
Sila dan Dania kembali ke rumah lama mereka. Sila menyuruh putrinya untuk mengemas beberapa pakaian dan perlengkapan pribadinya. Sedangkan Sila menuju kamarnya karena air mata yang sejak tadi dibendungnya sudah tak mampu ditahannya.
Sila menumpahkan kesedihannya di kamar. Rasa sakit dan sedih menyatu hingga membuat dadanya sesak. Tak memiliki orang tua dan saudara. Tiada tempat untuk mencurahkan kesedihannya.
" Vania". Hanya nama itu yang selalu diingatnya dan diharapkan bantuannya. Karena hanya dia yang ia miliki selama ini.
Sila meraih handphone dan menghubungi sahabatnya yang masih berada di Swiss. Sila menangis dan menceritakan semua masalah yang dihadapinya tanpa ada yang ditutupinya.
" lalu apa rencana mu sekarang Sil".
" aku ingin menenangkan diri Van. Tapi aku tidak tahu harus kemana. Aku belum sanggup untuk bertemu dengan Arsya untuk saat ini".
" Apa kau ingin kesini?. Aku akan menjemputmu jika kau ingin. Kau sedang mengandung Sil. Jangan terlalu stres dan banyak menangis". bujuk Vania yang mendengar sahabatnya menangis.
" aku akan menyuruh supir menjemput kalian. Tinggallah di Villa ku untuk sementara waktu dan tenangkan pikiranmu. Setelah itu baru kau putuskan. Kau tenang saja Villa itu baru aku beli aku beberapa bulan yang lalu waktu aku mau ke Swiss jadi tak akan ada yang tau. Mas Alex saja belum tau. Di sana ada sepasang suami istri yang menjaganya jadi kau tak akan sangat kesepian karena ada mereka". Vania memberi solusi.
Sila tak mampu berpikir dengan jernih. Yang ada di dalam pikirannya hanya ingin menghindari Arsya untuk sementara waktu dan setuju atas saran sahabatnya. Hatinya masih sangat sakit atas semua ucapan dan tuduhan suaminya.
" baiklah Van. Aku mau. Tapi tolong hapus jejak ku. Aku tidak ingin siapa pun tahu keberadaan ku saat ini". Pinta Sila.
__ADS_1
" Baiklah. Itu hal mudah. Aku jamin tak ada satu pun yang tahu keberadaan mu. Kecuali kau yang menginginkan".
Mudah bagi Vania untuk melakukan hal itu. Seperti yang dulu pernah ia lakukan saat Sila dan Aldi bercerai. Selain ia punya orang orang yang handal dalam menghapus jejak digital. Vania juga memiliki koneksi yang sangat luas yang selalu siap membantunya. bahkan Arsya pun tak akan bisa menemukan keberadaan Sila.
Bersama supir Vania. Sila dan Dania pergi ke Villa milik Vania. Dania yang melihat sang mama hanya diam dan murung tak berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
****
Di kantor Arsya sudah mulai tenang setelah meminum obat penenang. Bayangan foto Sila dan Aldi kembali hadir di kepalanya. Mengingatkan trauma masa lalu yang ingin ia lupakan. Membuat hatinya benar benar terguncang.
" Saya sudah menemukan Tuan Aldi. Tuan".
Sampai di Hotel Reno berjalan mendahului Arsya dan mengetuk pintu kamar milik Aldi.
Mendengar ketukan dari luar, Aldi yang sedang istirahat segera membuka pintu. Belum sempat mengucapkan sepatah kata pun. Tiba tiba Arsya melayangkan tinjunya bertubi tubi hingga Aldi tak mampu untuk menghindar atau membalasnya.
" Sudah Tuan. Anda bisa menghilangkan nyawa sesorang jika di teruskan". Reno berusaha menghalangi Arsya yang membabi buta. Seolah Aldi adalah samsak yang harus terus di tinju.
Arsya melempar foto pada Aldi yang masih terkapar di lantai. Aldi yang tak tahu menahu hanya diam dan mengambil foto dirinya dan Sila yang berserakan dilantai. Aldi tertawa melihat foto murahan.
__ADS_1
melihat tingkah Aldi tentu saja Arsya semakin meradang dan ingin menghajarnya jika Reno tidak menghalanginya.
" sejak kapan kau berselingkuh dengan istriku". Arsya menekan kata istriku agar Aldi tahu jika Sila miliknya bukan milik Aldi lagi.
Namun Aldi justru semakin mengeraskan tawanya mendengar pertanyaan Arsya. Aldi lalu bangkit dan duduk di bibir ranjang. Menyeka bibirnya yang berdarah lalu menatap tajam dua laki laki dihadapannya.
" Tuan Arsya yang terhormat. Jadi gara gara foto ini anda menghajar saya dan tanpa bertanya terlebih dahulu. Anda dan Asisten Anda ini sangat hebat dalam berbisnis dan menjatuhkan lawan Anda. Tapi masalah seperti ini anda berdua tidak bisa berpikir secara logis dan cerdas. Jadi anda menuduh saya dan Sila berselingkuh hanya modal Foto ini". Aldi menatap sinis pada Arsya.
" Apa maksudmu. Tidak usah berbelit belit dan jangan mengelak. Bukti itu sudah cukup membuktikan kalian bermain dibelakangku". Sentak Arsya.
" Foto ini bukan bukti. Ini hanya foto sampah yang di ambil oleh orang orang bodoh. Jika aku berselingkuh dengan Sila seharusnya aku dan Sila bahagia saat di rumah sakit. Tapi lihatlah dengan benar. Sila bahkan merasa risih dan canggung saat aku mendorong kursi rodanya. Jika memang kami bermain dibelakangmu seharusnya foto ini di ambil di kamar hotel ini bukan di lobby Hotel. Seharusnya anda mencari kebenarannya terlebih dahulu jangan langsung menyimpulkan". Aldi balik membentak Arsya sambil menunjuk foto yang berada ditangannya.
" Aku sedang meeting di Resto milik istrimu. Setelah makan siang aku melihat Sandra dan beberapa karyawan lainnya berlari menuju ruangan Sila. Aku yang melihat itu merasa ada yang tidak beres jadi aku mengikuti mereka. Namun Sila sudah tak sadarkan diri saat Sandra dan lainnya tiba disana. Karena panik kami memutuskan membawanya ke rumah sakit. Tapi tak ada karyawan yang bisa ikut karena Resto sedang ramai ditambah Sila tak membawa mobil. Sampai di rumah sakit Sila dinyatakan hanya kelelahan dan tidak makan sejak pagi. Setelah dilakukan pemeriksaan Sila dinyatakan hamil. Dia sangat bahagia ketika tahu sedang hamil. Dan untuk memastikan kondisi Janin Dokter merujuk kespesialis kandungan. Aku yang memaksanya untuk menemaninya karena melihat kondisinya yang lemah. Dan foto di hotel ini aku ingin mengambil oleh oleh untuk Dania dan Sila tak ikut ke kamar hanya menunggu di Lobby. Itu yang sebenarnya terjadi". Ucap Aldi kesal
Arsya terduduk mendengar penjelasan Aldi. Seharusnya ia bertanya dan memberikan kesempatan pada Sila untuk menjelaskan. Karena trauma masa lalu dan terlalu cemburu membuatnya tidak bisa berpikir logis.
" aku sudah menyuruh Sandra untuk menghubungimu sebelum membawa Sila ke rumah Sakit. Dan aku juga menghubungi mu saat berada di sana tapi kau tak dapat dihubungi. Seharusnya kau tak Percaya begitu saja dengan foto sialan ini. Aku yakin Sila sangat sedih dan terpukul saat ini. Kau akan menyesal jika ternyata Sila lebih memilih tidak ingin bertemu denganmu. Kau tidak akan bisa menemukannya dengan cara apapun. Karena dulu aku pernah mencobanya". Sambung Aldi.
Mendengar hal itu Arsya segera berlari meninggalkan kamar Aldi tanpa sepatah kata pun. Yang ada dibenaknya hanya ingin menastikan kebenaran ucapan Aldi. Ia ingin kembali kekantor mengambil handphone yang ia tinggalkan di ruangannya dan belum sempat membukanya karena insiden itu.
__ADS_1