
Cherika berdiri di depan kelas IX-IPA1, ruang kelasnya.
Aland mengantarnya sampai kelasnya untuk menghalau siswa dan siswi yang mencoba mendekatinya. Kakak laki-lakinya itu kini sudah berlalu ke kelas yang satu tingkat di atasnya. Sepertinya memang sudah menjadi kegiatan Aland untuk mengantar Cherika sewaktu masih berjiwa Chandika.
"Sudah di cap menye-menye, tiba-tiba jadi populer, dan jadi cewek manja," gumam Cherika merutuki nasibnya sekarang. Benar-benar sudah berubah 180°.
Gadis mungil itu segera memutar kenop pintu dan segera masuk ke dalam kelasnya.
"Hai," sapa Cherika tersenyum tipis. Dia memang sangat rindu dengan teman-teman sekelasnya.
Seketika kelas menjadi hening karena tidak percaya jika gadis yang dikabarkan sedang koma sudah sadar dan berangkat ke sekolah.
"Che-Cherika!" seru salah satu murid menyadarkan semua orang.
Mereka semua langsung berdiri dan berlari ke arah Cherika untuk memeluk gadis itu.
'Gue sudah kembali,' batin Cherika haru.
"Bos, lo sudah sadar!?" pekik Adam.
"Hiks.. gue senang lo sudah sadar, bos," tangis bahagia Ignancio.
"Padahal lo habis jatuh dari lantai 60!" pekik siswi berambut sebahu, Cherika ingat jika perempuan itu bernama Lisana.
'Bukan jatuh tapi tertembak,' batin Cherika mengoreksi. Memang berita dia tertembak tidak disebar luaskan, dan itu menjadikan semua orang berasumsi dengan sendirinya.
"Lo potong poni?" tanya pemuda berlesung pipi, Brian.
"Ya," jawab Cherika. "Apa aneh?"
Dia memang sengaja memotong poninya untuk menutupi bekas tembakan yang belum sepenuhnya menghilangkan.
"Mana ada aneh, yang ada makin imut," kata siswi berambut panjang, Wendy. Gadis itu memeluk Cherika erat.
Cherika heran kenapa siswi di kelasnya jadi terlihat akrab padanya, padahal dulu mana berani mereka ngobrol dengannya, yang ada pada takut duluan.
Dan ini karena ulah Chandika lagi. Pemuda itu memang menjadikan Cherika sebagai gadis yang super imut dan gampang menangis, jadi mana tahan orang-orang untuk tidak mendekat pada si gadis belo.
'Ya, sepertinya tidak buruk juga.'
**
"Kenapa?" tanya laki-laki berambut medium curly pada gadis blaster yang sedang duduk di hadapannya.
"Gue hamil," kata Jane pada Ben.
Mereka berdua sudah janjian untuk bertemu di cafe. Jane yang baru pulang dari rumah sakit dan Ben yang sengaja bolos sekolah.
"Terus?" tanya Ben tidak perduli dan tidak terkejut.
"Gue hamil anak lo, Bangs*t," desis Jene menatap marah Ben.
Ben hanya tertawa. "Lo pikir gue percaya?"
"Gue cuman tidur dengan lo saja, jangan samakan gue dengan para jal*ng milik lo itu," ucap Jane meradang. Dia memang hanya berhubungan dengan Ben, seseorang yang dulu membutakan hatinya.
__ADS_1
"Tinggal gugurkan saja," kata Ben dengan enteng. Dia menyesap Macchiato miliknya.
Jane tercekat dengan perkataan tidak manusiawi pemuda itu. "Dasar binatang," makinya.
"Dan binatang inilah yang dulu pernah lo cintai," ujar Ben dengan menyeringai.
"Anggap saja gue buta saat itu," kilah si gadis blaster menatap jijik Ben.
Ben tertawa lagi, baginya Jane hanyalah alat yang mudah sekali untuk dia manfaatkan dan dia buang.
"Jadi mau lo apa? Lo mau gue bertanggungjawab?" tanya Ben yang sudah berhenti tertawa.
"Cih, lo kira gue sudi menikah dengan lo."
"Bagus dong, gue juga nggak sudi tuh."
"Lo kira cewek yang bernama Cherika sudi membalas cinta lo?" tukas Jane dengan mencibir.
Seketika Ben mengeraskan wajahnya.
"Cewek miskin seperti dia apa bagusnya sih? Lo dan Chandika bisa-bisanya mencintainya," sambung Jane yang menyulut amarah Ben.
BRAK
Ben langsung memukul meja hingga mereka menjadi pusat perhatian seisi cafe.
"Jangan menghina dia!" bentak Ben dengan suara yang nyaring.
Jane langsung berdiri untuk meminta maaf pada pelanggan cafe yang terganggu.
Ben hanya mendengus, temperamennya memang sangat buruk. Apa lagi jika menyangkut gadis yang kini dia cintai.
"Gue nggak menghina, kenyataan kalau cewek itu miskin," tambah Jane mengibaskan tangannya.
"Berhentilah membicarakan dia. Cepat katanya apa mau lo mengajak gue bertemu?" kilah Ben yang sudah menstabilkan emosinya.
"Gue ingin menggunakan kehamilan ini untuk segera menikah dengan Chandika, gue harap lo nggak akan membuka mulut jika ini adalah anak lo," kata Jane dengan serius.
"Gue juga nggak mengganggap anak lo itu, jadi gue nggak perduli mau diapakan kehamilan lo itu," ucap Ben sembari memainkan jemarinya di atas meja.
"Bagus kalau begitu," ujar si gadis blaster tersenyum miring.
"Lalu, apa maksud dengan bekerjasama?" tanya Ben mengungkit obrolan sewaktu di telepon tempo hari.
"Kita akan berkerjasama untuk menjauhkan Chandika dan Cherika."
"Caranya?" tanya Ben yang terlihat tertarik.
"Lo coba dekati Cherika. Buat dia jatuh hati dan gue akan mengikat Chandika dengan anak ini," jawab Jane dengan mengelus perutnya yang masih rata.
"Ok deal."
**
"Ada apa?" tanya Cherika to the point pada pemuda blaster yang kini tengah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Kini, Cherika dan Ludhe sedang ada di belakang sekolah. Tiba-tiba pemuda berambut pirang itu ingin mengajaknya bicara saat jam istirahat.
Terlihat penampilan Ludhe yang sangat kacau. Mata sayu karena terlihat kurang tidur, kantung mata yang menghitam, dan wajah yang terlihat kusut. Hilang sudah kakak kelas yang terkenal paling tampan di SMA Tunas Harapan itu.
"Maaf," kata Ludhe dengan menunduk. Dia tidak sanggup menatap mata coklat Cherika, dia takut jika mata itu menatapnya dengan kebencian.
Hati Cherika entah kenapa mencelos melihat Ludhe dalam keadaan itu. Seharusnya dia marah dan membenci pemuda yang telah menikamnya dengan belati, tapi dia tidak bisa.
"Maaf untuk apa?" tanya Cherika dengan nada datar.
"Karena saya sudah menyakitimu, Cherika," jawab Ludhe dengan rasa penyesalan.
Cherika termangu sesaat. Dia bingung dengan maksud perkataan Ludhe. Apa pemuda itu sudah tahu jika yang ditusuk adalah dirinya?
"Maaf jika saya tidak tahu kalau jiwamu dan Chandika telah tertukar," sambung Ludhe yang menjawab kebingungan Cherika.
"Siapa yang memberitahu lo?" tanya Cherika menyelidik.
"Chandika."
Cherika menggangguk. "Gue maafin lo," katanya kemudian.
Ludhe langsung mengangkat wajahnya dan menatap Cherika terkejut. Semudah itukah gadis itu memaafkannya?
"Benarkah?" tanya Ludhe memastikan.
"Ya," jawab Cherika tegas.
"Terima kasih," ucap Ludhe dengan haru. Gadis di depannya sangatlah baik, padahal dia sempat mempunyai niat untuk membunuh Cherika. Tapi, semudah itu dia dimaafkan.
Dan inilah yang menjadikan Ludhe semakin mencintai Cherika.
"Izinkan saya untuk melindungimu, Cherika," lanjut Ludhe dengan sungguh-sungguh.
"Terima kasih, tapi gue bisa melindungi diri sendiri," ujar Cherika dengan percaya diri.
Ya, dia itu jago berantem. Tidak perlu dilindungi.
Ludhe tersenyum kecut akan penolakan si gadis belo.
"Saya mencintaimu."
Entah sudah berapa kali dia menyatakan cinta pada gadis itu.
"Mungkin gue kejam jika menolak cinta lo terus menerus. Gue mengerti apa yang lo rasakan. Tapi, gue lebih ingin pertemanan kita lebih diutamakan dan lagi lo sudah gue anggap sebagai kakak. Itu akan lebih baik dari segalanya," kata Cherika menatap mata biru si pemuda.
Nyut
Hati Ludhe berdenyut sakit. Seketika dia mengingat bayangan masa lalunya sebagai Eros yang menolak perasaan Ellisha.
Apakah ini pembalasan untuk Ludhe?
Namun.
Ludhe tidak tahu jika Ellisha sendiri yang sudah menyumpahi Eros.
__ADS_1
_To Be Continued_