
Sila terbangun dari tidurnya karena rasa lapar yang menderanya. ia melihat ke samping yang ternyata Arsya sudah tidak ada lagi di sana.
Sila turun dari ranjangnya dengan perlahan, ia sangat ingin membuang air kecil, dengan sangat hati - hati Sila membawa infusnya menuju toilet, belum sempat ia berjalan pintu kamarnya sudah terbuka dan muncul seorang pria tampan dengan baju santainya dan rambut yang masih basah seperti habis mandi.
" kau mau kemana", tanya Arsya yang melihat Sila membawa botol infus ditangannya.
" em... saya ingin ke Toilet, Tuan", jawab Sila dengan gugup dan malu.
tanpa bertanya Arsya langsung mengendong Sila ala bridal dan menurunkannya di kamar mandi, lalu segera menutup pintunya. Arsya berdiri didepan pintu untuk menunggu Sila keluar.
Sila perlahan membuka kamar mandi, Arsya yang menunggunya langsung ingin menggendongnya kembali, namun Sila menolaknya karena merasa sudah kuat untuk berjalan, Arsya dengan sangat hati - hati membimbing Sila hingga sampai di ranjang.
" apa kau ingin naik ke ranjang lagi", tanya Arsya pada Sila.
" bolehkah aku duduk di sofa saja Tuan?, aku capek dan bosan jika harus terus berbaring di ranjang", jelas Sila
Arsya kembali pembimbing Sila menuju sofa, lalu mengambil tiang penyangga untuk mengantungkan infus Sila. Arsya duduk di samping Sila , lalu mengambil remote Tv agar Sila bisa mengusir kebosanannya dengan menonton tv.
" apa kau suka drama korea, seperti kebanyakan wanita", tanya Arsya dengan tetap fokus pada tv di depannya.
" semua wanita pasti menyukai drama korea Tuan, karena pemerannya yang cantik dan tampan", jawab Sila asal.
" apa menurutmu aku kurang tampan?, tanya Arsya dengan tatapan tajam.
Sila menoleh pada Arsya yang menatapnya tajam, manik mata mereka bertemu yang membuat Sila susah menelan saliva nya.
" bahkan anda sangat tampan Tuan, dan aku baru menyadari jika anda seperti pemeran drama korea itu" batin Sila sambil tersenyum sendiri tanpa ia sadari.
" apa yang kau pikirkan, hingga tersenyum sendiri seperti itu, apa kau berpikir mesum tentangku?, tanya Arsya menyelidik.
" emm... tidak Tuan, saya hanya..... hanya membayangkan jika anda pakai kostum badut pasti sangat lucu", jawab Sila asal karena bingung mencari alasan.
" kau meledekku, aku pria tampan dan kaya raya, mengapa kau membayangkan ku seperti badut ", ucap Arsya dan terus menghimpit tubuh Sila dan mengelitikinya membuat Sila geli.
__ADS_1
" Tuan...Tuan...tolong hentikan, saya sudah tidak tahan lagi, tolong hentikan Tuan", pinta Sila pada Arsya dengan terus tertawa karena menahan geli.
" aku tidak akan menghentikannya, karena kau menyamakan ku dengan badut, aku akan memberimu pelajaran", ucap Arsya dan tak henti - hentinya menggelitik Sila.
" ampun Tuan, tolong hentikan....!, ucap Sila memohon dengan mata yang mulai mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa.
Arsya tak juga menghentikan aktifitasnya, tanpa Sila sadari ia menarik selang infus sehingga botol dan tiang penyangganya pun ikut tertarik sehingga roboh dan menimpa Sila, namun dengan cepat Arsya memeluk Sila sehingga bukan Sila yang terkena tiang penyangga melainkan tubuh Arsya.
" aw..... " teriak Arsya yang terkena besi penyangga infus. Arsya mendekat erat tubuh Sila sehingga tanpa mereka sadari bibir mereka saling bersentuhan, dan membuat mereka salah tingkah satu sama lain.
" maaf... aku tak sengaja" jelas Arsya dan melepaskan pelukannya pada Sila.
" tidak apa - apa, Tuan", jawab Sila singkat dan memperbaiki duduknya.
Arsya memanggil suster untuk memeriksa infus dan tangan Sila yang mengeluarkan darah, Arsya merasa kasihan dan bersalah karena menggelitik Sila, sehingga kini jarum infus harus di cabut dan di pasang kembali untuk membuang darah yang menyumbat aliran air infus.
setelah suster itu keluar kamar, Arsya segera mengambil makanan untuk Sila, Arsya membuka tempat makan itu dan ingin menyuapi Sila, namun Sila menggelengkan kepala dan menutup mulutnya.
" makanlah agar tubuhmu cepat pulih", ucap Arsya pada Sila.
" apa boleh makan makanan dari luar", tanya Arsya.
" boleh, tadi siang Vania membelikan ku makanan dari luar", jelas Sila.
" baiklah, apa yang kau inginkan, aku akan memesannya untukmu", tanya Arsya pada Sila.
" aku ingin makan capcay, bakso dan ayam goreng dan nasi", jelas Sila dengan malu - malu karena meminta banyak makanan dari Arsya.
" apa kau sangat lapar, dan yakin bisa menghabiskan itu semua " tanya Arsya tak percaya dengan apa yang di minta Sila.
Sila hanya mengangguk mendengar pertanyaan Arsya dan tersenyum malu.
Arsya segera memesan apa yang di inginkan Sila dan untuknya sendiri, dan mengabari Reno agar tidak mengantarkan makanan untuk mereka berdua.
__ADS_1
tak berapa lama Arsya menerima pesanannya, dengan telaten Arsya menyiapkan makan malam mereka yang sudah terlambat. Arsya melihat Sila makan menggunakan tangan kirinya dengan susah payah, lalu Arsya mengambil sendok dari tangan Sila lalu menyuapi Sila.
" terima kasih Tuan", ucap Sila pada Arsya.
" hem... tapi semua ini tidak gratis, kau akan membayarnya nanti"jawab Arsya.
" kau perhitungan sekali Tuan, bukannya kau sudah kaya raya, mengapa kau masih saja perhitungan", tanya Sila kesal.
" aku tidak memintamu membayar dengan uang, tapi dengan yang lainnya" jawab Arsya yang membuat Sila bingung.
" lalu dengan apa Tuan?, tanya Sila penasaran.
" nanti jika sudah waktunya kau akan tahu", jawab Arsya singkat.
****
Vania mengajak kedua anak Sila makan di restoran dan sekedar jalan - jalan untuk menghibur mereka agar tidak sedih memikirkan mamanya. setelah menikmati makan malam mereka akan pergi ke swalayan untuk mengajak Dania dan Adit untuk berbelanja kebutuhan mereka selama menginap di rumah Vania.
" Nyonya Vania, tunggu!, seseorang memanggil Vania saat berada diparkiran mobil Restoran.
" Aldi ", batin Vania melihat siapa yang sedang memanggilnya.
" tunggu Nyonya, kenapa anak - anakku bersama anda, di mana Sila?, tanya Aldi pada Vania.
Vania nampak berpikir agar bisa memberikan alasan yang pas untuk Aldi. sedangkan kedua anak Sila sudah berlindung dibelakang tubuh Vania, tanpa ingin menyapa atau memanggil Aldi papanya.
" Adit, Dania... ini papa sayang, kemarilah", ucap Aldi pada kedua anaknya.
namun Adit dan Dania tak menghiraukan panggilan Aldi, mereka semakin rapat pada tubuh Vania.
" Nyonya,.. anda belum menjawab pertanyaan saya tadi, dimana Sila dan mengapa dia menitipkan anak - anak bersama anda, apa dia begitu sibuknya, sehingga tak punya waktu untuk merawat mereka, jika begitu biar anak - anak bersamaku, aku akan menjaga mereka", ucap Aldi ketus lalu menatap kedua buah hatinya.
" kenapa anda diam Nyonya, apa ada sesuatu yang tidak boleh saya ketahui, apa begini cara Sila merawat anak - anakku, menitipkan pada orang lain, sedangkan dia tak tahu pergi kemana, aku semakin yakin ingin mengambil mereka darinya, aku tak ingin anak - anakku terlantar, sedangkan mamanya ntah sedang apa sekarang, mungkin bersenang - senang dengan laki - laki itu", jelas Aldi sinis.
__ADS_1
" anda terlalu berlebihan menilai Sila Tuan Aldi, Sila merawat anak - anak anda dengan baik dan benar, jika sekarang anak - anak bersamaku karena hanya aku yang dipercaya oleh Sila untuk menjaga mereka bukan anda, jika anda ingin tahu mengapa mereka bersamaku itu karena Sila sedang sakit dan sekarang sedang menjalani perawatan, satu lagi saya hanya ingin menyampaikan pada anda, kenapa baru sekarang anda menginginkan mereka, tidak sejak dulu, jika sekarang anda ingin mengambil mereka dari Sila, aku rasa sudah terlambat lihatlah mereka yang takut pada anda", jelas Vania geram.
Vania berbalik dan membawa kedua anak Sila menuju mobilnya, sedangkan Aldi diam menatap kepergian kedua anaknya. ada rasa sakit dan sesak yang kini mulai dirasakannya, kedua anaknya seolah tak ingin melihat dirinya.