
"Sedang apa kamu di situ, kucing nakal?"
Cherika langsung melongok ke bawah dan melihat pemuda tercintanya tengah menatapnya dengan kikian geli.
"Huaaa Dika... " ucap Cherika tidak bisa menahan bendungan air matanya lagi, dia menangis. "Tolong aku..."
"Shtt, jangan menangis, sini loncat," ujar Chandika dengan merentangkan tangannya. Dia tidak menyangkah jika gadisnya yang kuat itu akan menangis karena nyangsang di atas pohon.
Jika ditanya kenapa Chandika bisa berada di sini karena sejak awal jiwanya dan Cherika sudah terhubung seperti benang merah yang mengikat. Pemuda itu dapat merasakan jika gadisnya tengah mengalami kesulitan. Dan dengan secepat kilat dia langsung datang untuk menolong Cherika.
Cherika langsung meloncat tanpa bertanya lagi, dia hanya mempercayai Chandika yang benar-benar akan menangkapnya di bawah sana.
Dan benar saja. Cherika langsung merasakan pelukan hangat pemuda itu.
"Kenapa lama sekali ..hiks," gumam Cherika dengan masih sesenggukan.
"Karena rumahku jauh," jawab Chandika apa adanya. Tadi dia memang sedang ada di mansion, dia masih harus belajar untuk mengurus perusahaan.
"Kenapa nggak didekatin saja?" tukas Cherika semakin erat memeluk Chandika. Dia sangat lega karena pemuda itu datang menolongnya.
"Tunggulah, aku sedang berjuang untuk menghalalkan dirimu," kata Chandika lembut.
Seketika kedua pipi Cherika merona. Gadis itu segera menghapus jejak air matanya, dia tidak menyangka jika akan menangis di hadapan pemuda yang menurutnya cengeng itu.
"Terima kasih, Dika," ucap Cherika. Kemudian dia berjinjit untuk mencium sudut bibir Chandika.
Chandika yang mendapatkan ciuman tiba-tiba tertegun sesaat. "Sama-sama, sayang," jawanya kemudian dengan tersenyum lembut.
"Ayo aku antar pulang," lanjut Chandika mengurai pelukan mereka.
"Tapi aku lapar," ucap Cherika dengan wajah cemberut.
"Baiklah kita cari makan dulu."
"Aku ingin mie ayam!" seru Cherika yang masih saja terbayang akan kelezatan makanan itu.
"Mie ayam?" Chandika membeo.
Cherika mengangguk antusias, dia langsung memakai kembali sandal Velcro miliknya dan menarik tangan Chandika untuk segera mencari mie ayam.
"Apa kamu ingat taman ini?" tanya Cherika di tengah-tengah langkanya.
"Tentu saja," jawab Chandika cepat. Mana mungkin dia lupa tentang kenangan itu.
"Sebenarnya aku ingin lebih lama lagi di sini untuk nostalgia bersama kamu, tapi aku sudah sangat lapar."
"Nanti kita bisa ke sini lagi, sayang," saran Chandika.
Cherika mengangguk. "Di mana mobilmu?"
"Aku tidak membawa mobil."
__ADS_1
"Terus kamu naik apa ke sini?" tanya Cherika heran, dia memang tidak melihat mobil si pemuda di manapun.
"Aku naik itu," tunjuk Chandika ke atas langit.
Cherika langsung mendongak ke atas, dan betapa terkejutnya saat melihat helikopter dengan tangga gantung yang masih menjuntai.
"Kamu naik helikopter hanya untuk datang ke sini?" tanya Cherika masih terkaget-kaget.
"Ya, agar aku cepat sampai."
Cherika melongo tidak elitnya. Pemuda itu menaiki helikopter sudah seperti naik angkutan umum saja. Lihat saja helikopter itu segera pergi ketika Chandika mengangkat tangan.
"Ayo cari mie ayam," ajak Chandika setelahnya yang menyadarkan Cherika.
Mereka berdua berjalan dengan tangan yang saling bertaut, kadang mereka mengobrol kecil dan tertawa bahagia.
"Itu gerobak mie ayam!" seru Cherika menunjuk gerobak berwarna biru.
"Hah? Bukannya kita akan mencari restauran?" tanya Chandika kaget ketika kekasihnya menariknya menghampiri si penjual mie ayam.
"Siapa bilang? Aku ingin makan di pinggir jalan," kilah Cherika.
"Jangan," cegah Chandika segera menghentikan langkahnya dan sontak Cherika ikut berhenti. "Itu tidak higienis, kita ke restauran mie saja. Nanti kamu sakit perut, sayang."
"Mana ada sakit perut, aku biasa beli di sini kok. Pedagangnya saja sudah kenal denganku," sengit Cherika dengan melepas paksa genggaman Chandika.
"Bang, mie ayam bakso dan es teh manis satu," kata Cherika pada pria penjual mie ayam.
"Oh, neng geulis? Kemana saja? Sudah lama nggak ke sini," kata penjual mie ayam yang memang benar sudah mengenal Cherika.
"Oh, sedang bersama pacar?" tanya penjual itu yang melihat Chandika menghampiri Cherika.
Cherika menggangguk untuk mengiyakan. Bisa nangis Chandika jika dia tidak menganggapnya pacar.
"Masnya mau pesan juga?" tanya pria itu pada Chandika yang terlihat kurang nyaman.
"Tidak," jawab Chandika tersenyum.
"Pacarannya ganteng banget ya, neng," kata si penjual mie ayam pada Cherika.
Cherika menggangguk mengiyakan. 'Tentu saja Dika-ku yang paling ganteng sedunia,' batinnya bangga.
Cherika langsung beranjak untuk duduk di bangku dan diikuti Chandika yang duduk di sebelahnya. Gadis itu menunggu pesanannya dengan bersenandung pelan, dia tidak sabar untuk mengisi perut keroncongannya.
Chandika hanya memperhatikan kekasihnya tanpa berkedip. Seketika dia melupakan rasa tidak nyamannya.
"Silahkan," kata si penjual dengan meletakan satu porsi mie ayam dan es teh manis di atas meja.
"Terima kasih," ucap Cherika senang.
Gadis itu menuangkan saus, sambal, dan mengaduk mie ayam itu. Lalu segera menyantapnya.
__ADS_1
"Kamu mau?" tanya Cherika pada pemuda yang sejak tadi tidak lepas dari menatapnya.
Fokus pemuda itu adalah bibir Cherika yang terbuka sedikit dan terlihat memerah karena pedas. Sungguh menggoda iman. Chandika mengangguk tanpa sadar.
"Buka mulutmu," perintah Cherika yang dimaksudkan lain oleh Chandika.
Chandika segera menurut membuka mulutnya.
Bukannya mendapatkan bibir yang menggodanya itu, tapi dia mendapatkan suapan mie ayam yang kelewat pedas.
"Uhuk.. uhuk," Chandika terbatuk dan dengan segera meminum habis es teh manis milik Cherika. Dia tidak kuat untuk memakan sesuatu yang kelewat pedas.
Cherika melotot melihat minumannya telah kandas dengan sekejap. "Kenapa kamu meminum semuanya?" tukas Cherika kesal.
"Ah, maaf. Aku tidak kuat pedas," jawab Chandika jujur.
"Hais, kalau nggak kuat kenapa asal mengangguk dan membuka mulut," ketus Cherika.
Chandika hanya mengelus tengkuknya karena malu, tidak mungkin dia berkata jujur tentang isi pikirannya.
Karena kesal dengan Chandika gadis itu seketika ingat tentang nilai-nilainya yang anjlok. Lengkap sudah rasa kesalnya sekarang.
Chandika yang menyadari jika kekasihnya semakin merengut kesal menjadi bingung. "Apa aku melakukan kesalahan?" tanya pemuda itu hati-hati.
"Oh, kamu sadar?" kilah Cherika dengan bersedekap.
"Maaf karena sudah menghabiskan minuman kamu," kata Chandika yang mencoba menghibur kekasihnya yang dalam mode merajuk itu.
"Bukan karena itu."
"Lalu?" tanya Chandika semakin bingung.
"Gara-gara kamu beasiswaku hampir dicabut. Kenapa bisa kamu yang seorang putra tunggal keluarga kaya raya bisa mendapat nilai sangat buruk?" jelas Cherika dengan emosi yang meluap-luap.
"Hanya karena itu kamu marah?" tanya Chandika dengan watados. "Aku akan membeli sekolah itu supaya kamu tidak perlu beasiswa lagi."
"Kamu bilang hanya? Itu adalah hal yang besar dan jangan selalu menggampangkan segalanya dengan uang! Jika seperti ini aku tidak mau menikah dengan kamu!"
Bagai tersambar petir Chandika kaget luar biasa mendengar perkataan Cherika. "A-apa??"
"Aku tidak mau jika anak-anakku kelak akan menjadi bodoh seperti kamu," ucap Cherika yang sangat menohok itu.
Badan Chandika membeku seketika.
"Aku tidak mau tahu, perbaiki nilai kamu," tukas Cherika dengan ekspresi serius.
Cherika langsung bangkit dari duduknya untuk membayar pesanannya dan langsung pergi meninggalkan Chandika yang masih shock di tempat.
"Sabar ya, mas. Mungkin kalian belum jodoh," celetuk si pedang mie ayam yang mendengar pertengkaran sepasang kekasih itu.
Chandika yang sudah tersadar langsung mengejar Cherika.
__ADS_1
'Sabar gundulmu, mana mau aku jika tidak menikah dengan Cherika,' batin Chandika dengan gusar.
_To Be Continued_