Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 116 penyesalan


__ADS_3

Arsya sampai di ruangannya dengan napas yang masih tak beraturan karena terus berlari sejak mobil berhenti di depan kantornya . Rasa penasaran dan tak sabaran membuatnya mengobrak abrik laci mejanya untuk menemukan handphonenya.


Arsya menyalakan handphone yang sudah berada ditangannya. Perasaannya campur aduk menunggu handphone miliknya menyala. lima panggilan dari Aldi dan 10 panggilan tak terjawab dari Sandra. Arsya terduduk di kursinya mengetahui kebenarannya.


" kerahkan seluruh anak buahmu untuk mencari istriku. Temukan dia bagaimana pun caranya". Lirih Arsya yang hampir tak terdengar oleh Asistennya.


Reno hanya mengangguk dan berlalu untuk menjalankan perintah Arsya. Dan memerintahkan dua anak buahnya untuk menyelidiki siapa yang sudah mengirimkan foto itu pada Arsya.


Arsya tak mampu lagi membendung kesedihannya. Matanya mulai berkaca kaca mengenang pertengkarannya dengan Sila dan mengingat semua ucapan dan tuduhannya pada istrinya. Tak terasa pipinya mulai basah oleh air matanya. Menyesal itulah yanng Arsya rasakan saat ini. Andai ia mau mendengar penjelasan Sila tentu tak akan seperti ini.


Arsya berlari meninggalkan kantor menuju Mansionnya. Reno yang melihat Arsya terburu buru segera mengejar sang bos. Arsya masuk ke mobilnya diikuti Reno yang ikut duduk di sampingnya.


Sampai di Mansion Arsya langsung berlari menyisir seluruh ruangan berharap menemukan istrinya. Namun harapannya nihil. Dengan langkah gontai Arsya berjalan menuju kamarnya. Diperiksanya seluruh lemari tempat Sila menyimpan barang barangnya namun semua masih utuh tak ada yang dibawanya.


Arsya terkulai lemah di lantai. Hatinya sangat perih tak terkira mengetahui istrinya telah pergi. Reno yang sejak tadi hanya diam melihat semua yang dilakukan Arsya ikut terpukul dan sedih melihat sang bos. Dulu saat Anna mengkhiantinya tak sampai membuat bosnya meratap dan menangis seperti saat ini.


" Tuan... Tuan... Jangan seperti ini. Kita akan mencari Nona Sila hingga ketemu. Tolong Tuan jangan seperti ini". Reno berusaha mengangkat tubuh Arsya yang terduduk lemah di lantai dengar berderai air mata. Tak sanggup rasanya menyaksikan Arsya seperti anak kecil yang ditinggal mati orang tuanya.


" Ren... Bantu aku cari Sila. Aku tak ingin dia dan anakku kenapa kenapa. Aku tak sanggup jika harus kehilangan mereka". Lirih Arsya dengan tatapan mata sayu dan berair.

__ADS_1


" Aku akan mencarinya sekuat tenaga Tuan. Tapi tolong jangan seperti ini. Nona akan sangat sedih dan marah jika tahu Tuan seperti ini". Reno berusaha membujuk Arsya.


Reno membaringkan Arsya ditempat tidur lalu menyelimutinya. Berharap laki laki itu bisa beristirahat sejenak. Setelah pertengkaran tadi siang Arsya benar benar tidak mengistirahatkan tubuhnya sama sekali hingga malam. Bahkan ia sudah lupa dengan rasa laparnya.


Reno menyuruh asisten rumah tangga untuk memasak sup ikan kesukaan Arsya. Berharap sang bos mau mengisi perutnya meski hanya sedikit.


******


Di tempat yang berbeda Sila merasa sangat gelisah. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam namun rasa kantuk dan lelah yang dirasakan sejak tadi tak mampu membuat matanya terpejam. Rasa rindu pada Arsya membuatnya tak bisa tidur. Namun kata Arsya yang menyakitkan hatinya masih saja terngiang ngiang di telinganya.


" Kamu jahat Arsya. Kenapa kau tak mau mendengar penjelasanku. Apa kau tak bisa merasakan cinta dan kasih sayangku selama ini. Hingga kau tak bisa mempercayaiku. Aku merindukanmu tapi kata katamu sangat menyakitiku. Bahkan kau tega tak mengakui buah cinta kita". batin Sila yang membuat air matanya terus mengalir mengingat semua sikap Arsya padanya.


***


Sudah 3 hari Arsya tak mau makan dan minum. Ia seperti mayat hidup yang hanya melamun dan memanggil nama Sila.


Reno tak bisa berbuat banyak untuk membujuk sahabat yang menjadi bosnya itu. Hatinya ikut menahan perih melihat laki laki yang sangat ditakuti dan di segani sekarang seperti manusia tak bernyawa.


" Apa yang sebenarnya terjadi Ren. Kenapa Arsya bisa seperti itu". Tanya Joe yang ikut sedih melihat sahabatnya.

__ADS_1


Reno langsung menarik Joe untuk keluar dari kamar Arsya dan menceritakan secara detail dari awal hingga akhir.


" Apakah kamu sudah tahu pelaku pengirim foto itu".


" Sudah. Pelakunya adalah istri Aldi sendiri". Jawab Reno.


" Apa hubungan Arsya dan istri Aldi. Bukankah Sila sudah resmi bercerai dan tidak pernah mengusik mereka".


Reno menghela napas panjang.


" Sonia cemburu dan sakit hati pada Sila. Selama menjadi istri Aldi ia terus dibanding bandingkan dengan Sila. Bahkan Aldi masih mrncintai Silah hingga saat ini. Akhir akhir ini Aldi bahkan meninggalkan rumah dan lebih memilih tinggal di hotel dari pada bersama istrinya. Itu karena Aldi benar benar sudah muak dengan tingkah Sonia yang hanya tau berfoya foya dan tak pernah mau mengurus suaminya. Saat kejadia Sonia berada di Resto Sila bersama teman temannya. Melihat Aldi mengendong Sila. Ia terbakar api cemburu sehingga mengikutinya dan memotret semua moment yang dianggap bisa dijadikan senjata untuk menghancurkan Sila. Dan ternyata hal itu berhasil karena Sonia mengirimnya pada Arsya. Karena rasa cemburu dan oengalaman masa lalu bersama Anna. Arsya tak mampu berpikir jernih sehingga membuat mereka bertengkar hebat dan berujung Arsya tidak mengakui darah daging yang kini dikandung oleh Sila. Dan itu membuat Sila sangat kecewa dan memilih pergi". Joe menarik napas panjang. Tak menduga nasib pernikahan sahabatnya setragis itu. Meski ini pernikahan yang kedua kalinya.


" Lalu dimana kau menyimpan wanita sialan itu. Apa kau sudah memberitahukan hal itu pada Arsya".


" Aku sudah mengirimnya ke penjara. Belum. Yang jadi prioritasku sekarang adalah kesehatannya". Jawab Reno sendu.


" Kenapa kau tak menghubungi Ayahmu dan Oma Cintya. hanya Oma Cintya yang bisa menyembuhkan Arsya. Jangan mengambil tanggung jawab sebesar ini sendiri. Mereka harus tahu masalah ini. Agar kau tak pusing mencari solusi sendiri. Perusahaan juga butuh dirimu saat ini. Melihat keadaan Arsya yang kembali syok dan trauma. Mungkin butuh waktu agak lama untuk menyembuhkannya". Joe berusaha memberi saran pada sahabatnya.


" Kau benar. Hanya Oma dan Ayah yang bisa mengatasi Arsya. kenapa aku melupakan hal itu. Aku akan menghubunginya nanti malam". Jawab Reno sedikit lega.

__ADS_1


" Tapi tanggung jawab kesehatan Arsya tetap kamu yang menghandle. Aku tidak percaya pada siapa pun kecuali kamu". Ucap Reno pada Joe. Yang hanya ditanggapi dengan anggukan dan senyuman.


__ADS_2