Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 37 untuk 21+


__ADS_3

Arsya menarik tangan Sila dengan kasar menuju ruangan pribadi Sila. karyawan yang menyaksikan hal itu Tak berani berbuat apa - apa, apalagi laki - laki itu mengaku sebagai calon suami dari bos mereka.


Arsya melempar tubuh Sila Ke ranjang kecil yang ada di ruangan itu, amarahnya sudah naik ke ubun - ubun dan hanya Sila yang bisa meredakannya. Arsya dengan buas menciumi wajah Sila hingga tidak ada yang terlewatkan.


" hentikan Arsya, aku mohon hentikan, aku bisa menjelaskan semuanya, ini tidak seperti yang kamu pikirkan", teriak Sila, agar Arsya mau menghentikan perbuatannya.


namun Arsya tak bergeming sedikitpun, ia terus melahap wajah dan bibir Sila secara paksa dan kasar, sehingga membuat Sila merasakan kesakitan. tak tahan dengan sikap Arsya yang semakin menjadi - jadi, Sila mendorong tubuh Arsya sekuat tenaganya dan menampar wajah Arsya agar ia sadar telah menyakitinya.


" kau anggap apa aku ini heh.... segitu rendahnya kau menghinaku dengan memperlakukan ku seperti ini, aku memang janda Arsya, tapi tak pernah sedikitpun aku menjual tubuhku untuk laki - laki, apa perlu aku membuka seluruh pakaianku agar kau puas" , teriak Sila kesal, dan menangis sejadi - jadinya.


Sakit hati Sila diperlakukan bak seorang wanita murahan, padahal selama ini ia menjaga dirinya agar terhindar dari gunjingan orang. Sila masih menangis dan terduduk di lantai, sambil menyilangkan kaki dan kepalanya bertumpu pada tangannya yang berada diatas lutut.


Arsya merasa bersalah pada Sila, tak seharusnya ia bersikap seperti itu padanya, semua ini bukan salahnya, namun melihat Aldi menggenggam tangannya menjadikan ia merasa kesal dan tak bisa mengontrol emosinya.


**


flashback on


Arsya baru sampai di mall miliknya, ia sudah meminta pada pengurusnya untuk mengosongkan taman bermain ice skating, hanya untuk membahagiakan kedua anak Sila.


ia menyuruh karyawannya untuk membawa dua bocah itu memakai perlengkapannya dahulu, sedangkan Arsya menunggu di sofa sambil mengecek email yang masuk.


baru beberapa saat ia duduk, ada pesan wattshap yang masuk dari orang yang bertugas memantau kegiatan Sila. sebuah video yang membuat hati Arsya panas, video Aldi yang sedang menggenggam tangan Sila, tanpa berpikir panjang Arsya segera menghubungi Reno agar menggantikannya untuk menjaga kedua buah hati Sila.


Arsya segera menuju mobilnya dan mengemudi dengan kecepatan tinggi, agar segera sampai di resto dimana Sila berada. sesampai di Resto ia mendapati seorang wanita yang ingin menampar Sila yang membuat ia semakin marah dengan hal itu.


flashback off

__ADS_1


**


Sila masih sesenggukan dengan kondisi yang sama, Arsya merasa kasihan dan juga merasakan sakit atas apa yang menimpa Wanitanya, namun Arsya tak dapat mengontrol emosinya jika tidak menyentuh tubuh Sila.


Arsya menggendong tubuh Sila dan membaringkannya di ranjang kecil, Sila menganti posisinya yang kini membelakangi Arsya. sakit melihat sikap Sila yang mengacuhkannya, namun semua itu juga karena salahnya, yang melampiaskan semuanya kepada Sila. Arsya ikut membaringkan tubuhnya di samping Sila dan memeluk Sila yang masih sesenggukan.


" maafkan aku, sungguh aku tak bermaksud menghinamu, aku tak bisa mengontrol diriku, melihat dirimu disentuh laki - laki lain", bisik Arsya di telinga Sila sambil membelai lembut rambut wanita pujaannya.


Sila hanya diam mendengar ucapan Arsya, hatinya masih terasa nyeri mengingat perlakuan Arsya kepadanya.


" menikahlah denganku, agar mantan suamimu tak lagi mengejar dirimu, kita bina kebahagian kita berdua bersama anak - anak", lanjut Arsya sambil mencium kecil tengkuk leher Sila.


Sila merubah posisi tidurnya menghadap Arsya, ia memandang lekat mata laki - laki yang kini ada dihadapannya, tak ada kebohongan di sana, hanya ketulusan yang terpancar dari bola matanya yang bening.


" beri aku waktu untuk berpikir dan meyakinkan diriku", ucap Sila pelan.


" apa yang kau ragukan dariku", tanya Arsya dengan sungguh - sungguh.


" apa kau tak mencintaiku" , tanya Arsya mulai gusar dan bangkit dari tidurnya yang berdiri menghadap jendela sambil menyilangkan tangannya di dada.


" bisakah dia sedikit - sedikit tidak marah, kelakuannya benar - benar seperti bayi yang suka merajuk, membuatku pusing saja", batin Sila kesal.


Sila bangkit dari tidurnya dan mendekati Arsya, memeluknya dari belakang agar sang bayi tidak marah.


ada rasa bahagia ketika tangan mulus Sila memeluknya, senyum itu kembali muncul setelah bertahun - tahun menghilang, tubuh Sila bagaikan candu baginya yang bisa menenangkan dan membuat moodnya kembali membaik.


Arsya berbalik menatap Sila, andai dulu dia bertemu dengannya lebih cepat, mungkin ia akan menerima perjodohan dari sang mama, namun sebelum itu terwujud sang mama lebih dulu meninggalkannya.

__ADS_1


perlahan tapi pasti, Arsya tak mampu menahan hasratnya untuk tidak menyentuh bibir ranum Sila, semula hanya kecupan kecil lama - lama menuntut yang lebih, sesapan, ******* membuat Arsya semakin mengila, berkali - kali Sila berusaha memukul dadanya agar menghentikannya, namun tak dihiraukannya, hingga Sila kehabisan napas baru Arsya menghentikannya.


" jangan melewati batasan, kita belum halal untuk lebih dari ini", ucap Sila dengan mata yang berair.


" aku mengerti, hanya bibir ini yang bisa membuatku tenang, maafkan aku yang tak bisa mengontrol diriku, bersamamu selalu bisa membuat dia yang di sana menegang, bahkan dulu sewaktu aku terapi, melihat wanita bugil saja dia tidak bereaksi", jelas Arsya sambil menunjuk pada pangkal pahanya.


Sila yang mendengar hal itu mengikuti kemana arah telunjuk itu, ia menutup mulutnya melihat sesuatu yang sedang menonjol di sana.


" dasar laki - laki tak tahu malu, bisa - bisanya dia bicara seperti itu", gerutu Sila.


" di mana kamar mandinya", tanya Arsya yang sedang gelisah menahan sesuatu yang minta dituntaskan.


Sila menunjuk kamar mandi pribadinya, ada rasa malu, lucu, mengingat tingkah Arsya.


" dia benar - benar bos aneh dan suka sekali memaksa", batin Sila sambil merapikan ranjangnya, menyisir rambutnya dan membenahi pakaiannya.


setengah jam berlalu, Arsya baru selesai dengan hajatnya yang meminta segera diselesaikan.


" kenapa hanya dengan Sila kau begini, membuatku malu saja, bagaimana jika ia menuduhku sebagai laki - laki mesum", gerutunya pada benda pusakanya.


Arsya mencuci mukanya agar terlihat segar, kejadian tadi benar - benar menguras energinya hingga ia merasa lapar.


" aku lapar, bisakah kau pesankan makanan untukku", ucap Arsya setelah keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa dihadapan Sila.


Sila hanya mengangguk dan memesankan makanan untuk mereka berdua dan mengantarkannya keruangan pribadinya.


tak butuh waktu lama, Sandra mengantarkan pesanan milik sang bos, Sandra sedikit takut menatap Arsya yang terkesan cuek dan dingin.

__ADS_1


" terima kasih san", ucap Sila kepada asistennya.


" apakah ini kau yang memasak, baunya sama seperti yang kau buat untukku", itu memang resep ku, meski bukan aku yang memasak tapi aku jamin rasanya sama", jelas Sila dan langsung menyantap makan siang mereka.


__ADS_2