
Setelah meyakini diri jika mereka bisa menghadapi pertukaran tubuh mereka lagi. Chandika dan Cherika kembali untuk ke kelas masing-masing.
Cklek
"Cher? Lo udah nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Icha memegang tangan Cherika.
Icha dan Clara memang menunggu di depan UKS karena mereka masih kepo dengan kata 'suamiku' yang dikatakan Cherika. Dan Ludhe sudah pergi dengan hati terbelah duanya.
Chandika seketika merengut dan menepis tangan Icha. "Lepas," kata Chandika yang sejatinya Cherika asli itu. Seperti dia cemburu dan tidak mau jika sang suami dipegang perempuan lain. Mekipun suaminya itu ada di dalam tubuhnya.
"Aduh, posesif banget sih," kata Icha kesal dan mengusap tangannya yang sakit karena ditepis. "Gue dan Cherika itu kan sama-sama cewek. Dan gue bukan lesboy."
Cherika terkekeh, dan itu membuat Icha dan Clara terkejut. Cherika yang jarang berekspresi terkekeh?
"Cher Lo sehat?" tanya Clara khawatir.
"Sehat kok," jawab Cherika kalem danĀ mengulum senyum.
'OMG! Sifat Cherika yang kalem dan imut-imut kembali lagi??' batin Icha dan Clara gemes sendiri.
"Berhentilah merubah image aku lagi," bisik Chandika pada Cherika.
"Ya, suamiku," jawab Cherika dengan tidak berbisik.
Chandika melotot.
"Suamiku?" tanya Icha dan Clara saling menatap.
"Jadi kalian benar-benar sudah menikah?" lanjut Icha dengan rasa keterkejutannya.
"Ya, tapi kalian harus merahasiakan ini," kata Chandika dengan jari yang menempel pada bibirnya. Untuk menyuruh Icha dan Clara tutup mulut.
Icha dan Clara mengangguk.
"Lo jahat sekali, Cher. Menikah tidak mengundang kita," kata Clara seolah tersakiti.
"Maaf ya, nama kalian tidak terpikirkan untuk kami undang," jawab Cherika sekenanya.
Ke dua perempuan itu ternganga tidak percaya.
Chandika menjitak pelan kepala Cherika. "Jangan terlalu jujur, bodoh."
"Aduh, sakit sekali," kata Cherika dengan lebay. "Kamu keterlaluan sekali, mentang-mentang sekarang lebih tinggi dan seenaknya memukul aku."
"Aku tidak memukul kamu. Hanya menjitak, itu saja pelan," kata Chandika mencibir.
"Tolong lihat kepalaku, pasti sekarang sudah ada benjolan besar," ucap Cherika mendramatisir.
"Sini lihat," kata Chandika mengalah.
"Sekalian cium biar tidak sakit lagi," ujar Cherika mengambil kesempatan.
"Ya, sini..." kilah Chandika yang pasrah.
Cup
Chandika mencium pucuk kepala Cherika.
"Hei, kalian menganggap kami nyamuk??" kata Icha dan Clara kesal.
Pasangan muda itu tidak memperdulikan rasa kesal di ke dua perempuan. Pengantin baru memang berasa dunia milik mereka berdua.
__ADS_1
"Sudah ya, gue ke kelas dulu," kata Chandika pada Icha dan Clara.
"Aku ke kelas dulu," lanjutnya pada Cherika dengan mengusap pipi tembam gadis itu.
Chandika berbalik pergi. Dia memang tadi berdalih untuk ke toilet, pura-pura mendadak sakit perut. Dan langsung berlari seperti orang kesetanan ke ruang UKS. Padahal tadi dia sedang diposisi memperkenalkan diri sebagai murid baru.
Siapa coba yang tidak panik karena tiba-tiba bertukar tubuh?
Yang tidak panik tentu saja si Cherika KW. Karena dia memang sudah tahu akan pertukaran tubuh mereka pasti akan terjadi lagi.
"Ayo kita ke kelas juga," ajak Cherika dan mendapatkan anggukan dari Icha dan Clara.
"Cher, bukannya Chandika bertunangan dengan cewek yang sedang hamil itu? Kenapa bisa lo yang menikah dengan Chandika?" tanya Icha masih dengan rasa keingintahuan miliknya.
"Ah, itu.. "
Sepanjang perjalanan ke kelas Cherika menjelaskan pada Icha dan Clara.
**
"Chan, perut lo sudah nggak kenapa-kenapa?" tanya Alvis pada sepupunya yang terduduk di sebelahnya.
"Nggak," jawab Chandika sekenanya.
"Bikin kaget saja tau nggak lo? Masa tiba-tiba teriak pas di suruh memperkenalkan diri," ucap Alvis masih menatap heran Chandika.
"Gue bukan Chandika," kata Chandika jujur.
Alvis terkejut seketika. "What!?"
"Hmm," dehaman seorang Guru yang sedang menulis di papan tulis memperingatkan Alvis agar tidak ribut.
"Lo Cherika?" tanya Alvis dengan memelankan suaranya lagi.
"Ya."
"Gue nggak tahu, tiba-tiba saja tubuh gue dan Chandika tertukar. Chandika sekarang berada di tubuh asli gue," jelas Chandika.
"Benar-benar tidak dapat dipercaya," kata Alvis menggelengkan kepalanya.
"Lo nggak percaya?" tanya Chandika memincingkan mata.
"Percaya sih, dari cara ngomong sama gerak-gerik saja sudah ketahuan jika lo bukan Chandika asli," ucap Alvis dengan tatapan menilai.
"Ya."
"Terus apa yang akan kalian lakukan kedepannya? Gimana cara kalian bisa kembali ke tubuh masing-masing lagi?"
"Entahlah."
"Apa ini masih ada hubungannya dengan nenek-nenek yang dulu lo ceritain?"
"Cynderyn?"
"Gue nggak tahu namanya."
Chandika terdiam. Ya, sepertinya nemang ada hubungannya dengan Cynderyn.
**
Di kelas lain.
__ADS_1
"Bos, lo tadi pingsan? lo nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Ignancio pada Cherika yang baru mendudukkan bokongnya di kursi sebelahnya.
Sekarang adalah jam kosong, guru yang mengajar sedang sakit dan tidak ada pengganti.
"Tidak apa-apa kok," jawab Cherika apa adanya.
"Hei, maaf mengganggu," terdengar suara lembut perempuan mengintruksi.
Cherika menengok ke suara perempuan itu. Wajah ayunya mengeras seketika.
"Aku anak baru di kelas ini, sejak kemarin aku tidak melihat kamu. Boleh berkenalan?" lanjut perempuan itu.
"Ya, tentu saja boleh," jawab Ignancio cepat. Dia terkejut karena siswi baru yang terkenal sangat cantik datang ke tempat duduknya dan Cherika. Padahal perempuan itu tidak sedang berbicara padanya.
Cherika diam saja. Dia menatap tajam si perempuan.
"Namaku Vransiska. Kamu bisa panggil aku Siska," ucap Siska memperkenalkan diri.
'Dia..." batin Cherika mengepalkan tangannya yang berada di balik meja.
"Cherika," kata Cherika singkat. Dia mencoba menahan amarahnya.
"Cherika, semoga kita menjadi teman baik, ya," Siska tersenyum manis dan membuat kecantikan menjadi berpuluh kali lipat. Ignancio yang melihatnya saja sampai mimisan.
Siska memang benar-benar perempuan yang luar biasa cantik. Sejak hari pertama sekolah dia sudah mendapatkan banyak sekali pernyataan cinta. Semua siswa mengejar-ngejarnya dan semua siswi banyak yang iri akan hal itu.
Dan ada angin apa tiba-tiba Siska mengajak Cherika untuk berteman baik?
"Aku tidak ingin berteman baik dengan kamu," jawab Cherika santai.
Wajah Siska mendadak sendu.
"Bos, jangan seperti itu sama cewek cantik. Memang apa salahnya sih temenan sama Siska?" kata Ignancio yang memang sudah kesemsem dengan Siska.
"Apa perduliku," kata Cherika acuh.
"Ah, ya. Tidak apa-apa kok jika kamu tidak ingin berteman dengan aku," Siska tersenyum getir.
Semua orang yang berada di kelas seketika berbisik-bisik karena tidak suka dengan respon Cherika.
"Cherika sok cantik banget sih."
"Masa diajak temenan sama Siska nggak mau."
"Apa dia sombong karena sudah populer sekarang?"
"Kayaknya dia takut kalau Siska menggeser kepopulerannya."
"Cantikan juga Siska dari pada Cherika."
"Jadi ilfil sama Cherika."
"Masih beruntung Siska mau mengajaknya berteman."
Cherika tidak mengacuhkan bisik-bisik itu. "Pergilah, jangan dekat-dekat dengan aku lagi," usir Cherika dengan dingin.
Siska menurut dan berbalik pergi, dan siapa yang tahu jika dia sedang tersenyum misterius. Senyuman yang sangat tipis.
"Kok tega sih sama Siska," celetuk Ignancio.
Cherika hanya mengedikkan bahu.
__ADS_1
_To Be Continued_