandika yang membuat Nathan dan Cherika melotot karena panggilan sayangnya.
"Siapa yang lo sebut sayang?" tanya Nathan menyelidik.
"Tentu saja Cherika, masa bang Nathan sih," ucap Chandika santai.
"Apa!?"
**
"Pagi, tante," sapa Jane saat membuka pintu dan masuk menghampiri Aminta yang sedang terduduk menyender.
"Jane kamu ke sini?" kilah Aminta tersenyum.
"Iya, aku ingin menjenguk tante, kakek Albert, dan Chan," jelas Jane membalas senyum Aminta.
__ADS_1
Aminta mengangguk, dia melihat si gadis blaster yang meletakan parsel buah di meja.
"Apakah kamu tidak terluka, Jane?" tanya Aminta setelah Jane terduduk di bangku samping ranjang.
"Tidak, kok. Saat itu Chan langsung membawa aku ke tempat yang aman, jadi aku baik-baik saja," jelas Jane yang membuat Aminta bernapas lega.
"Syukurlah jika Chan melindungi kamu dengan baik."
"Ya, tante," ucap Jane dengan semburat tipis di pipinya.
"Chan di rawat di ruang mana, tan?" tanya Jane kemudian.
"Chan tidak di rawat, dia sudah pulang ke mansion," kata Aminta jujur. Dia memang tidak tahu jika Chandika sedang berada di Singapura sekarang.
"Tapi luka tusuknya terlihat sangat dalam, aku kira Chan akan berada di rumah sakit untuk beberapa hari," kata Jane yang mengingat luka tusuk di bagian dada Chandika. Bukan hanya luka tusuk tapi dia melihat ada bekas cekikan di leher, luka di pelipis, dan goresan yang cukup dalam di lengan si pujaan hati. Bagaimana bisa pulih dengan begitu cepat?
"Chan sendiri yang ingin pulang, jika kamu ingin menemuinya pergilah ke mansion," ujar Aminta tanpa tahu apa-apa. "Tante juga khawatir dengannya, rawatlah Chan."
"Ya, tante," jawab Jane tersenyum. Dia sangat senang karena nanti dia bisa berduaan dengan Chandika dan merawat pemuda itu.
**
"Aku mencintai Cherika."
Nathan menatap intens pemuda yang sedang berdiri di hadapannya. Pemuda yang tengah memakai celana jeans hitam dan tshirt hitam yang sangat menyatu dengan rambut hitam legam si pemuda. Ada luka jahit di pelipis Chandika dan juga ada bekas memerah di lehernya, seperti bekas cekikan seseorang. Ada apa dengan Chandika? Tapi dia urungkan pertanyaan itu, karena dia mengajak Chandika mengobrol di luar kamar untuk meluruskan hal yang lebih penting.
"Lo mencintai adik gue?" tanya Nathan memastikan peryataan si pemuda tadi, dia takut jika pendengarannya yang salah.
"Ya," jawab Chandika mantap.
"Bagaimana bisa? Lo sudah punya cewek," kata Nathan menatap dingin pemuda mullet. "Lo mau mempermainkan Cherika?"
"Tidak," sangkal Chandika cepat. Dia tidak mungkin mempunyai niat buruk terhadap gadis tercintanya. "Aku ingin menikahi Cherika."
"Hais, si bajingan ini," umpat Nathan dengan memijit pangkal hidungnya karena mendadak pening seketika. "Lo sinting? Atau sedang kerasukan jin?"
"Aku serius," ucap Chandika sungguh-sungguh.
"Tapi bagaimana dengan cewek lo? Lagi pula kalian masih kecil. Jangan bermimpi untuk menikahi adik gue," kata Nathan menatap tajam.
"Bagaimanapun caranya aku akan menikah dengan Cherika."
Nathan melongo dengan tingkat kepercayaan diri Chandika. Rasanya ingin dia tinju muka ganteng di depannya itu.
Ya, Chandika harus segera menikah dengan Cherika. Dia tidak memperdulikan umur mereka yang masih belia, dia itu orang kaya, untuk menafkahi gadis itu bukanlah masalah. Yang jadi masalah adalah Cynderyn yang masih mencoba membawa jiwa Cherika, dia tidak sanggup kehilangan gadis itu untuk ke dua kalinya.
Namun, hal yang pertama dia lakukan adalah memutuskan hubungannya dengan Jane.
_To Be Continued_
__ADS_1