Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : To The Office


__ADS_3

Cherika memasuki gedung pencakar langit dengan menenteng tas yang berisi bekal makanan untuk Chandika. Akhir-akhir ini Chandika memang mengeluh jika pola makannya tidak teratur saat di kantor. Dengan meminta pelayan untuk memasak dan menyiapkan bekal, Cherika berinisiatif untuk mengajak Chandika untuk makan malam bersama.


"Saya ingin bertemu dengan Chandika," kata Cherika pada resepsionis.


Resepsionis menatap Cherika dari atas ke bawah. Cherika tampak menggemaskan dengan balutan busana berwarna senada yakni asymmetric skirt dan atasan lengan pendek, dipadukan dengan sneakers hitam.


"Apa sudah membuat janji?" tanya resepsionis. Dalam hati dia berpikir kenapa gadis SMA ingin bertemu dengan Presdir? Cherika memang terlihat sekali seperti anak SMA karena mempunyai perawakan mungil.


"Bilang saja padanya jika Cherika ingin bertemu," ucap Cherika dengan tersenyum manis.


'Imutnya,' batin si resepsionis menahan gemas melihat Cherika.


"Baiklah, tunggu sebentar," ujar resepsionis dengan mengangkat ganggang telepon dan segera menyambungnya pada sekretaris Chandika.


Cherika menunggu saat resepsionis itu berbicara di telepon. Dia celingak-celinguk melihat sekeliling. Ini memang bukanlah kali pertama dia datang ke kantor, sebelumnya dia memang sudah pernah datang ke kantor sebelum bertukar tubuh. Dia baru menyadari jika menjadi pusat perhatian dari semua karyawan. Mereka menatapnya penasaran.


"Maaf, nona. Beliau sedang ada meeting, nona bisa menunggu. Jika Beliau sudah selesai saya akan memberi tahu lagi," kata resepsionis setelah menelepon.


"Baiklah," jawab Chandika langsung melangkah ke kursi tunggu lobi, dan dia mendudukkan dirinya di sana.


"Apa resepsionis tadi tidak bilang jika aku yang ingin bertemu? Masa aku disuruh menunggu di sini?" gumam Cherika cemberut.


Dan kenyataan memang benar si resepsionis tidak bilang jika Cherika yang ingin bertemu dengan Chandika. Resepsionis itu hanya bilang jika ada seorang gadis yang ingin bertemu.


Cherika melihat arloji yang melingkar manis di pergelangan tangannya, sekarang sudah pukul 8 malam, sudah 2 jam dia menunggu tapi belum ada kabar dari resepsionis. Ini sudah lewat dari jam makan malam, Cherika sangat lapar karena sengaja tidak makan agar bisa makan bersama dengan Chandika. Tapi justru dia seperti anak hilang di lobi kantor.


Cherika merasakan kantuk karena sudah terlalu lama menunggu, dan pada akhirnya gadis manis itu tertidur dengan keadaan terduduk.


Tap


Tap


Tidak lama kemudian suara langkah sepatu pantofel menuju ke arah Cherika.


Chandika sangat terkejut ketika melihat Cherika yang tengah menunggunya hingga tertidur di lobi kantor. Tanpa menunggu lagi dia menggendong Cherika bridal style dan tidak lupa membawa tas yang dibawa gadis itu.


Semua karyawan terkaget-kaget saat melihat jika Presdir muda mereka tengah menggendong seorang gadis mungil. Mereka bertanya-tanya siapa gadis itu sebenarnya.


"Lain kali jika dia datang lagi tidak usah menghalanginya untuk bertemu denganku, dia adalah istriku," kata Chandika pada resepsionis.


"Maaf, pak. Saya tidak tahu," ucap resepsionis menunduk takut.


"Ya."


Setelahnya Chandika berlalu untuk menaiki lift, menuju lantai teratas gedung ini, tepatnya ruangannya.


Perusahaan Aldebaron digegerkan dengan berita jika sang Presdir muda sudah mempunyai istri. Banyak karyawati yang galau dan patah hati dibuatnya.


**


Di ruangannya Presiden Direktur.

__ADS_1


Cherika membuka matanya dan menampakkan iris berwarna coklat miliknya, tidurnya terusik saat Chandika menidurkan di sofa maroon yang cukup luas.


"Sudah bangun?" tanya Chandika dengan megusap pipi gembil Cherika.


"Apa aku tertidur?" gumam Cherika langsung terduduk. "Kenapa kamu lama sekali, aku sampai hampir mati karena bosan di lobi," lanjutnya merengek.


Chandika terkekeh. "Maaf, tadi aku ada meeting. Jika aku tahu kamu sedang menunggu di lobi pasti aku akan segera menjemput kamu. Tapi sekretaris tidak bilang jika kamulah yang sedang menunggu," jelas Chandika.


"Padahal aku sudah bilang jika Cherika yang ingin menemui kamu. Apa mereka tidak bilang padamu?"


Chandika menggeleng. "Apa aku harus memecat mereka?" tanya Chandika dengan mimik yang serius. "Padahal kan kamu yang sebenarnya Presdir, mereka justru membuat kamu menunggu di lobi."


"Tidak usah, mereka juga tidak tahu akan hal itu," kata Cherika mengibas-ngibaskan tangannya.


"Hmm," gumam Chandika.


"Aku kangen sekali padamu, sayang," ucap Cherika dengan manja, dia memeluk Chandika yang terduduk di sebelahnya.


Chandika membalas pelukan Cherika. "Padahal tadi di sekolah kita bertemu."


"Kan memang aku selalu kangen padamu."


Si pemuda mullet tertawa renyah. "Aku juga kangen padamu."


Mereka semakin erat berpelukan.


"Oh iya, apa kamu sudah makan?" tanya Cherika melepas pelukan mereka.


"Aku membawakan kamu bekal. Ayo kita makan bersama," kata Cherika dengan membuka tas yang tadi dia bawa.


Seketika Chandika berbinar senang. "Wahh, kamu jadi seperti istri sungguhan."


"Ya, kita kan memang sekarang sedang bertukar peran," ucap Cherika terkekeh.


"Jadi makin sayang," kata Chandika mencubit pipi Cherika gemas.


"Tapi tidak pakai cubit segala," Cherika mengusap pipinya yang memerah. "Sakit tahu..."


"Habis kamu menggemaskan sekali," Chandika mengecup pipi Cherika yang tadi dia cubit.


Cherika merona setelahnya.


"Tuh kan gemes banget," kata Chandika dengan menggigit bibir bawahnya menahan hasrat ingin mencubit lagi pipi dengan semburat merah itu. Tubuh aslinya yang ditempati jiwa Chandika asli memang menjadi sangat imut dan menggemaskan.


"Sudahlah, ayo kita makan," ujar Cherika menutupi rasa salah tingkahnya.


"Siapa yang memasak?" tanya Chandika saat melihat bekal makanan yang Cherika bawa.


"Tentu saja pelayan," jawab Cherika tanpa beban.


"Aku kira kamu... "

__ADS_1


"Oh, aku lupa. Si tuan muda manja mana bisa memasak," kata Chandika manggut-manggut.


Cherika menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Apa kamu kecewa?" tanyanya jadi kikuk sendiri.


"Tidak kok, aku justru sangat senang karena kamu membawakan aku bekal dan menemui aku di kantor," jawab Chandika tersenyum.


"Kalau begitu aku akan sering-sering datang ke sini," ujar Cherika dengan semangat.


"Bukan ide yang buruk."


"Yasudah ayo kita makan, aku juga sangat lapar," ajak Cherika. Sedari tadi perutnya memang meronta untuk diisi.


"Sini," ucap Chandika menepuk pahanya.


Cherika yang paham langsung duduk dipangkuan Chandika. "Suapi aku," katanya kemudian.


"Ya, suami kecil-ku," ucap Chandika dengan menyendok makanan dan menyuapi Cherika, dia pun juga menyuapi dirinya sendiri.


Acara makan malam bersama yang Cherika rencanakan akhirnya terlaksana. Mereka berdua makan dengan diselingi obrolan ringan yang semakin menambah kemesraan pasangan muda itu.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu mengalihkan Chandika dan Cherika. Bukannya turun dari pangkuan si pemuda, Cherika justru semakin menyamankan posisinya.


"Masuk," kata Chandika dengan husky voice miliknya.


Pintu terbuka dan menampakkan Danny yang sedikit terkejut karena melihat kemesraan pasangan suami-isteri itu. Danny memang sekarang sudah resmi bekerja dengan Chandika dan menjadi tangan kanan si Presdir muda.


"Maaf mengganggu, tuan muda. Saya ingin memberikan laporan dan meminta tandatangan," ucap Danny menunduk sopan.


"Taruh saja di meja," perintah Chandika dan segera dipatuhi oleh Danny.


"Danny, kamu ingin ikut makan bersama kita?" tawar Cherika tiba-tiba.


"Ah, tidak, nyonya muda. Terima kasih atas tawarannya. Tapi saya sudah makan," tolak Danny. Lagi pula mana mau dia jadi kambing congek jika ikut bergabung dengan Chandika dan Cherika.


"Yasudah, kamu keluarlah. Jangan menganggu kami," kata Chandika mengusir Danny.


"Baiklah, saya permisi."


Danny segera keluar dari ruangan yang penuh dengan lovey dovey itu.


'Ya Tuhan, kuatkan hamba,' doa pemuda berkacamata itu.


Sepertinya dia memang harus menguatkan hati karena akan sering melihat kemesraan yang membuatnya iri itu. Padahal Chandika lebih muda dibandingkan dia.


Sepertinya dia memang harus segera menikah, supaya tidak nelangsa seperti ini lagi.


Namun, apa daya jika perempuan yang ingin dia nikahi justru menolaknya.


"Nasib, nasib," gumam Danny.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2