
Sila masih merenung memikirkan kata kata Reno. Hatinya ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh suaminya. Wajar jika Arsya terlihat sangat sedih. Sebagai pemilik perusahaan besar tentunya ia ingin memiliki ahli waris yang sedarah dengannya.
" aku harus melakukan apa agar dia tidak sedih dan kembali seperti biasa. Ini sungguh masalah yang sulit" batinnya bingung harus bagaimana membuat Arsya agar tidak sedih lagi.
Ditempat yang berbeda Arsya sudah sangat gusar menunggu kedatangan Reno. Ia ingin segera bertanya pada Asistennya tentang pertemuannya dengan istrinya. Selama menikah baru kali ini Sila mengajak bertemu Asistennya tanpa dirinya dan juga tanpa meminta izin darinya.
Reno masuk keruangan Arsya lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi. ia sudah bersiap siap dengan semua pertanyaan yang akan ditujukan padaanya. Melihat Arsya yang sudah memasang wajah masam sejak ia memasuki ruangan. Reno berinisiatif menyampaikan maksud dan tujuan Sila ingin bertemu dengan dirinya. Sebelum manusia super posesif itu mencerca dirinya.
Arsya merasa bersalah setelah mendengar cerita Reno. Ada perasaan bersalah dalam hatinya karena sudah membuat istrinya bingung dengan sikapnya. Toh selama ini Sila sudah menjadi istri yang baik bagi dirinya yang setia dan merawatnya.Tak seharusnya ia menyimpan masalah ini dari istrinya.
" menurutmu aku harus bagaimana. Aku hanya takut istriku tidak bisa menerima kekuranganku dan pergi meninggalkan ku". Tanya Arsya pada Asistennya dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
" saya kira Nona Sila tidak seperti itu Tuan. jika Nona ingin meninggalkan anda mungkin sudah dilakukannya di awal pernikahan. di saat anda masih belum bisa memenuhi kewajiban biologisnya secara sempurna". Reno tanpa takut mengungkapkan isi hatinya agar Arsya tak lagi ragu terhadap Sila.
Arsya menatap tajam Asistennya yang berani bicara seperti itu pada dirinya. Jika tidak karena Asisten yang bisa diandalkan sudah ditukar tambah dengan Pajero Sport keluaran terbaru.
" kau berani mengataiku. Maksudmu aku loyo dan lemah begitu. bonus bulananmu aku tiadakan karena kau sudah membuatku kesal". Arsya menatap kesal Asistennya. Reno hanya diam saja menerima kekesalan sang Bos. Daripada berbicara selalu salah dan makin kemana mana. Diam adalah pilihan yang paling tepat untuk saat ini. Karena percuma berbicara yang sebenarnya namun dianggap salah itu membuang buang waktu dan membuatnya capek.
Di Resto Sila sudah bersiap siap untuk pergi menemui Arsya dikantor sekaligus membawa makan siang untuknya. Ini adalah langkah awal untuk membuat suaminya kembali seperti semula. Ia akan berusaha sebaik mungkin demi suaminya.
Sila langsung memasuki ruangan suaminya tanpa mengetuk pintu. Tentu saja hal itu menyita perhatian Arsya karena hanya Reno yang punya kebiasaan seperti itu. Arsya segera meletakkan berkas dan beranjak mendekati istrinya.
" Tumben mau kekantor biasa diajak ajak gak mau". Basa basi Arsya pada istrinya.
__ADS_1
" Kok jutek banget sih. Ya karena aku pengen ngajak makan siang bareng jadi aku kesini. Memangnya gak boleh ya aku kesini". Balas Sila yang pura pura merajuk pada Arsya. Ternyata suaminya itu judes juga kalau lagi buruk moodnya.
" Yakin hanya mau ngajak makan siang bareng?. Arsya menatap Sila sinis dan menyelidik pada istrinya.
" sayangku, cintaku, suamiku yang terbaik sedunia. Bisa gak kalau gak jutek jutek sama istri. Sebenarnya itu aku yang harusnya bete ma kamu. Akhir akhir ini bawaannya murung, jutek. Aku itu salah apa sih ma kamu". Sila mengelayut manja diatas pangkuan Arsya sambil membelai wajah tampan suaminya. Untung saja Sila tahu masalah yang sebenarnya jika tidak mungkin Sila akan terbawa emosi karena sikap Arsya.
Arsya tak dapat menolak sikap manis istrinya. Ia akan semakin merasa bersalah jika tetap memperlakukan istrinya seperti itu.
" maafkan aku Anya. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa dicuekin. Aku hanya..... ". Arsya mengantungkan ucapannya karena tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada Sila.
" Hanya apa?. Hanya tidak bisa mempercayaiku dan masih menilai aku akan meninggalkanmu. Hanya takut jika aku mengkhianatimu. Pernikahan bukan hanya soal ranjang. Masih banyak pertimbangan lainnya. Aku sudah memilihmu maka aku akan bertanggung jawab atas pilihanku. Aku mencintaimu maka aku juga harus mencintai kekuranganmu. Aku mohon buang jauh jauh ketakutanmu di masa lalu karena aku orang yang berbeda dari masa lalumu. Aku akan menemanimu dalam keadaan apapun. Plis... Sayang... Jangan membuatku sedih melihatmu bersedih. Kita berdoa dan berusaha bersama dan hasilnya kita serahkan pada yang Di Atas". Sila berusaha memberikan pengertian dan membuka mata Arsya. Agar tidak lagi mempunyai pikiran negatif tentang dirinya.
__ADS_1
Arsya hanya diam mendengar ucapan Sila. Semua yang dikatakan istrinya memang benar adanya. Arsya memeluk istrinya mencari tempat yang nyaman untuknya bersandar.