Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Ellisha?


__ADS_3

Kakinya berlari dengan sangat cepat, tidak memperdulikan gesekan rumput tajam yang menggores betisnya, laki-laki di depannya dengan erat memegang tangannya.


Duk


Dia terjatuh karena tersandung batu.


"Tuan, tinggalkan saja aku," katanya menatap laki-laki yang membantunya   bangkit.


"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu!" seru laki-laki itu membantah.


"TANGKAP MEREKA!"


"Larilah, tuan," katanya menatap sendu.


Dia merasakan jika tubuhnya melayang, pemuda itu menggendongnya di pundak, dan langsung membawanya lari bersama.


"Turunkan aku," ucapnya merasakan hawa panas di kedua pipi.


"Diamlah, Ellisha."


.


.


.


Tok tok tok


Ketukan pintu membangunkan Chandika yang sedang tertidur dengan lelap.


"Chan, sayang, bangunlah. Kenapa kamu belum bangun? Ini sudah siang!" seru Aminta dari balik pintu.


Chandika yang seakan linglung, masih diam dalam posisi tidurnya.


"CHANDIKA!!" teriak Aminta yang langsung membuat pemuda itu refleks bangkit dari kasur dan berlari untuk membuka pintu kamarnya.


"Yes, mami," sahut Chandika dengan muka bangun tidurnya.


"Kenapa kamu belum bangun? Ini sudah pukul 7 pagi, kamu tidak sekolah!?"


Satu


Dua


Tiga


"Apa! Aku kesiangan!!" pekik Chandika langsung menutup pintu kamar kembali dan bersiap-siap untuk ke sekolah.


BRAK


Aminta langsung terlonjak kaget karena pintu dibanting keras di depan mukanya. "Sabar, jangan marah," ucap Aminta dengan mengelus dada.


Chandika langsung mandi asal-asalan dan segera memakai baju seragamnya.


Namun, saat dia ingin mengambil ransel di atas meja belajar, dia melihat ada setangkai bunga matahari tergeletak di atas ranselnya.


"Dari mana ini??" tanya Chandika dengan tatapan ganjil dan segera dia buang ke tong sampah. Ingatannya kembali saat semalam melihat Cynderyn.


"Apa dia yang menaruh ini?" sambungnya dengan tatapan menajam, dia tidak tahu maksud si wanita tua memberinya bunga matahari. Tapi, perasaan tidak enak akan hal itu. Belum lagi tentang mimpi aneh akhir-akhir ini, dia bermimpi dengan seorang laki-laki yang bahkan tidak jelas rupanya.

__ADS_1


Ellisha.


Kenapa juga dia dipanggil Ellisha?


Tidak mau larut dalam lamunan, Chandika segera keluar dari kamarnya untuk berangkat sekolah.


"Tidak sarapan dulu, sayang?" tanya Aminta yang minat putranya turun dari tangga dengan tergesa-gesa.


"Tidak, aku sudah terlambat," tolak Chandika dan langsung mencium pipi Aminta sekilas. "Chan berangkat dulu," lanjutnya dibalas anggukan dari Aminta.


"Hati-hati, jangan kebut-kebutan!"


Oh ayolah, dia sudah terlambat saat ini, jika tidak kebut-kebutan pasti dia akan tambah terlambat.


"Melawan orang tua sekali-kali, nggak masalah kan," ucapnya ketika ingin menaiki motor sport merah miliknya.


Chandika langsung menjalankan kuda besinya dengan kecepatan maksimal. Baginya, soal kebut-kebutan di jalan raya dialah jagonya.


10 menit kemudian, Chandika sudah sampai di area parkir sekolah. Dia segera membuka helm dan mengguyar rambutnya ke belakang.


"KYAAAAAA!"


"PACAR GUE SUDAH MASUK SEKOLAH LAGI!!"


"ASTAGA! MUKANYA KOK BONYOK?!"


"TAPI MASIH TETAP GANTENG!"


Chandika langsung diserbu para perempuan yang berstatus pacarnya, dia bagaikan barang diskon.


Pemuda itu tidak mengacuhkan gadis-gadis centil yang mengerumuni, dia segera melangkah untuk ke kelas.


GUBRAK


Chandika terpeleset dan jatuh tengkurap dengan tidak elitnya.


Para gadis yang mengikutinya dari belakang justru ikut terjatuh dan menindihnya, ada sekitar 10 perempuan.


Sepertinya itu adalah karma karena dia tidak menuruti perkataan mami Aminta agar tidak kebut-kebutan.


"Kyaaaa!"


"Aduh!"


"Awas jatuh!" seru gadis berambut merah ponytail.


"Udah jatuh, goblok!" sambung gadis yang satunya.


"MENYINGKIR KALIAN!" teriak Jane yang berlari untuk menghampiri Chandika yang jatuh tertumpuk dengan para gadis. Dia langsung menyingkirkan gadis-gadis yang malah mengambil kesempatan.


"Chan, kamu tidak kenapa-kenapa?" tanya Jane yang melihat Chandika seakan kehabisan napas karena tertumpuk para perempuan, dia langsung membantu pemuda itu untuk berdiri.


"Hmm," Chandika hanya berdeham dan langsung berbalik melanjutkan langkahnya kembali, dia sangat malu sekali.


'Jadi ini rasa sebenarnya dari kata sudah jatuh tapi kejatuhan tangga juga. Cewek-cewek gila, bukannya nolongin gue malah cari kesempatan sengaja jatuh,' batin Chandika dengan kesal.


"Apa-apaan sih lo, Jane. Itu tadi kesempatan kita buat lebih dekat dengan Chandika, lo kenapa selalu mengganggu!?"


"Tahu nih, kita sebagai pacarnya Chandika belum pernah sedikitpun megang-megang doi, tadi tuh kejadian langkah!"

__ADS_1


"Bicit!" sentak Jane yang membuat para perempuan yang mengeluh terdiam. "Gue kasih tahu ke kalian. Sekarang, gue adalah calon tunangan Chandika. Mending kalian jangan mengganggu dia lagi," lanjut Jane yang membuat gadis-gadis shock.


"Jangan mimpi lo, Jane!" seru gadis berambut merah ponytail. "Chandika mana sudi tunangan sama cewek gampangan kayak lo!"


PLAK


Jane langsung menampar perempuan itu. "Jaga ucapan lo!"


"Sialan, berani-beraninya lo menampar gue," ucap gadis berambut merah ponytail segera menampar Jane balik.


PLAK


Kringggg


Bel masuk sudah berbunyi, tapi tidak menghentikan kedua perempuan yang sekarang sudah ke tahap jambak-jambakan.


**


"Ellisha, aku mencintaimu."


"Ellisha."


"Ellisha?"


"CHANDIKA!!"


Ya, namanya sekarang adalah Chandika, bukan Ellisha.


Pemuda itu tersentak saat seorang guru berteriak memanggil namanya, sontak dia berdiri dari duduknya. "AKU JUGA MENCINTAIMU!" teriak Chandika tanpa sadar.


Krik


Krik


Krik


"HAHAHAHA"


Seketika semua murid tertawa berbahak melihat refleks Chandika yang berteriak sangat kenyang. Lebih parahnya, mengatakan cinta pada guru perempuan yang kini terlihat terkejut dengan muka yang memerah.


Ibu Guru yang tadinya berekspresi sangar, kini menjadi malu-malu menatap Chandika. Di usianya yang genap 27 tahun, belum juga memiliki kekasih, dia memang tidak tertarik dengan brondong. Tapi kalau brondongnya adalah Chandika yang kaya raya dan super ganteng, wanita dewasa mana yang tidak tergoda.


Chandika yang baru sadar, langsung menabok keras mulutnya sendiri.


"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud," kata Chandika yang menahan malu karena teman-teman sekelasnya masih saja tertawa.


"Hmm," deham Ibu Guru dengan rasa gugup. "Tidak masalah. Lain kali jangan tidur di kelas lagi," sambungnya dengan wajah yang masih memerah.


Chandika langsung duduk kembali sambil merutuki diri sendiri. Dia tidak sadar jika tertidur di kelas dan bermimpi aneh kembali. Mimpi yang sangat nyata, bahkan sampai dia reflek mengucapkan kata cinta.


'Tunggu, kenapa gue berdebar-debar?' tanya Chandika dalam hati sambil memegang dada.


"Menurut Oxford English Dictionary, Explanation adalah a statement or account that makes something clear. Dalam bahasa Indonesia, eksplanasi juga sering diartikan sebagai penjelasan. Oleh karena itu, tujuan komunikatif dari explanation text adalah penjelasan mengenai fenomena sosial, alam, atau budaya."


Kelas menjadi serius kembali, Ibu Guru kembali memulai pelajaran.


"Lalu, Ada 3 bagian dari explanation text yang harus kalian ingat-ingat. Ketiga struktur tersebut adalah general statements, sequence of the events, dan closing. Pada bagian general statements—"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2