
Februari, 2022, hari Minggu.
Singapura dikenal sebagai negara dengan kondisi jalan raya yang bersih dan bebas dari momok menakutkan bernama kemacetan. Sebagian besar pengguna jalan raya adalah pengguna mobil pribadi dan kendaraan niaga. Sulit menemui pengguna motor pribadi di sini.
"Hei, apa kabar?" tanya Chandika pada gadis yang terbaring di atas brankar, tangan putihnya mengelus rambut hitam Cherika.
"Maaf, gue baru ingat jika lo adalah anak laki-laki itu," kata Chandika bermonolog sendiri.
"Apa lo ingat dengan gue?"
Pemuda itu berharap mendapat jawaban dari Cherika, tapi si gadis tetap bergeming. Chandika tidak berhenti untuk mengajak mengobrol Cherika, dia bercerita apapun yang di alaminya akhir-akhir ini.
Cherika dalam keadaan vegetatif usai operasi pengangkatan peluru, hal ini dikarenakan dia mengalami pembengkakan dan pendarahan pada otak. Entah kapan gadis itu sadar dari koma, Dr. Philip mengatakan jika gadis itu akan sadar setelah beberapa minggu, bisa juga beberapa bulan.
Dan sesuai janji, Chandika akan mengunjungi si gadis mungil saat sedang libur sekolah. Hari ini dia akan menemani Cherika seharian.
Cklek
Suara pintu terbuka dan menampakan Jauzan dengan setelan jas mahal.
"Kamu sudah di sini, nak?" tanya Jauzan pada Chandika.
"Ya, sejak tadi pagi," jawab Chandika masih menatap wajah Cherika, wajah gadis itu tidak sepucat terakhir Chandika melihatnya.
"Papi kira kamu akan berkencan dengan Jane, ini hari Minggu, hari yang bagus untuk berkencan," celetuk Jauzan berniat meledek putranya.
"Cherika lebih penting," ucap Chandika tanpa berpikir panjang.
'Kalau Cherika lebih penting, kenapa dia bertunangan dengan gadis lain?' batin Jauzan terheran-heran.
"Kalau begitu hari ini papi ingin pulang ke Indonesia, kamu jaga Cherika ya," kata Jauzan pada putranya. "Nanti malam kakak ke 5 Cherika baru akan datang, kamu pulangnya nanti malam saja."
Nathan, kakak ke 5 Cherika, sengaja mengambil cuti kuliah untuk menemani Cherika di Singapura. Pemuda itu tinggal di hotel tidak jauh dari rumah sakit.
"Aku tidak ingin pulang."
"Tidak, kamu besok harus sekolah," tolak Jauzan dengan tegas.
"Hmm," angguk Chandika tidak rela.
"Good boy," ucap Jauzan mengacak rambut hitam legam putranya. "Yasudah papi pergi dulu."
"Ya, hati-hati," jawab Chandika mencium tangan Jauzan.
Setidaknya dia harus menjadi anak yang penurut, dia tidak mau mengecewakan Jauzan yang kini telah menjadi sosok ayah baginya.
Sepeninggal Jauzan, Chandika melanjutkan obrolannya dengan Cherika.
"Sebentar lagi hari pertunangan lo dengan Jane. Lo harus bangun ya, itu hal yang lo impikan, hmm?"
"Ga masalah kalau lo nggak pilih gue, memang nggak semua orang seleranya bagus."
**
"Chan di mana, tante?" tanya Jane saat sedang duduk di ruang tamu mansion.
__ADS_1
Aminta bingung harus berkata apa, pasalnya Chandika sedang ke Singapura yakni bersama gadis lain. Aminta meneliti penampilan Jane, si gadis blaster memakai atasan warna putih, dipadukan dengan celana kuning yang terlihat manis. Sangat cantik, seperti ingin berkencan.
"Apakah Chan tidak memberitahu kamu?" tanya Aminta dengan hati-hati.
"Memberitahu apa, tante?" tanya Jane dengan kening berkerut.
"Chan sedang pergi."
"Hah? Kenapa Chan tidak memberitahu aku? Aku datang ke sini untuk mengajaknya berkencan," kata Jane dengan kecewa.
Aminta mengurut pelipisnya, dia juga heran kenapa putranya tidak memberitahu Jane. Katakanlah jika Chandika keterlaluan, tapi dia juga tidak marah soal Chandika yang mengunjungi Cherika, dia justru senang. Aminta memang masih berharap jika Cherika menjadi menantunya.
"Dia pergi ke mana, tante?
"Singapura," jawab Aminta jujur, wanita paruh baya itu memang tidak bisa berbohong.
Jane melebarkan bola matanya dengan sempurna, dia terkejut.
"Kamu jangan khawatir, Chan hanya mengunjungi orang sakit di sana," kata Aminta mencoba membuat Jane tidak berpikir macam-macam.
"Siapa yang sakit?"
"Kamu mungkin tidak mengenalinya."
"Apakah Cherika?" tanya Jane dengan tidak sabaran, hanya satu nama yang terlintas di benaknya, gadis yang dia yakini sedang menggoda calon tunangannya.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Aminta yang justru mengiyakan pertanyaan Jane.
Jane langsung menundukkan wajahnya, dia sangat marah, benci, dan cemburu.
Jane langsung mengambil handphone di tas jinjingnya. Dia mencari nomer Chandika, ingin menghubungi si pemuda untuk meminta penjelasan.
Namun, dia melupakan hal yang sangat penting, dia lupa membuka blokiran pada nomor Chandika, dulu dia memang sempat memblokir nomer Chandika karena dia menganggap pemuda itu sangat menggangu dan membuatnya kesal.
'Aku melupakan hal ini, jadi ini kenapa Chandika tidak menghubungi aku?' batin Jane menyesal.
Oh ayolah, selama ini Jane terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, bahkan membuka blokir pada nomer Chandika saja dia lupa.
"Kalau begitu Jane pamit ya, tante," kata Jane dengan lesu.
"Ah, iya," jawab Aminta cepat.
"Assalamu'alaikum," pamit Jane dengan mencium tangan Aminta.
"Waalaikumsalam," jawab Aminta tersenyum.
Jane segera keluar dari mansion dan berjalan menuju mobil Ferrari merah miliknya.
"Oh ada si cewek jelek," kata seorang pemuda deep auburn ketika Jane ingin membuka pintu mobil.
Gadis blaster hanya mendelik kesal pada Alvis, dia sekarang sedang tidak bersemangat untuk meladeni si pemuda babyface.
BRAK
Jane langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan kencang.
__ADS_1
"Astaga!" seru Alvis terlonjak kaget.
"Anjir banget tuh cewek," sambung Alvis yang melihat mobil Ferrari yang sudah pergi meninggalkan kediaman Aldebaron. "Salah makan atau gimana sih?"
Alvis segera melangkah untuk masuk ke dalam mansion, niat awalnya memang ingin mengajak Chandika alias Cherika untuk menikmati akhir pekan bersama.
"ASSALAMUALAIKUM, ALVIS YANG UNYU DATANG!!" teriak Alvis ketika menginjakkan kakinya di dalam mansion.
"WAALAIKUMSALAM," jawab Aminta tidak kalah kencangnya, wanita paruh baya itu langsung berlari ketika mendengar teriakan Alvis.
"Alvis sayang, kamu sudah sehat?" tanya Aminta langsung memeluk Alvis, dia sangat khawatir dengan keponakannya itu.
"Alhamdulillah sehat," jawab Alvis membalas pelukan Aminta.
"Lalu bagaimana dengan Aminty dan Alice?" tanya Aminta lagi dan melepas pelukannya.
"Mommy dan adik sudah baik-baik saja."
"Syukurlah," kata Aminta bernapas lega.
"Alvis minta maaf atas perlakuan daddy sebelumnya," ucap pemuda deep auburn dengan sendu.
"Sttt, sudah tidak apa-apa. Ini bukan salahmu, jadi tidak usah minta maaf," kata Aminta tersemyum lembut. "Mami justru berterima kasih karena kamu sudah melindungi Chan selama ini."
Aminta memang sudah tahu tentang pengorbanan Alvis pada putranya selama ini.
"Hmm," deham Jauzan mengintruksi.
"Kamu sudah kembali, suamiku," kata Aminta senang melihat suaminya pulang.
"Ya, karena aku sudah sangat merindukan kamu," ucap Jauzan mencium kening Aminta.
"Aku juga merindukanmu, sayang."
"Jangan terlalu lama jauh dariku, aku tak mau ada seseorang menarik perhatianmu ketika jauh dariku."
"Bagaimana bisa aku jauh darimu," kata Aminta memeluk mesra sang suami.
Alvis hanya membeo melihat pesangan suami istri yang sedang bermesraan tanpa memperdulikan keberadaannya.
"Kacang itu gurih, tapi kalau dikacangin itu perih," celetuk Alvis yang menyadarkan Aminta dan Jauzan.
"Alvis? Sejak kapan kamu di sini?" tanya Jauzan dengan santainya.
"Sejak tadi," jawab Alvis meringis karena keberadaan seperti makhluk halus tidak kasat mata bagi Jauzan.
Jauzan tertawa pelan. "Maaf, papi tidak melihatmu."
"Yasudah, lupakan sajalah aku," kata Alvis misuh-misuh. "Aku ingin bertemu dengan Chan, kalian lanjutkan saja bermesraan."
"Tapi Chan sedang ke Singapura."
"..."
_To Be Continued_
__ADS_1