
Kembali ke Jakarta.
Keluarga Aldebaron dan sang menantu baru sudah kembali. Mereka memang harus menjalankan aktivitas kembali, tidak mungkin untuk terus berlama-lama di pulau pribadi.
Pagi ini Cherika kembali ke rumahnya bersama Chandika. Dia ingin mengemasi barang-barangnya dan pindah untuk tinggal di mansion Aldebaron. Sekarang dia sudah bersuami memang sudah sepantasnya untuk tinggal bersama sang suami.
"Apa kamu akan mengemas semua?" tanya Chandika yang terduduk pada bibir ranjang single size di kamar Cherika. Dia sedang memperhatikan sang istri yang membenahi barang-barang.
"Tidak semua, aku akan meninggalkan sebagian barang-barang milikku di sini. Aku tidak sepenuhnya meninggalkan kamar ini, kan? Kapan-kapan aku boleh menginap di sini, kan?" jawab Cherika dan diakhiri pertanyaan pada suaminya.
"Tentu saja boleh, sayang," ucap Chandika tersenyum.
"Terima kasih, suami," kata Cherika dan mengecup pipi suaminya.
Wajah Chandika seketika merona. Dia belum terbiasa dengan panggilan suami dan kecupan tiba-tiba istrinya itu.
"Apa kamu ingin aku bantu?" kata Chandika menawarkan jasanya.
"Tidak usah, kamu duduk manis saja di situ," tolak Cherika.
"Ok."
Chandika menurut dan menatap setiap pergerakan istrinya yang sedang bebenah. Dia tidak pernah bosan untuk memandangi istri tercintanya.
20 menit kemudian kegiatan Cherika selesai, barang-barangnya memanglah sedikit. Jadi tidak membutuhkan waktu yang lama.
"Hanya itu saja?" tanya Chandika dengan melihat 2 koper yang telah disiapkan Cherika.
"Ya."
"Ayo ke sini," ujar Chandika meminta Cherika menghampirinya.
Cherika menurut. Dia menghampiri sang suami. Chandika segera meraih pinggulnya dan memeluknya. "Kamu hanya membelakangi aku 20 menit, tapi aku sudah kangen," gumam Chandika dengan menenggelamkan kepalanya pada perut Cherika.
"Manja sekali," ucap Cherika terkikik. Dia mengelus surai hitam legam Chandika. Betapa tebal dan lembut surai itu.
Cherika jadi membayangkan jika dia punya bayi. Apakah akan mempunyai rambut seperti Chandika? Oh, dia sangat mengharapkan hal itu. Apalagi dengan wajah super ganteng Chandika.
"Aku ingin punya bayi," lanjut Cherika mengutarakan keinginannya.
Chandika yang mendengarnya langsung melepas pelukannya dan mendongak menatap Cherika. Apa dia salah dengar?
"Aku ingin punya bayi," Cherika mengulangi perkataannya.
"Bayi?" tanya Chandika tercekat.
"Ya, bayiku dan kamu," jawab Cherika dengan menekan kata-katanya.
"Tidak boleh," tolak Chandika tegas.
"Kenapa?" tanya Cherika murung seketika. "Apa kamu tidak ingin mempunyai bayi denganku?"
__ADS_1
"Tentu saja aku ingin," jawab Chandika cepat, dia tidak mau istrinya salah paham. "Tapi tidak sekarang."
"Kenapa memangnya?"
"Aku sudah berjanji pada bang Agust untuk tidak membuat kamu hamil sebelum umur 20 tahun. Aku juga tidak mau jika kamu kehilangannya masa muda kamu hanya karena mengandung anak kita," jelas Chandika dengan menangkup ke dua pipi Cherika.
Cherika tertegun. Dia baru tahu akan kenyataan itu. "Aku tidak keberatan, kok. Dengan menikah denganmu, aku sudah menyerahkan hidupku padamu. Aku tidak perduli dengan masa muda, asal bersama kamu aku baik-baik saja."
"Tapi resiko hamil di usia muda juga sangat berbahaya untukmu, sayang. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, lebih baik kita menundanya saja."
Cherika tetap menggeleng. "Apa kamu tahu jika terlalu lama menunda kehamilan akan menyulitkan kedepannya? Semakin bertambah pula peluang terjadinya obesitas, hipertensi, diabetes gestasional, serta komplikasi lain yang membuat aku lebih sulit untuk punya anak."
"A-apa? Apa benar seperti itu?" tanya Chandika terkejut.
Cherika menggangguk.
"Aku tidak tahu tentang itu..." lanjut Chandika dengan tatapan pias. Dia tidak tahu jika ada resiko seperti itu.
"Karena itu aku tidak mau meminum pil KB lagi," ucap final Cherika.
"Tapi-"
Perkataan Chandika terhenti karena Cherika mencium bibirnya, Cherika menempelkan bibirnya selama 3 detik di sana.
"Tidak ada tapi-tapian, soal janjimu dengan bang Agust biar aku yang mengatasinya," kata Cherika setelah melepas ciumannya.
"Cherika. Kamu licik sekali. Jika kamu terus mencium aku tiba-tiba, bisa-bisa aku serangan jantung mendadak," lirih Chandika dengan berdebar.
Cherika tertawa tanpa suara.
"Sayang..." Chandika memanggilnya lembut, mengusap lembut pipi tembam istrinya. Dia menuntun Cherika untuk duduk pada pangkuannya.
Kecupan manis Chandika berikan di kening, lalu turun ke pipi dan bibir. Kecupan hangat dan mesra.
"Kalau begitu kita harus berusaha keras untuk membuat bayi," lanjut Chandika, jarak wajah mereka sangatlah dekat. Cherika dapat merasakan napas Chandika yang memburu membelai wajahnya.
"Ya," jawab Cherika dengan meneguk ludahnya.
"Apakah ini masih sakit?" tanya Chandika kemudian, tangan nakalnya menelusup pada rok Cherika. Menyentuh lembut sesuatu dibaliknya.
"Ma-masih," ucap Cherika dengan gemetar.
"Tidak bisa membuat bayi dong," Chandika mengerucutkan bibirnya.
Cherika mengangguk. "Kata mami kita tidak boleh melakukannya dulu sebelum sembuh," kata Cherika mengingat perkataan Aminta.
"Ya. Ini juga karena kesalahan yang aku perbuat," tukas Chandika menyesal.
"Kalau Kamu menyesal... singkirkan tanganmu itu dari balik rokku," lirih Cherika dan mengigit bibir bawahnya. Dia merasakan geli.
"Aku kan hanya mengelus saja, tidak sakit kan?"
__ADS_1
"Tidak sakit, tapi rasanya aneh..."
"Aneh bagaimana?" tanya Chandika menyeringai mesum.
"Memalukan untuk menjelaskan," kilah Cherika menyembunyikan wajah merahnya pada ceruk leher suaminya.
Chandika tertawa kecil, respon istrinya sangat manis sekali. Ingin sekali dia menyerang Cherika, tapi dia harus menahannya. Dia tidak mau istrinya itu kesakitan lagi.
Cherika bernapas lega ketika tangan Chandika menjauh, tapi ada rasa tidak rela juga.
"Kenapa? Sepertinya kamu terlihat kecewa," kata Chandika berniat menggoda istrinya.
"Mana ada," sangkal Cherika gelagapan.
Dertt
Dertt
Getaran ponsel Cherika yang berada di atas meja mengalihkan atensi Chandika.
"Sayang, ada yang menelepon," kata Chandika pada istri tercintanya.
Cherika segera meraih ponselnya. Layar ponselnya menampilkan panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak mau ambil pusing dia langsung menekan tombol hijau.
"Halo?"
Chandika pun penasaran siapa yang telah menelepon istrinya.
[Oh, nona Cherika? Maaf jika saya menghubungi anda di pagi hari ini.]
"Ini dengan siapa?"
[Saya Gionino Lazuardy, kakak dari Ben. Anda mengenal Ben, bukan?]
"Kakak dari Ben?"
Chandika yang menguping langsung terkejut. "Kakak Ben? Gionino Lazuardy? Kenapa orang itu..."
"Sebentar, Dika," kata Cherika menghentikan ucapan penasaran Chandika dengan menjauhakan ponselnya.
Si pemuda mullet menggangguk. Dia kenal dengan Gionino Lazuardy, ayahnya pernah bercerita jika Gionino adalah pewaris dari perusahan Lazuardy. Perusahaan saingan bisnis keluarganya.
"Halo, kenapa anda menelepon saya?" tanya Cherika setelah menempelkan kembali ponselnya di telinganya.
[Saya ingin bertemu dengan nona Cherika.]
"Apa?"
[Ada yang ingin saya bicarakan. Ini menyangkut dirimu dan suamimu.]
Cherika menatap Chandika dan ditatap balik oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Anda mau bertemu di mana? Saya bersedia menemui anda."
_To Be Continued_