
Arsya dan Sila kembali ke Mansionnya setelah dua hari mereka menghabiskan waktu berdua. Mereka di sambut oleh Dania dan Vania yang datang untuk berkunjung sekaligus untuk mengembalikan Dania pada kedua orang tuannya setelah dua hari ikut bersamanya.
" mama, Daddy". Teriak Dania yang berlari memeluk orang tuanya bergantia.
" bagaimana bulan madu kalian. Sangat menyenangkan ya". Sindir Vania melihat abg tua yang saling menggenggam tangan.
" Van... Makasih banyak ya udah jagain Dania. Maaf selalu merepotkan mu". Sila merasa tak enak hati pada sahabatnya.
Sedangkan Arsya bersikap seolah tak merasa bersalah sedikit pun dan hanya mengucapkan rasa terima kasihnya karena sudah membantunya lalu ia meninggalkan dua sahabat itu agar bisa leluasa untuk saling melepas rindu.
" udah baikan nih ceritanya".Sila nampak malu malu dengan pertanyaan sahabatnya.
" semua juga berkat kamu Van. kamu memang is the best. Makasih banyak ya". Ucapnya sambil memeluk sahabatnya.
" udah jangan melow gitu. Aku senang kalau kalian akur dan bahagia. Semoga kalian selalu seperti itu". Vania berusaha menasehati sahabatnya.
setelah bercerita sana sini dan makan bersama . akhirnya Vania berpamitan pada tuan rumah dan sekali gus berpamitan pada mereka berdua. bahwa besok pagi ia akan bertolak ke Swiss untuk mengunjungi putra semata wayangnya yang sedang menempuh pendidikan di sana.
" kamu hati hati yan Van. Aku pasti akan sangat merindukanmu. Kamu pasti akan lama di sana. Salam buat putramu ya". Ucap Sila sedih karena akan berpisah dengan sahabatnya.
***
Hari demi hari di lalui Arsya dan Sila penuh dengan cinta dan kasih sayang. Mereka semakin lengket seperti pengantin baru. Bahkan Sila kini sering menghabiskan waktu di kantor untuk sekedar mengantarkan makan siang atau menemani Arsya di sela sela kesibukannya.
__ADS_1
Seperti siang ini Sila datang ke kantor suaminya dengan membawakan makan siang untuk mereka berdua. Sila sengaja tak mengabari Arsya karena ingin membuat kejutan untuknya.
" maaf menganggu". Sila masuk tanpa mengetuk pintu terkebih dahulu. Dan melihat suaminya sedang membahas pekerjaan dengan seorang wanita yang duduk saling berdekatan.
" Anya. Kemarilah". Arsya berdiri mendakati istrinya. Lalu mengandeng tangan istrinya menuju tempat duduknya semula.
" mengapa tak mengabari jika ingin kesini. Nona Andin. Kenalkan ini istri saya".
" Sila ". Ucap Sila mengulurkan tangan.
" Andin. Senang berjumpa dengan anda Nyonya". Balas Andin yang hanya di balas dengan senyuman oleh Sila.
" saya kira cukup pembahasan kita Nona. Saya ingin menemani istri saya makan siang dan melepas rindu". Arsya mengusir secata halus cliennya. Karena sejak tadi ia sangat risih dengan kehadiran cliennya itu yang sengaja mendekatinya dengan pakaian ****.
" mengapa kau cemberut seperti itu. Jangan memancingku untuk memakan bibirmu". Sila menutup mulutnya mendengar ucapan suaminya.
" apa kau kesini hanya untuk cemberut. Apa kau marah padaku?. Arsya bingung dengan sikap Sila yang tiba tiba cemberut padanya.
" Ayolah Anya. Aku sudah sangat lapar. Jangan membuatku bingung. Apa kau cemburu dengan Andin. Dia clienku dan baru kali ini aku bertemu dengannya. Biasanya yang datang itu Asistennya tapi karena ada tugas lain jadi kali ini dia yang datang. Aku tidak tertarik padanya bahkan aku ingin mengusirnya sejak tadi. Tapi jika itu aku lakukan kerjasama kami yang jadi taruhannya. Kau tau sendiri jika milikku ini hanya bisa bangun jika denganmu saja. Jadi jangan berpikir terlalu jauh". Arsya berusaha menjelaskan pada istrinya agar tidak terjadi salah paham.
Mendengar penjelasan suaminya Sila merasa lega dan bisa sedikit lebih tenang. Entah mengapa melihat Arsya berdekatan dengan wanita lain hatinya merasa gelisah dan tak rela.
" aku hanya kesal saja. Kalian terlihat sangat dekat dengan penampilannya yang sangat menggoda seperti itu".
__ADS_1
" jadi kau benar benar cemburu". Goda Arsya.
" aku tidak cemburu hanya tidak suka saja". Elaknya.
Arsya merasa gemas dengan istrinya. Laki laki itu tak mampu lagi untuk tidak memakan bibir istrinya yang kembali mengerucut. Dengan tanpa aba aba Arsya menyambar bibir mungil istrinya uang membuat Sila gelagapan.
Arsya menghentikan kegiatannya setelah mereka sama sama hampir tidak bisa bernapas.
" bukankah kau lapar. Akan aku siapkan dulu makanannya". Sila mencoba mengalihkan suaminya.
" aku sudah tak ingin makanan. Aku hanya ingin memakanmu". Arsya mengedong istrinya menuju kamar pribadinya lalu menekan tombol agar pintu terkunci secara otomatis.
Siang itu mereka kembali memadu kasih. Rasa lapar tak dihiraukan lagi oleh Arsya. Yang ia inginkan hanya menuntaskan sesuatu yang sudah terbangun dibawah sana dan hanya istrinya yang mampu menidurkannya kembali. Cuaca yang panas semakin panas meski AC menyala dengan kencang. Namun dinginnya ac tak mampu mendinginkan gelora cinta yang sedang panas membara.
Satu jam mereka melakukan penyatuan bukti cinta mereka. Mereka sama sama terkulai lemas di ranjang karena tenaga yang sama terkuras. Mereka mandi bersama agar lebih cepat karena cacing cacing diperut mereka sudah demo minta segera di isi.
" semua gara gara kamu. Jadi telat makan siang". Gerutu Sila
" tak masalah telat makan siang. Yang penting kamu tidak telat melayaniku". Goda Arsya mengedipkan sebelah matanya.
Mereka menikmati makan siang yang sudah sangat terlambat. Arsya sangat bahagia memiliki Sila di hidupnya ditambah penyakitnya yang sudah mulai sembuh membuatnya ingin selalu memakan istrinya.
Begitupun dengan Sila yang sangat beruntung memiliki Arsya di hidupnya. Ditambah sekarang Arsya telah menjadi laki laki yang sempurna seutuhnya. Membuatnya menjadi wanita yang sangat bahagia.
__ADS_1