Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 61


__ADS_3

Arsya masih saja bersikap dingin dan jutek pada Sila yang membuat wanita itu bingung dibuatnya. apa sebenarnya yang sudah ia lakukan sehingga membuat laki - laki di sampingnya ini berubah menjadi dingin seperti ini.


" sekali - kali aku kerjain saja" batin Sila dengan senyum liciknya.


" aw... aw... aduh kepalaku tiba - tiba pusing sekali", ungkap Sila yang berpura - pura sakit kepala.


Arsya yang sedari tadi hanya diam dan tak memperdulikan Sila, berubah panik melihat Sila yang sedang sakit kepala.


" dimana yang sakit, aku akan memanggilkan dokter untukmu", ucap Arsya dengan nada paniknya.


Sila segera meraih tangan Arsya dan menariknya sehingga Arsya hampir terjatuh karena ulah Sila.


" maaf.... tidak usah Tuan, aku hanya ingin di pijit saja", jelas Sila.


Arsya duduk di samping Sila dan menyandarkan kepalanya pada dada Arsya, perlahan Arsya mulai memijit kepala Sila sebisanya sesuai permintaan Sila.


" apa masih sangat sakit?, tanya Arsya yang masih dengan wajah panik.


" tidak Tuan, sudah sedikit berkurang", ucap Sila yang menahan tawa karena melihat wajah Arsya yang begitu panik.


" ### apa Tuan masih marah padaku?, tanya Sila dengan tetap memejamkan matanya, karena tak ingin sandiwaranya terbongkar karena tak bisa menahan tawanya.


" tidak, aku hanya tidak suka kau menyuruhku ke kantor seolah kau tak menginginkanku di sini, aku hanya ingin menikmati waktu berdua denganmu, apa kau keberatan?, tanya Arsya pada Sila.


Sila yang sedari tadi memejamkan matanya, mulai membuka matanya dan menatap lekat laki - laki dihadapannya. ntah disadari atau tidak Sila merasa sangat berbunga dan bahagia saat bersama Arsya, bahkan kata - katanya tadi pagi hanyalah sekedar basa - basi karena tak ingin egois meminta Arsya untuk menjaganya meksi Sila sangat menginginkan selalu bersamanya.


" maksudku tidak begitu Tuan, aku hanya tidak ingin anda terlambat ke kantor hanya karena saya", jawab Sila agar Arsya tak salah paham padanya.

__ADS_1


Sila menatap laki - laki dihadapannya dengan sangat mesra, membuat Arsya menghentikan pijitannya dan balik menatap Sila dengan intim. Arsya tak bisa menahan godaan yang ada di depannya, perlahan namun pasti Arsya mendekatkan wajahnya pada wajah Sila yang entah sadar atau tidak Sila memejamkan matanya seolah memberi lampu hijau pada Arsya.


Arsya mengecup bibir ranum yang selalu membuatnya tergoda, perlahan kecupan itu berubah menjadi sebuah pangutan, semula Sila hanya diam saja namun semakin lama Sila mulai membalas pangutan itu hingga membuat Arsya di mabuk kepayang, pangutan yang semula pelan berubah menjadi liar dan ganas yang hampir membuat kedua insan itu lupa diri. Sila mendorong dada Arsya karena oksigen yang dihirupnya sudah hampir habis, yang membuat Arsya terpaksa menyudahi aktifitasnya.


" maafkan aku yang tak bisa mengontrol diriku, bersamamu membuatku lupa diri", ucap Arsya lalu mencium kening Sila dengan penuh kasih.


Sila memendamkan wajahnya di dada bidang Arsya, entah rasa yang mulai merasukinya, jangankan marah pada Arsya atas apa yang terjadi justru ada rasa bahagia dan rasa ingin lebih dari rasa itu.


Arsya tersenyum bahagia karena Sila sudah mulai bisa menerimanya meski hal itu belum terucap untuknya, namun Arsya harus lebih sabar untuk mengobati trauma wanita di sampingnya akan sebuah hubungan .


" Tuan", panggil Sila


" hem ", saut Arsya yang masih mendekap tubuh ramping Sila.


" apa yang membuat anda jatuh cinta padaku", tanya Sila dengan malu - malu.


Arsya meregangkan pelukannya dan menatap wajah Sila dengan penuh selidik, ia tak ingin memberikan jawaban yang salah atas pertanyaan Sila dan membuat wanita itu takut untuk memulai hubungan kembali.


" apa Tuan tidak menyesal memilihku yang sudah memiliki kedua orang anak, padahal di luar sana akan banyak wanita yang rela antri demi mendapatkan cinta anda", ungkap Sila yang masih penuh dengan keragu - raguan.


" apa kau meragukan ku?, jika aku mau sudah banyak wanita yang bisa tidur di ranjang ku tanpa ku minta, tapi aku memegang teguh prinsipku dan menjunjung tinggi sebuah hubungan, jika hanya istri ku yang bisa menemaniku di manapun itu, dan aku yakin kamu adalah pilihan hatiku dan juga pilihan keluargaku", jelas Arsya pada wanita yang sudah mengisi hatinya.


mendengar penjelasan Arsya seakan menjadi magnet yang mampu menarik hatinya untuk berlabuh pada Arsya.


Sila semakin memendamkan wajahnya di dada bidang Arsya dan menghirup aroma maskulin itu dengan rakusnya, hatinya berbunga - bunga seperti anak Abg yang sedang jatuh cinta.


" aku mencintaimu Arsila kanaya, maukah kau menjalani sisa hidupmu untuk hidup bersamaku", ungkap Arsya dan merenggangkan pelukan Sila dan menatap wajah Sila dengan sangat intim.

__ADS_1


mendapat ungkapan cinta langsung dari Arsya, membuat Sila tak mampu untuk membalas tatapan itu, dengan dada yang berdebar - debar dan rasa yang kini mulai ada untuk laki - laki itu tak mampu untuk mengatakan kata tidak.


Sila mengangguk malu tanda bahwa ia menerima cinta Arsya untuknya, dan langsung memeluk Arsya kembali agat Arsya tak melihat wajahnya yang merah merona.


" apa kau malu padaku, kau seperti Abg saja, terima kasih sudah menerimaku" ucap Arsya dan mengeratkan pelukannya pada wanitanya.


" mulai sekarang jangan panggil aku Tuan lagi, panggil aku dengan yang lainnya karena aku bukan Tuan mu", titah Arsya pada Sila.


" lalu aku harus memanggil apa Tu... " ucap Sila tak meneruskan ucapannya karena bibirnya sudah dibungkam dengan bibir milik Arsya.


" jika kau masih memanggilku Tuan, maka aku akan menghukum mu", ungkap Arsya tegas.


Sila bingung harus memanggil apa pada laki - laki yang belum sehari menjadi kekasihnya.


" tak mungkin aku memanggilnya mas, itu mengingatkanku pada mantanku, panggil om dia masih gagah dan tampan, panggil bang emangnya dia abang tukang bakso, panggil cin kami bukan abg lagi", batin Sila yang pusing untuk memanggil Arsya.


" sayang, aku bosan tinggal di dalam kamar ini dan memakai infus ini terus", ungkap Sila manja pada Arsya.


mendengar panggilan " sayang " untuknya membuat laki - laki itu melebarkan senyumannya.


" aku akan memanggilkan dokter untukmu dan meminta mereka melepaskan infus ini", Arsya menekan tombol merah agar dokter dan perawat datang ke kamar Sila.


tak berapa lama dua orang perawat dan dokter datang ke kamar Sila dan mengecek kondisi Sila.


" apa ada keluhan Nona ", tanya sang dokter.


" aku hanya masih sedikit lemas dan kadang masih pusing sedikit", jawab Sila pada sang dokter.

__ADS_1


" apa bisa infus ditangannya dilepas", tanya Arsya pada dokter yang sedang memeriksa Sila.


" jika kondisi Nona Sila sudah lebih baik, bisa saja Tuan, infus hanya untuk memberikan cairan dan obat melalui pembuluh darah, jika nona merasa kuat, makan dan minum cukup, minum obatnya juga tidak susah, tidak masalah jika ingin di lepas", jelas dokter pada Arsya .


__ADS_2