Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Kiss Me [18+]


__ADS_3

"Dika.. cium aku," pinta Cherika dengan tatapan memohon.


"Cherika, dengar, kamu harus mendapat kembali kesadaran kamu. Atau aku..."


"Atau aku apa?" tanya Cherika memotong perkataan Chandika. Dia menjilat telinga kanan Chandika dan menggesekkan hidung kecilnya pada rahang pemuda itu.


"Cherika," panggil Chandika mendesis dan meremas pinggul Cherika hingga membuat siempunya mendesah.


"Hei, Dika. Kenapa kamu tidak mau mencium aku? Apa kamu sudah tidak mencintaiku?"


"Bukan begitu," sangkal Chandika yang hampir kehilangan kewarasannya. Dia memejamkan masa saat Cherika mengecup seluruh wajahnya.


Cherika menjauh wajahnya yang membuat Chandika bernapas lega. Mata cokelatnya meneliti leher putih si pemuda, seketika dia memicing kesal. "Kemana tanda kemerahan yang lucu itu? Apa sudah hilang?" tanyanya kemudian.


Tanpa sadar Chandika menelan savilanya melihat tatapan Cherika yang seakan ingin menerkam lehernya. Apakah gadis itu vampir?


"Bukan hilang, aku hanya menutupinya," jawab Chandika. Mana mungkin bekas cinta itu bisa hilang dengan cepat, dia hanya menutupinya dengan concealer. Dia mendapatkan saran dari Alvis yang memang sering menutup tato di lengan.


"Aku ingin membuatnya lagi," kata Cherika yang langsung menjilat dan menggigit leher putih si pemuda.


Chandika mendongak, dia bernapas dengan kasar. Dia harus sabar, dia tidak boleh menerkam gadis itu. "Lepas, sayang."


Seolah tuli, Cherika tetap memberikan beberapa tanda ranum merahan kebiruan, entah seberapa kuat dia menggigit. Tangannya bermain di bagian depan kemeja Chandika, membuka satu persatu kancing hingga menampakan tubuh atletis dengan roti sobek yang menggiurkan.


"Jangan lepas bajuku..." lirih Chandika dengan suara yang sudah dipenuhi kabut nafsu.


Cherika tetap tidak menghiraukannya, dia menarik kerah kemeja Chandika ke bahu bagian kiri yang semakin memperlihatkan tulang leher si pemuda. Dengan segera Cherika menghisap dan menggigit tulang leher itu. Dan jangan lupakan juga tangan yang gencar mengelus badan Chandika.


"****!" maki Chandika yang semakin berada di batas kesabaran.


"Panas sekali.. hik," gumam Cherika dengan masih cegukan. Dia segera melepas sweater polos oversize miliknya.


Chandika melotot tidak percaya. Bagaimana bisa hanya karena mabuk gadisnya itu menjadi super berani dan nakal seperti ini? Untung saja tadi Chandika tidak mengizinkan Ben untuk mengantar Cherika pulang. Kalau iya, entah apa yang akan terjadi pada Cherika. Namun, kenyataannya adalah gadis itu seperti keluar dari kandang buaya dan masuk ke kandang singa.

__ADS_1


Lihat saja, dengan kabut gairah Chandika menatap tubuh Cherika yang kini hanya memakai bra, memang bukan pertama kali dia melihat tubuh gadis itu. Bahkan saat mereka bertukar tubuh, dia sudah pernah melihat semuanya. Tapi tetap saja libidonya memuncak. Dia adalah laki-laki normal.


Chandika menghadapkan wajah Cherika ke arah wajahnya dan dengan sigap dia mencium bibir kecil dihadapannya. Bunyi perpaduan dua bibir dan ******* dari keduanya menggema di dalam mobil yang kini menjadi sangat panas.


Pemuda mullet itu sudah benar-benar  lapas kendali. Mungkin setelah ini dia akan segera membawa Cherika ke altar pernikahan.


Tinn!


Suara klakson mobil Chandika berbunyi nyaring karena Cherika melepas paksa tautannya karena sudah kehabisan napas, punggungnya terbentur stir mobil. "Akh!" pekiknya saat merasakan punggungnya sakit.


"Sakit?" tanya Chandika dengan suara serak.


Cherika mengangguk dengan memegang punggungnya. Dia tidak menyadari jika tindakannya semakin membuat badannya membusung ke arah Chandika. Si pemuda yang melihat itu dengan segera merengkuh Cherika dalam pelukannya, dia menghirup dalam-dalam wangi vanila dari sang kekasih. Kecupan dia berikan di sepanjang leher dan pundak.


Tangan Chandika mengelus paha yang sejak tadi menggodanya itu, elusan naik dan turun yang membuat Cherika melenguh. Lama-kelamaan tangan itu sudah merambat ke belakang punggung Cherika. Dengan cepat dia membuka pengait bra si gadis dan membuangnya ke kursi belakang mobil, menyusul sweater Cherika.


Chandika menatap lekat di gadis tercinta.


Tok tok tok


Alvis tengah mengetuk kaca mobilnya.


Chandika segera melepas jaket miliknya untuk menyelimuti tubuh Cherika dan memeluk gadis itu. Setelah itu membuka kaca mobilnya.


"Kenapa di dalam mobil sa—" Alvis tidak bisa meneruskan perkataannya, dia menatap horor Cherika yang berada di pangkuan Chandika.


"L-lo dan Che-Cherika?" tanya Alvis tercekat.


Chandika diam sesaat. Awalnya bingung untuk menjawab apa. Namun, dia ingat jika sepupunya itu mempunyai rasa ketertarikan pada Cherika. "Aku dan Cherika adalah kekasih," ucap Chandika yang menusuk hati Alvis.


"Kekasih?" tanya Alvis membeo.


"Dika, kenapa tidak mencium aku lagi?" lirih Cherika tanpa malu. Bahkan dia berniat mencium bibir Chandika lagi, tapi si pemuda menghindar dan ciumannya hanya mendarat di pipi.

__ADS_1


Alvis semakin kaget dengan perkataan dan kelakuan Cherika, apalagi dia melihat jaket yang menutupi Cherika agak merosot dan menampakan bahu polos gadis itu, lalu jejak-jejak kemerahan yang bertambah banyak di leher sepupunya. Alvis sangat paham apa yang Chandika dan Cherika lakukan tadi di dalam mobil.


'Jadi Cherika yang sudah memperkaos Chandika?' batin Alvis dengan hati yang patah menjadi dua.


"Kamu pergilah, Alvis. Aku dan Cherika akan merapihkan penampilan kami dulu," ucap Chandika.


"O-ok," jawab Alvis dengan terbata karena lidahnya mendadak keluh.


Chandika menutup kembali kaca mobilnya setelah Alvis berbalik pergi.


"Sudah ya, sayang. Kita akhiri di sini dulu," kata Chandika yang mengangkat tubuh Cherika untuk kembali duduk di jok sebelah.


**


"Bos, mana Leo?" tanya Galen tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone. Sepertinya dia sedang bermain game.


"Nanti menyusul," jawab Alvis. Dia berjalan dengan gontai menuju sofa dan mendudukkan dirinya.


Alvis menyandar pada sandaran sofa dengan kepala yang mendongak. Tangan kanannya menutupi matanya, matanya terasa memanas seperti ingin menangis. Perasaan sesak pada dada, perut pun mendadak sakit, bibir terasa kering, dan badannya lemas seperti tidak bertenaga.


'Apakah ini rasanya menjadi sad boy?' batin si pemuda babyface nelangsa.


Padahal dia baru ingin menyatakan cinta pada si gadis tomboy. Tapi, Chandika sudah seribu langkah lebih cepat darinya. Kenapa harus sepupunya itu? Kenapa bukan orang lain? Jika dengan Chandika mau tidak mau dia harus mundur, dia tidak bisa bersaing dengan sepupunya itu.


Ada waktu untuk berharap, dan ada waktu untuk berhenti. Ada masa untuk memperjuangkan, namun ada juga untuk mengikhlaskan.


"Si tolol, kenapa towernya nggak di serang sih!?" maki Galen yang masih serius dengan game online.


"Ck, malah kabur! Padahal masih punya kesempatan buat menghancurkan tower! Dasar govlok!"


"Laki atau cewek sih!? kok pengecut banget!" seru Galen yang semakin memperparah suasana hati si Alvis.


"Berisik lo!" bentak Alvis pada Galen.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2