
Arsya kembali dengan membawa beberapa vitamin yang diresepkan oleh Joe sahabatnya. lalu menuju kamar Sila yang mendapati wanita itu sedang tidur dengan pulasnya.
Arsya kembali turun untuk menghirup udara segar, pikiran dan hatinya hanya terfokus pada wanita itu, entah apa yang membuat Sila memendam semuanya sendiri.
Arsya pergi meniggalkan rumah Sila, setelah menitipkan pesan pada Art kekasihnya.
***
Sila terbangun dari tidurnya, ia menyapu seisi ruang kamarnya namun tak mendapati Arsya berada di sana.
" kemana dia? apa aku tidur terlalu lama, sehingga membuatnya pergi dari sini" guman Sila dalam hati.
Sila turun dari ranjangnya dan menuruni tangga untuk menuju dapur, tenggorokannya terasa kering sehingga ia ingin segera meminum air, untuk mengobati dahaganya.
" Bik, Arsya kemana?, tanya Sila pada Asisten rumah tangganya yang sedang sibuk membereskan dapur.
" Tuan pergi Non, Tuan menitipkan pesan jika Non harus minum obat, terus makan dan istirahat", jelas Bik nani.
Sila hanya mengangguk mendengarkan pesan untuknya, ia juga ingin sehat demi kedua buah hatinya.
setelah makan dan minum obat, Sila bersiap pergi dengan mengendarai mobilnya, hari ini ia sudah membuat janji bertemu dengan Aldi mantan suaminya di kantornya.
sampai di kantor Anggara Group, Sila dipersilahkan masuk menuju ruang CEO yang tak lain adalah Aldi Anggara, dan langsung menuju ruangannya.
__ADS_1
" selamat datang di kantor Anggara Group Sila, dulu aku tidak pernah mengajakmu kesini, dan baru sekarang kamu datang kesini" sambut Aldi berbasa - basi.
Sila hanya diam mendengar ucapan mantan suaminya itu, tak sedikit pun ia merasa bahagia bisa menginjakkan kakinya di perusahaan Aldi.
" kamu semakin cantik sekarang, sungguh aku menyesal meninggalkanmu dan anak - anak", ucap Aldi mencoba mengambil hati Sila.
" lupakan masa lalu dan menatap ke depan mas, masa lalu tidak perlu dikenang dan diingat tapi untuk dilupakan", jawab Sila sinis.
Sila lalu melemparkan surat dari pengadilan dimeja Aldi, laki - laki itu tersenyum melihat surat itu, lalu membukanya untuk mengetahui isinya.
" apa maksud dari semua ini mas?, tanya Sila kesal.
Aldi tersenyum menatap wajah cantik dihadapannya yang sekarang menjadi obsesinya.
" aku kesini untuk membahas ini mas, tidak untuk yang lain", ucap Sila sinis.
Sila mulai jengah dengan sikap Aldi padanya, ingin rasanya ia keluar dari kantor itu jika tidak ingin membahas soal Dania.
" semua itu kamu lah alasannya Sil, dan hanya kamu yang bisa mengubahnya", ucap Aldi singkat.
" apa maksudmu mas, jangan berbelit - belit dan membuatku bingung ", jawab Sila geram pada mantan suaminya.
" kamu yang membuatku terpaksa melakukan ini, karena kamu menolak ku untuk rujuk kembali, aku akan melakukan apapun asal kamu mau kembali kepadaku, dan Dania hanya sebagai alat bisa membuatmu kembali padaku" ucap Aldi tanpa merasa bersalah sedikit pun.
__ADS_1
Sila benar - benar tak habis pikir dengan sikap Aldi sekarang, kenapa laki - laki yang dulu penyayang dan lembut berubah menjadi laki - laki egois dan tak punya hati seperti ini.
" kamu keterlaluan mas, Dania itu putrimu bisa - bisanya kamu manfaatin dia demi ambisi mu yang gak masuk akal, hubungan kita sudah berakhir dan semua itu karena ulah mu sendiri, seharusnya kamu malu bicara seperti itu padaku, karena keegoisan mu akan banyak hati yang kamu lukai mas, Sonia, aku, Dania. apa kamu gak pikirin itu mas, lupakan masa lalu kita dan kita jalani hidup kita masing - masing, aku akan membujuk anak - anak agar mau kembali bertemu dirimu, tapi tidak dengan cara seperti ini, sudah aku katakan padamu jika aku tak bisa kembali lagi padamu, kamu memiliki Sonia di samping mu maka hiduplah selayaknya, dan biarkan aku dan anak - anak juga hidup bahagia dengan cara kami sendiri", jelas Sila berusaha merubah jalan pikiran Aldi .
Aldi hanya tersenyum sinis mendengar ucapan mantan istrinya, berulang kali mendapat penolakan dari Sila tak membuatnya menyerah begitu saja.
" terserah padamu Sil, jika kau menolak ku maka kasus ini akan berlanjut dan kita akan bertemu di pengadilan, jika kamu mau kembali bersama ku, semua akan berjalan dengan normal, aku akan menceraikan Sonia jika itu yang menjadi penghalang bagimu", jelas Aldi yang tetap ngotot pada pendiriannya.
" kamu benar - benar sudah gila mas, kamu pikir aku dan Sonia bahan mainan mu, jika sudah bosan kamu buang, jika kau ingin kamu bisa membelinya, begitu!, kami punya perasaan dan hati mas, dan aku bukan Sonia yang dapat menyakiti hati wanita lain demi mencari kebahagiaannya sendiri" jawab Sila menahan amarah pada laki - laki dihadapannya.
Sila merasa tak ada gunanya bicara dengan laki - laki egois dan tak punya hati seperti Aldi, yang hanya membuang - buang waktunya saja, Sila beranjak dari duduknya dan ingin segera pergi dari kantor Aldi.
" aku akan tetap merebut Dania darimu, agar kamu tahu bertapa tersiksanya aku karena menyesali semua perbuatan ku pada kalian, kamu kira aku bahagia selama ini Sil, aku terluka karena berpisah dari anak - anakku, aku hanya ingin membangun keluarga bahagia seperti dulu lagi bersama kalian, kenapa itu begitu sulit untukmu", teriak Aldi yang juga kesal karena Sila tiba - tiba pergi dari ruangannya tanpa bicara padanya.
Sila menghentikan langkahnya mendengar ancaman Aldi pada dirinya, dan berbalik menatap sinis pada laki - laki yang dulu pernah menjadi suaminya.
" jika kamu menyesal atas perbuatan mu pada kami, seharusnya kamu membiarkan kami hidup bahagia mas, bukan mengusik dan memaksa kamu untuk menuruti keinginanmu, bercermin lah pada masa lalu, bukan egois karena obsesi mu, Dania adalah putriku dan tak akan ada satu pun yang berhak mengambilnya dariku termasuk kamu dirimu mas, aku akan memperjuangkannya dengan caraku sendiri", ucap Sila tegas dan tak sedikitpun menampakkan kelemahannya pada Aldi, karena Sila tak ingin Aldi merasa menang atas dirinya untuk yang kesekian kalinya.
Sila berbalik dan melangkahkan kakinya kembali, ada rasa kesal, marah pada laki - laki yang pernah ia cintai dulu, namun semua telah menjadi masa lalu dan masa lalu tidak perlu diingat kembali.
Aldi kesal pada sikap Sila yang tak sedikitpun merasa takut atas ancamannya, ia berpikir jika Sila masih seperti yang dulu yang akan menurutinya jika mendapatkan tekanan sedikit saja, ternyata perkiraannya salah, wanita itu kini lebih tegas dan tegar dalam menghadapi tekanan hidupnya.
Sila melajukan mobilnya menuju Mhs Group, untuk bertemu dengan Arsya. di dalam pikirannya hanya Arsya yang dapat menolongnya saat ini dan bisa membuat Aldi tak meremehkan dirinya lagi.
__ADS_1