
mentari pagi bersinar sangat cerah, menembus celah - celah ruang jendela hingga menembus korden yang terpasang tebal. sang pemilik singgasana menggeliat terkena cahaya yang mencoba masuk menerpa. sungguh mengganggu tidur banyaknya yang baru dirasa.
", hem.... baru jam 7 pagi", ucap Arsya dan ingin melanjutkan tidurnya kembali, namun ia urungkan tatkala terbayang wajah ayu yang selalu membuatnya bersemangat dan rindukan.
Arsya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, berpakaian dengan rapi dan wangi, agar ia bisa mengejar cintanya pada janda cantik yang selalu menganggu pikirannya. setelah berkali - kali bercermin dan dirasa cukup ia berangkat kekantor dengan tersenyum manis.
Arsya menuju rumah Sila dan ingin menjemputnya, Sila yang memang sudah siap ingin berangkat menatap mobil yang berhenti didepan rumahnya. ia hanya berdiri menatap mobil yang kini ada didepannya. pintu mobil dibuka oleh Arsya dari dalam.
", masuk...!, ucap Arsya memerintah pada Sila.
mendengar perintah bosnya Sila hanya menghela napas pelan.
", tidak mau, aku bisa pergi kekantor sendiri", jelas Sila, dan tidak memperdulikan Arsya.
merasa di acuhkan oleh sekretarisnya, Arsya turun dari mobil dan mencekal tanggan Sila, yang membuat Sila tak bisa berkutik.
", kau ingin membantah perintahku", ucap Arsya pelan dengan tatapan tajam.
", kau sudah menanda tangani surat kontrak itu kan, apapun perintahku harus kau ikuti, jika tidak ingin membayar denda 5 milyar ", jelas Arsya mengingatkan.
", kau selalu mengancamku dengan surat kontrak itu, apa ini caramu untuk mendapatkan hatiku", ucapnya sinis pada bos yang menyebalkan itu.
", kau menipuku dengan surat kontrak itu, aku sudah membacanya dengan teliti, baru menanda tanganinya dan tak ada point yang kau maksud, tapi kenapa surat kontrak itu bertambah satu point dan itu memberatkanku", jelas Sila protes karena Arsya menambah kan point terakhir yang membuat Sila tak berkutik dengan point itu.
Arsya hanya tersenyum penuh kemenangan, karena hanya dengan cara itu, ia bisa memaksa Sila agar selalu dekat dengannya. tak ada cara lain karena Sila wanita yang keras kepada, dan cuek.
sepanjang perjalanan Sila hanya cemberut menatap keluar jendela, ia masih belum bisa terima akan kontrak yang sudah ia tanda tangani, Sila merasa Arsya akan berbuat semena - mena terhahapnya, namun sebagai karyawan ia pun tak dapat berbuat banyak, di point terakhir itu, menyatakan jika Sila harus mengikuti semua perintah pihak ke satu, jika menolak dan memgundurkan diri akan didenda senilai 5 milyar.
", ayo turun, atau kau sengaja ingin mengajakku berlama - lama disini, baiklah aku akan menurutimu", goda Arsya yang membuat Sila sadar dari lamunannya, dan segera keluar tanpa bicara.
Arsya tertawa melihat tingkah Sila, ia segera mengejar Sila dan menuju keruangan mereka. semua mata tertuju pada mereka, bisik - bisik tentang kedekatan mereka ditambah dengan kejadian beberapa hari yang lalu tentang pengusiran mantan istri sang bos.
__ADS_1
Sampai diruangan CEO, Sila segera menyerahkan berkas yang harus ditanda tangani oleh Arsya. tak ada kata yang keluar dari bibir mungil Sila, ia melakukan semua pekerjaannya dengan diam, yang membuat Arsya merasa diabaikan.
Arsya bangkit dari kursi kebesarannya, Arsya mengunci tangan Sila dan mendorongnya kedinding sehingga membuat Sila tak bisa berbuat apa- apa.
", kau mengabaikan dan mengacuhkanku hem.... aku tak suka kau abaikan apalagi kau diamkan seperti ini Sila, kau tau perasaanku, aku menginginkanmu Sila, jangan paksa aku untuk melakukan lebih dari ini", ucap Arsya lalu mengecup bibir mungil Sila sekilas, dan memeluk tubuh mungil Sila.
Sila masih tak bergeming menerima perlakuan dari Arsya, jantungnya berdetak kian cepat yang membuat ia tak mensinkronkan antara hati dan sikapnya. hatinya menolak perlakuan Arsya tapi tubuhnya berkhianat menginginkannya.
", kau tak kan bisa jauh dariku, kau wanitaku, hanya aku yang berhak atas dirimu", bisik Arsya yang membuat Sila susah menelan slavina nya.
Arsya melepas pelukannya dan mengecup pucuk kepala Sila dengan lembut. Sila hanya memejamkan matanya menerima perlakuan itu dari Arsya, debar jantungnya semakin tak dapat ia kontrol yang membuat ia malu jika hal itu didengar oleh Arsya.
", lakukan tugasmu dengan baik, dan buatkan aku teh kesukaanku", ucapnya lembut pada sekretaris pujaannya.
tak menunggu lama Sila segera melaksanakan perintah sang bos, ia berusaha menetralkan hati dan pikirannya atas apa yang baru saja terjadi.
Sila meletakkan teh dimeja Arsya, dan ingin kembali ke meja kerjanya.
", kau melupakan sesuatu Nona", ucap Arsya menghentikan langkah Sila.
", sudah selesai Tuan, silahkan minum teh anda sebelum dingin", erang Sila kesal dan melangkah kemejanya.
Arsya hanya tersenyum mendengar ucapan Sila, entah mengapa tanpa Sila meminumnya tehnya terlebih dahulu rasanya kurang nikmat. Arsya meminum habis tehnya, dan melirik sekretarisnya yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya.
***
", apa kalian tidak merasa lapar, ini sudah saatnya makan siang", ucap Reno yang sudah membawa kantong berisi makan siang mereka.
Reno memberikan kantong itu kepada Sila, tak butuh waktu lama Sila sudah menyiapkan makan siang mereka.
Reno dengan cepat mengambil dan melahap makan siangnya, begitupun dengan Sila, sejak pagi ia hanya meminum teh yang dibagi dua dengan Arsya dan meminum air putih saja, sehingga membuat ia kelaparan. banyaknya berkas yang menumpuk di mejanya membuat ia lupa jika waktu sudah menunjukkan makan siang.
__ADS_1
", ehem... hem... ", suara deheman Arsya menghentikan aktifitas mereka.
", kenapa kau, makanan ini sangat enak dan lezat, iyakan Sila", Sila hanya mengangguk tanda setuju dengan ungkapan Reno.
mereka berdua kembali menikmati makanan yang ada, rasa lapar membuat mereka menyantap dengan nikmat hidangannya.
", uhuk... huk... huk... ", Arsya kembali menganggu aktifitas mereka dengan batuk yang dibuat - buat.
Reno yang sudah mengenal Arsya sejak dulu tahu apa yang diinginkan bosnya itu. Reno hanya bisa geleng - geleng kepala melihat sikap sahabatnya itu.
", jika sudah bucin dunia ini serasa miliknya sendiri ", gerutu Reno dalam hati.
", kau masih muda, sehat dan kuat kenapa kau tak memakan makananmu menggunakan tanganmu, kau tak kasihan melihat sekretaris mu yang sudah kelaparan itu, jika aku tidak datang membawa makanan mungkin kau akan membiarkan dia kelaparan ", oceh Reno pada Arsya yang kesal dengan sikapnya.
Sila yang mendengar ucapan Reno tersedak, ia baru tahu jika Arsya ingin disuapi oleh dirinya.
", jadi dari tadi dia menunggu aku suapi", batin Sila bermonolog.
", cepat habiskan makananmu dan suapi bayi tua mu itu, sebelum dia mengacaukan pekerjaanmu", perintah Reno pada Sila yang hanya dianggukin olehnya.
", kau takkan tau nikmatnya disuapi oleh orang yang kau cintai", cibir Arsya mengolok Reno.
Reno yang merasa dirinya disindir melempar kerupuk pada Arsya.
", kau seperti bos yang sedang hilang ingatan, semua itu karena kau, waktuku habis karena mengurusi dirimu, apa kau lupa itu", ucap Reno kesal pada Arsya.
", jika kau masih berani mengolok ku, maka kira ajan bersaing mendapatkan hati sekretaris mu", goda Reno yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arsya.
", jika kau berani, aku akan mengirim mu ke Afrika biar kau dimakan oleh singa", ucap Arsya geram.
Reno tertawa melihat tingkah sahabatnya, yang takut jika yang diucapkannya itu benar. Reno meninggalkan mereka berdua dan kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Sila sudah selesai dengan kegiatan makan siangnya, saatnya ia menyuapi bos bayi, dengan cekatan ia menyuapi sang bos, seperti menyuapi putranya Adit, ah begitu rindunya Sila kepada kedua buah hatinya yang kini dibawah pengawasan sahabatnya, meski setiap malam mereka melakukan videocall tapi rasa rindu tak dapat terobati.
", semoga kalian baik - baik saja di sana, maafkan mama tak bisa bersama kalian, semua ini demi kalian", batin Sila dengan sedih.