Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
To Be Better


__ADS_3

Langit yang tadinya gelap gulita kini tergantikan dengan langit cerah yang sangat berawan.


Bau obat yang begitu menyengat adalah hal pertama yang dirasakan Jane, kelopak matanya terbuka dan pupil matanya segera mengontrol cahaya yang masuk ke mata.


"Sudah bangun?" tanya Danny saat melihat Jane tersadar.


Jane terkejut dan langsung mencoba terduduk. "Danny?"


"Ya, lo kira gue setan?" tukas Danny agak tersinggung. Tidak ingatkah gadis itu siapa yang telah kerepotan karena ulahnya?


"Di mana ini?"


"Rumah sakit."


"Uhm.. Terima kasih," kata Jane dengan wajah yang masih terlihat sangat pucat.


"Ya, lo memang harus berterima kasih karena sudah sangat merepotkan," ketus Danny.


"Maaf..."


"Aih, berhentilah meminta maaf. Sejak semalam lo terus-terusan mengatakan maaf."


Jane pun malu seketika. Sekarang dia ingat apa yang telah terjadi sebelumnya. "Ma—"


Danny langsung menyentil dahi Jane hingga siempunya menjerit. "Akh! Apa yang lo lakukan, sialan!?"


"Akhirnya lo sadar juga, cewek yang suka misuh-misuh telah kembali," ucap Danny tanpa rasa bersalah.


"Ck, pergilah. Gue lagi tidak bertenaga untuk berdebat dengan lo," kata Jane kesal.


Bukannya pergi, Danny justru mendudukkan dirinya di bangku sebelah ranjang.


"Pergi nggak lo! Atau lo mau menertawakan gue atas apa yang telah terjadi pada diri gue??" lanjut Jane dengan rasa sesak di hatinya.


"Pede banget lo," ucap Danny mengeryit.


Jane semakin melototkan mata Jadenya.


"Wanita hamil tidak baik marah-marah, itu bisa berakibat buruk untuk bayi lo," saran Danny.

__ADS_1


Si gadis blaster seketika tersadar, dia segera mengelus perutnya yang sudah agak membuncit itu.


"Gue mempunyai kakak perempuan yang sangat mirip dengan lo," kata Danny tiba-tiba.


"Mirip dengan gue?" tanya Jane bingung. Kenapa juga pemuda itu tiba-tiba bercerita?


"Ya, dia adalah wanita hamil yang berujung bunuh diri karena frustasi."


Deg


Seketika badan Jane menegang, dia juga sempat untuk berfikir bunuh diri. Apakah pemuda itu tahu niatnya?


"Gue tahu jika gue hanya orang luar yang kebetulan menolong lo, tapi gue minta agar lo tidak melakukan hal gegabah," ucap Danny dengan menatap dalam Jane.


"Bunuh diri tidak menyelesaikan masalah. Itu hanya membuat lo jauh lebih buruk, bunuh diri bukanlah jalan untuk menebus kesalahan."


Jane yang mendengarnya seketika menangis, dirinya yang sekarang memang sangatlah lemah. Saat ini dia membutuhkan seseorang yang membangkitkan gairah hidupnya. Dan dia harus berterima kasih pada Danny. "Terima kasih..." ucap Jane dengan terisak.


Ya, demi bayinya dan dirinya sendiri. Nasi yang sudah menjadi bubur tidak mungkin bisa menjadi nasi lagi, tapi bubur masih bisa berguna karena masih bisa di makan. Jane akan berusaha hidup menjadi lebih baik dan mencari kebahagiaan bersama anaknya kelak, dia ingin menebus semua kesalahannya.


**


Sore hari, pukul 15:41.


Terlihat sekali jika Agust sangat dihormati di Dojo, pemuda berkulit putih itu adalah memegang sabuk hitam sekaligus mantan pelatih di tempat ini. Itulah mengapa Cherika sangat mahir dalam bela diri, Agust lah yang mengajarinya. Bahkan Cherika dapat meraih juara tingkat Nasional dan beberapa penghargaan karena ajaran dari sang kakak.


Cherika menatap Chandika yang sudah siap dengan kimono putih dan sabuk putih. Dilihat dari sabuk pun tidak mungkin jika Chandika dapat melawan Agust dengan seimbang. Apalagi image Chandika yang anak mami dan menye-menye itu. Habislah sudah Chandika.


Ingin sekali Cherika menangis saat ini juga, kenapa kakak pertamanya begitu tega?


"Shtt, tidak usah khawatir," kata Chandika mencoba menenangkan kekasihnya yang begitu khawatir padanya.


"Menyerahlah, kamu tidak akan mampu melawan bang Agus," ujar Cherika dengan tatapan pias.


"Tidak salahnya untuk dicoba, bukan?" kilah Chandika dengan box smile miliknya.


"Jangan! Aku tidak mau kamu terluka, Dika..." cicit Cherika dengan memegang ujung kimono putih si pemuda mullet.


"Biar saja, aku tidak perduli akan hal itu. Yang terpenting sekarang adalah mendapat restu dari kakak laki-lakimu," kata Chandika mengelus sayang surai ponytail Cherika.

__ADS_1


"Biar aku yang berbicara baik-baik dengan bang Agust, aku akan membujuknya. Jadi kamu tidak usah bertarung ya?" ucap Cherika masih berusaha menghentikan pemudanya.


Chandika menggeleng pelan. "Tidak usah, sayang. Aku akan membuktikan jika aku memang pantas untuk menikah dengan kamu."


"Sudahlah, Cheri. Chandika itu cowok, jadi tidak apa-apa jika bonyok dan patah tulang sedikit," kata Aland yang semakin memperburuk suasana hati Cherika.


"Nggak!" seru Cherika menggeleng kuat, dia semakin kuat memegang ujung kimono putih Chandika. Tidak berniat membiarkan pemuda itu pergi ke tengah-tengah arena pertarungan.


"Jangan ditarik-tarik dong, nanti bisa melorot," bisik Chandika yang mencoba melepas genggaman Cherika yang begitu kuat.


Cherika langsung refleks melepaskan Chandika. Tidak mungkin dia membiarkan sesuatu yang berharga itu dilihat oleh orang lain. Chandika memanfaatkan kesempatan itu untuk berlalu ke arena pertandingan yang sudah ada Agust yang menunggu dirinya.


Cherika hanya menatap tidak rela Chandika yang sudah pergi.


"Lo sudah kayak istri yang ditinggal perang sama suami saja," celetuk Nathan.


Cherika hanya mendiamkan Nathan, tatapannya tidak lepas dari pemuda tercintanya. Cherika dan ke 5 kakak laki-lakinya memang sengaja datang untuk menyaksikan pertarungan antara Chandika dan Agust.


"Gue yakin Chandika akan roboh dengan sekali pukul," kata Aland sambil memakan popcorn. Bagi dirinya ini adalah tontonan yang menarik.


"Pasti dia akan menangis setelahnya," sambung Nathan yang ikut mencomot popcorn milik Aland.


"Gagal deh dapat motor," ucap Guinendra dengan kecewa.


"Bang Agust, benar-benar nggak berniat merestui Chandika," tukas Ganendra dengan memegang dagunya seolah berpikir.


"Kasian sekali Chandika," kata Malvin menatap Chandika prihatin.


"Berisik, ihh!" seru Cherika dengan kesal pada ke 5 kakak laki-lakinya yang seakan memojokan Dika-nya.


Kini Chandika sudah berada di arena pertandingan dan berhadap-hadapan dengan Agust yang juga mengenakan kimono putih dan sabuk hitam miliknya. Terlihat sekali wajah datar dan penuh ketenangan dari pemuda berkulit putih itu. Jika ditanya bagaimana ekspresi dari Chandika, pemuda itu entah kenapa terlihat tidak kalah tenangnya dengan Agust.


"Tidak menyerah saja?" tanya Agust dengan masih berekspresi datar.


"Tidak," jawab Chandika mantap.


Sedikit informasi, Karate adalah salah satu seni beladiri yang memanfaatkan tendangan, serangan dengan pukulan, serta pertahanan murni menggunakan tangan dan kaki tanpa alat. Teknik bela diri jenis ini menekankan pada konsentrasi dan kekuatan tubuh pada titik serang dan pertahanan yang dituju.


Wasit pun memulai pertandingan itu, Chandika dan Agust langsung membungkuk sebelum memulai pertarungan mereka.

__ADS_1


Agust mulai melakukan serangan lima langkah kedepan untuk mencapai wilayah Chandika, dan Chandika bertahan dengan melangkah mundur dan menangkis lima kali.


_To Be Continued_


__ADS_2