Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Beautiful Baby [End]


__ADS_3

Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, bulan berganti bulan. Sudah 6 bulan berlalu.


Di hari pernikahan Danny dan Jane, yang diadakan di gedung dengan dekorasi tema rustic, terlihat mewah dengan dekorasi material kayu dan perpaduan antara dedaunan hijau, serta bunga segar dan bunga kering.


Terlihat ke dua mempelai sudah berada di altar pernikahan.


Jane memakai gaun panjang berwarna putih dan bertabur payet yang mewah, sedangkan Danny memakai tuxedo hitam dengan paduan kemeja wing collar dan dasi kupu-kupu. Mereka berdua menjadi pusat perhatian karena begitu menawan, belum lagi pancaran kebahagiaan yang terlihat jelas.


"Terima kasih karena telah menerimaku apa adanya, sehingga aku merasa jika diriku adalah wanita yang berharga. Kamu ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini," kata Jane tersenyum pada Danny, pemuda yang sudah berstatus suaminya itu.


Danny tersenyum, "Terima kasih juga karena sudah mengizinkan aku masuk di tengah-tengah kalian berdua, menjadi suamimu dan ayah dari Vano."


Vano Anggara, anak laki-laki Jane yang sudah berumur 1 tahun.


Rasa cinta mereka berdua memang telah tumbuh dan berkembang, pertemuan mereka adalah takdir. Tidak yang mengira jika orang yang tidak pernah dipikiran sebelumnya adalah seseorang yang ditakdirkan.


Seberapapun kenal, seberapapun berharap, seberapapun cinta, jika bukan orang yang tepat, ada selalu cara menjauhkan. Dan seberapapun tidak kenal, seberapapun tidak perduli, seberapapun benci, jika dia adalah orang yang tepat, akan selalu ada cara untuk didekatkan.


Tanpa Jane sadari seorang wanita bule tengah menatapnya sendu. Emily, Ibu dari Jane, wanita itu memang diundang untuk menghadiri pernikahan Jane dan Danny tapi dia malu untuk mendekat. Putrinya yang sudah dia buang justru dapat hidup bahagia tanpanya. Sedangkan Emily dia sudah tidak bersama lagi dengan sang suami lantaran suaminya sudah dipenjara karena kasus korupsi. Emily sangat menyesal akan tindakannya dulu.


"Maafkan Mama, Jane," ucap Emily dengan air mata yang mengalir, wanita itu berbalik pergi.


**


"Gue nggak nyangka kalau cewek jelek itu akan menikah dengan Danny," kata Alvis yang menatap Jane dan Danny yang sedang menyambut para tamu.


"Cewek jelek?" tanya Clara yang berada di samping Alvis, dia dan Alvis sudah cukup dekat karena usahanya selama ini. Alvis yang tidak mau dibilang jomblo karatan mengajak Clara untuk menjadi pasangannya.


"Jane," jawab Alvis sekenanya.


"Jangan seperti itu, Alvis, kamu masih saja tidak menyukai Jane," kata Chandika menasihati sepupunya.


Alvis mengangkat bahu tidak perduli, tatapannya tertuju pada perut Cherika yang sudah sangat besar. "Apa sebentar lagi itu akan meledak?" tanya Alvis dengan tatapan ngeri.


Cherika mengeryit karena perkataan ngawur Alvis, "Memangnya balon meledak."


"Jangan samakan anakku dengan balon," sengit Chandika.


Alvis terkekeh tanpa dosa, "Habis sudah besar sekali."


"Wajar, karena sudah tujuh bulan," ucap Cherika dengan mengelus perut buncitnya.


"Wah, sebentar lagi melahirkan dong," kata Clara berbinar, "bolehkan gue memegangnya?"


"Tentu," Cherika memperbolehkan.


Clara memegang perut Cherika, dia kaget karena merasakan pergerakan dari sana, "Dia menendang."

__ADS_1


Cherika tersenyum, "Putriku memang sangat aktif."


Cherika yang hamil di usia remaja memang sangat beresiko melahirkan secara prematur bahkan bisa meninggal dalam proses persalinan, tapi resiko tersebut sudah diminimalisir dengan melakukan kontrol dan memeriksakan diri secara rutin ke Dokter spesialis kandungan. Dengan rutin kontrol, Dokter dapat memberikan solusi yang tepat mengenai proses persalinan yang akan dilakukan nanti. Selain melakukan kontrol rutin ke dokter, Cherika mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi agar mendukung perkembangan janin. Karena itulah bayinya sehat dan aktif di dalam kandungan.


"Putri? Anak kalian perempuan?" tanya Alvis yang baru tahu.


"Ya, si little princess," jawab Chandika dengan bangga.


"Bolehkan gue memegangnya juga?" tanya Alvis yang penasaran dengan tendangan yang dimaksud Clara.


"Tidak boleh," tolak Chandika, mana mau dia jika istrinya dipegang-pegang laki-laki lain.


"Hais, pelit banget sih, bro."


"Bia—"


"Akh!" pekikan Cherika mengagetkan semua tamu undangan.


"Ada apa, sayang?" tanya Chandika khawatir.


"Perutku sakit," kata Cherika yang merasakan rasa tidak nyaman menjalar ke seluruh bagian perut, mulai dari bagian depan, kanan dan kiri perut, hingga ke punggung.


"Apa benar-benar akan meledak?" tanya Alvis tidak kalah panik.


Jane yang juga mendengar teriakan Cherika segera menghampiri, dia berlari kecil dan Danny mengikuti dari belakang.


"Arghh, sakit... Dika..."


Chandika langsung menggendong Cherika dan berlalu untuk ke rumah sakit.


**


"Akh!"


"Bertahanlah, sayang," bisik Chandika.


Persalinan merupakan momen yang membuat calon ibu tegang. Cherika mengalami momen di mana dia akan melahirkan darah dagingnya sekaligus mempertaruhkan nyawanya. Tidak hanya Cherika yang merasa tegang, tapi ada Chandika yang juga sama-sama tidak kalah tegang, pemuda itu ikut masuk ke ruang persalinan untuk menemani sang istri bertarung melawan rasa sakit dan bahkan maut.


Perasaan Chandika berkecamuk, ada perasaan grogi, takut kalau ada kenapa-kenapa, tapi di satu sisi senang dan tidak sabar menyambut kelahiran anaknya. Chandika bahkan membiarkan Cherika memegang lengannya dengan begitu kencang, rasa sakit yang dia rasakan tidak sebanding dengan istrinya.


Semua prosesnya berjalan normal, tanpa tindakan caesar. Cherika memang perempuan yang sangat kuat karena lebih memilih melahirkan secara normal.


Cherika sedang mengej*n. Chandika memegang tangan Cherika dan mengelap keringat yang membanjiri wajah istrinya, tidak henti-hentinya Chandika memberi kata-kata penyemangat dan bacaan surah-surah Al-Qur'an.


Chandika melihat jika kepala dan pundak si bayi sudah keluar sebagian, bidan membantu menariknya.


'Itu anakku,' batin Chandika terbengong menatap tubuh bayi yang berwarna merah dan licin karena darah.

__ADS_1


Awalnya si bayi menangis tidak bersuara, Bidan menyentil telapak kaki si bayi untuk membantu membuat menangis.


"Owek... Owek... Owek"


Terdengar suara tangis yang membuat haru biru, Chandika menatap Cherika yang terlihat lemas dan sangat pucat. Istrinya sudah melahirkan dengan taruhan nyawa.


"Terima kasih, sayang," ucap Chandika dengan mengecup kening Cherika.


Setelah diurus oleh bidan, si bayi kemudian Chandika azani. Momen yang begitu mengharukan. Dia sampai menitikkan air mata haru atas anugerah yang telah dilimpahkan Tuhan kepadanya.


"Anak kita begitu cantik seperti kamu," kata Chandika yang meletakan si bayi di samping Cherika, si bayi membutuhkan *sih.


"Sepertinya lebih mirip kamu," lirih Cherika mencium pipi anaknya, dia mulai membuka kancing baju teratasnya dan untuk memberi minum si mungil.


Chandika terkekeh, "Kalau mirip aku berarti tampan dong bukannya cantik."


"Tentu saja cantik."


"Aurora Lovania Aldebaron," kata Chandika membelai tangan kecil putrinya, "Cahaya pagi yang hadir mengawali hari."


"Nama yang indah."


Kehidupan yang sempurna telah pasangan itu dapatkan, mereka telah mendapat seorang putri yang sangat cantik.


Sementara itu.


Bunga matahari yang terdapat di vas kaca transparan seakan bersinar saat terkena sinar matahari pagi. Bunga yang melambangkan harapan, kebahagiaan, energi, keindahan, dan kegembiraan.


"Selamat datang ke dunia bayi cantik..."


Sayup-sayup terdengar suara Cynderyn yang merasa senang karena kelahiran Aurora.


...NOVELTOON...


..."Transmigrate : Tubuh Yang Tertukar"...


...──────End──────...


...Halo Reader dan teman-teman Author yang sudah bersama "Transmigrate : Tubuh Yang Tertukar" sampai akhir....


...Aku senang karena sudah di tahap ini, semoga cerita ini dapat memberikan kesan yang mendalam untuk kalian....


...Aku berharap kalian mendapatkan kebahagiaan....


...Terima kasih untuk semua dukungannya....


...Salam dari Author _ElwiChloe....

__ADS_1


...꧁꧂...


__ADS_2