
"Siapa yang sudah menyuruhmu?" tanya pria paruh baya yang masih terlihat gagah pada wanita yang sedang terikat di kursi.
Wanita itu hanya menggeleng dengan wajah pucat ketakutan.
BUG
Kepalan tinju mendarat di pipi wanita itu, pipinya terasa berdenyut sakit hingga giginya ingin rontok.
"Jawab, wanita sialan!" bentak Jauzan pada wanita itu, emosinya seakan meluap, wanita di depannya adalah seorang kaki tangan penculik yang sudah mengakibatkan putranya mengalami traumatis dan rasa ketakutan sepanjang hidup.
Jauzan adalah pria yang sangat menyayangi keluarganya, jika ada seseorang yang berani mengusik keluarga berharganya, dia tidak segan untuk bertindak kejam, meskipun orang itu adalah wanita.
Segera dia ambil pistol dari balik jas abunya dan segera mengarahkan tepat di tengah-tengah kepala wanita yang terikat itu. "Katakan atau saya tembak mati!" perintahnya dengan nada ancaman dan mata hitam yang berkilat tajam.
"Alvin. Alvin Radeya Adhideva yang menyuruh saya," kata wanita itu cepat karena takut kepalanya bolong oleh peluru. "Ampuni saya, tuan," sambung wanita itu dengan tatapan takut.
Jauzan tidak terkejut mengetahuinya. Dia memang sudah menduga jika Alvin yang menculik Chandika, tapi dia tidak mempunyai cukup bukti, karena buktinya hanyalah dengan menangkap wanita di depannya, dan wanita ini sangat sulit untuk ditangkap.
Dia bukanlah orang yang suka menuduh orang tanpa bukti.
"10 tahun yang lalu saya menyelinap ke kediaman Aldebaron atas bantuan Alvin dan membawa putra tuan," ucap wanita itu mengaku, yang membuat Jauzan semakin geram. "Saya sudah mengatakan semuanya, tolong lepas–"
DOR
Jauzan langsung menarik pelatuk pistol dan membuat peluru menembus kepala wanita itu.
"Kenapa tuan membunuh wanita itu?" tanya Danny tidak percaya, pemuda itu sejak tadi ada di belakang Jauzan, sia-sia saja dia mencari si wanita bertahun-tahun jika akhirnya hanya dibunuh.
"Sampah sepertinya memang seharusnya mati," kata Jauzan dingin dan memasukkan kembali pistolnya ke dalam balik jas.
"Tapi tuan, dia adalah satu-satunya saksi untuk menjebloskan Alvin ke dalam penjara."
"Siapa bilang saya akan memenjarakan dia?" tanya Jauzan pada Danny dengan pandangan tajam. "Saya akan langsung membunuhnya."
**
Pukul 10.00 malam.
Langkah kaki dengan sepatu boots hitam mengendap di luar pagar rumah yang menjulang tinggi.
"Apa benar di sini posisi amannya?" tanya Chandika pada Galen yang mengendap di belakangnya.
"Ya, Menurut data yang gue temukan, kediaman Adhideva memang dijaga ketat oleh banyak bodyguard dan mafia bayaran, kediaman ini mempunyai bentuk bangunan yang simetris, ada tiga pintu masuk. Gerbang pertama, adalah pintu utama yang digunakan keluar masuk. Gerbang ke dua, pintu untuk para pelayan. Gerbang ke tiga, pintu untuk keadaan darurat. Kita sedang berada di pintu gerbang ke tiga yang kurang ketat akan penjagaan."
"Hati-hati, kita akan berpencar mulai dari sini. Gue dan Justin ke gerbang utama untuk menarik perhatian, Axel dan Haidar akan ke gerbang dua, lalu Leo dan Galen akan ke gerbang tiga. Kunci utamanya ada di Leo dan Galen, sisanya hanya sebagai umpan," jelas Kelvin si wakil ketua yang ahli strategi.
"Ok," jawab ke enam pemuda itu secara bersamaan.
Mereka mulai berpencar dan menyisahkan Chandika dan Galen yang masih di depan gerbang ke tiga.
Chandika langsung memutar-mutar tali karmantel dan melemparnya ke sisi dalam pagar dan tali itu segera menancap di pilar bangunan. Setelah merasakan besi dari tali yang sudah menancap dengan kuat, dia langsung melompat masuk ke dalam. Galen mengikuti setelahnya.
HAP
Mereka berdua langsung mendarat di tanah yang berumput.
"Bagaimana Cctv-nya?" tanya Chandika yang menyembunyikan diri di titik buta Cctv.
"Sebentar," kata Galen langsung mengeluarkan sebuah tablet dan menggerak-gerakkan satu jari tangannya dengan cepat.
Tap
Zrettt
Seketika Cctv di kediaman Adhideva berhasil dia masuki virus dan menjadi error.
__ADS_1
"Ada apa ini kenapa semua Cctv-nya bermasalah?" kata pria yang berada di dalam ruang pemantauan melihat semua layar monitor menjadi abu-abu.
"Cepat perbaiki!" seru pria yang satunya.
Seketika ruang pemantauan menjadi ribut.
Di lain sisi, Galen hanya menyeringai. "Sudah aman," lanjutnya dan segera mengikuti Chandika berjalan mengendap.
"Tunggu!"
Seketika Chandika dan Galen menegang karena seruan seorang pria, secepat itukah mereka ketahuan.
"Tunggu istriku.. jangan marah, aku masih bekerja," kata seorang pria botak yang berdiri membelakangi mereka berdua, pria itu sedang menelepon.
"..."
"Oh ayolah cantikku, masa tidak dikasih jatah sih!?"
"..."
"Aku tidak mungkin izin pulang,"
"..."
"Jangan seperti itu," rengek pria botak itu pada orang yang sedang berbicara dengannya.
Chandika dan Galen hanya speechless di tempat karena melihat pria botak yang tidak menyadari keberadaan mereka.
'Pria botak ini lagi??' batin Chandika heran menatap pria botak yang telah menguntitnya waktu itu, pria itu sedang merengek seperti bayi, sangat kontras dengan badan yang besar dan berotot. 'Jadi dia adalah suruhan Alvin,' lanjutnya sambil mengepalkan tangan.
"Pftt.." Galen hanya tertawa tertahan melihat pria botak itu, pria besar berhati Hello Kitty.
"Ya, sayang.. kamu sab–"
BUG
[Sayang? Ada ap–]
Sambungan telepon langsung Galen reject.
Chandika langsung menyeret dan meletakkan pria botak itu ke balik semak-semak.
"Gue akan memakai ini, sepertinya menyamar akan lebih mudah," kata Chandika sambil melucuti baju serba hitam pria yang sedang tidak sadarkan diri.
"Lalu bagaimana dengan gue?" tanya Galen dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Gue nggak urus."
"Sialan!" umpat Galen kesal dengan Chandika. "Gue kan yang tahu denah mansion ini, bagaimana lo bisa ke ruang bawah tanah?"
"Oh, betul juga," kata Chandika dengan menepuk jidatnya.
"Dasar generasi micin yang gampang lupa," ejek Galen.
Chandika hanya mendengus dan mata hitamnya melihat pria lain yang mendekat ke mereka.
"Siapa di sana!?" seru pria berpakaian serba hitam yang membuat kedua pemuda waspada.
"Ini bagian gue."
DUAK
Tendangan kaki diarahkan ke leher pria itu, hingga membuat pingsan.
"Gue kira lo cuman jago main komputer doang."
__ADS_1
"Bukan main komputer biasa, tapi gue adalah perentas kelas kakap," kata Galen dengan sombong.
"Ya, ya, terserah lo. Cepat lucuti dia dan ikat bersama si botak."
Mereka berdua langsung mengganti pakaian masing-masing dengan pakaian serba hitam dan langsung mengikat kedua pria yang pingsan dengan hanya menggunakan pakaian dalam dan menutup mulut mereka dengan kain.
**
Di gerbang pertama.
"Siapa kalian?" tanya pria serba hitam pada Kelvin dan Justin yang tiba-tiba saja datang.
DOR
DOR
DOR
DOR
Sebuah peluru menembus dada ke empat pria yang sedang menjaga pintu gerbang.
Justin si pelaku penembak, dia adalah penembak jitu sekaligus perakit senjata api. Dua buah revolver gold berada di kedua tangannya.
"Menyenangkan juga," kata Justin dengan menyeringai setan.
"Fokuslah, Justin," kata Kelvin yang memegang samurai.
"Ya."
Crash
Crash
Kelvin langsung menebas badan pria yang menghalangi jalannya, darah memuncak ke bibir bagian atasnya, dan dia langsung menjilatinya. "Tidak buruk," katanya dengan mata yang sudah memerah.
Justin yang melihatnya hanya memutar bola mata. Oh ayolah, siapa di sini yang sekarang tidak fokus dan malah kesenangan sendiri.
**
Di gerbang ke dua.
BUG
BUG
BUG
Sebuah tinju yang dilapisi brass knuckel mengenai muka seorang pria berpakaian serba hitam.
"Berhentilah menghalangi jalan!" seru Haidar yang mempunyai julukan tunju besi, dia adalah petinju di dunia gelap.
"Bocah ingusan sialan!" seru pria yang lain pada Haidar, pria itu ingin menyergap Haidar dari belakang dengan belati.
DOR
DOR
"Wow, bagus juga benda rakitan Justin," ucap Axel dengan memegang senapan serbu heckler dan melihat pria yang tadi tertembak di bagian kedua bagian dada.
"Hati-hati, bodoh! Jangan sampai menembak gue!" seru Haidar pada Axel yang sedang menunjukan ekspresi seperti anak kecil padahal dia habis membunuh orang.
"Kalau tertembak ya tinggal meninggoyy," ucap Alxel masa bodo.
"Manusia luctnut!
__ADS_1
Ya, Semua anggota inti Bruiser adalah orang-orang sakit jiwa yang sengaja di kumpulkan Alvis.
_To Be Continued_