
Arsya terus menjalani pengobatan dan terapy agar ia bisa sembuh secara total. Ia tak ingin jika dirinya mengecewakan istri yang sangat di cintainya. Dan akhirnya Sila mencari kepuasan di luar sana seperti yang dilakukan oleh mantan istrinya dahulu.
Disela sela jadwalnya yang padat Arsya akan menyisihkan waktunya untuk ke rumah sakit atau ke klinik tempat Joe bekerja.
" Ren, kosongkan jadwalku untuk sore ini. Aku harus menjalani terapy ku bersama Joe nanti. Arsya memberi perintah pada Asistennya.
" bagaimana perkembangannya, apa si dokter cabul itu bisa membuatmu lebih baik". Tanya Reno pada atasannya yang sekaligus sahabatnya.
Reno, Arsya, Joe adalah sahabat sejak kecil. Mereka hidup dalam lingkungan yang sama. Sejak kecil Reno dan Arsya bahkan seperti saudara kembar karena umurnya yang tidak terlalu jauh berbeda dan tinggal dilingkungan yang sama karena Ayah Reno bekerja pada Oma cintya. Sedangkan Joe sudah sering kali berkunjung ke rumah Oma Cintya bersama Papanya. Papa Joe merupakan rekan bisnis Oma Cintya dalam mengurus Rumah sakit peninggalan Mama Arsya.
Dua petinggi Mhs Group berjalan beriringan menuju ruang rapat. Langkah kaki yang tegap dan aura dingin segera menyeruak di dalam ruangan itu sehingga membuat penghuninya merasakan hawa dingin yang mencekam. Setelah pekerjaannya selesai Arsya bersiap - siap untuk menuju Rumah sakit miliknya dimana Joe sedang bekerja saat ini.
__ADS_1
" biarkan aku ikut denganmu, aku juga ingin bertemu dengan Dokter cabul itu. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya". Reno menawarkan diri.
" cih... aku tau maksud dan tujuanmu ikut denganku". Arsya berdecih kesal pada Asistennya. Selalu memata mataiku.
Reno hanya pura pura tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Arsya. Sebagai orang kepercayaan ia harus tau perkembangan kesehatan sang majikan.
Arsya dan Reno segera pergi menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Joe. Sampai di Rumah sakit mereka langsung menuju Lift khusus petinggi Rumah sakit tersebut. Lalu masuk keruangan dimana Joe bekerja.
" bisa gak sih ketuk pintu dulu kalau masuk, paling tidak ngintip dulu jangan langsung nyelonong". Oceh Joe kesal dengan sikap Arsya yang selalu nyelonong jika masuk dalam ruangannya.
" ngapain duduk di depanku, tempatmu di sana bukan disini". Ketus Joe pada Arsya. Menunjuk ranjang berukuran single disudut ruangan. Arsya mendengus kesal dengan sikap Joe padanya. Jika dia bukan Dokter terbaik di Rumah Sakitnya pasti sudah di kirimnya ke Benua antartika.
__ADS_1
Arsya menuruti perintah Joe dan membaringkan tubuhnya. Selanjutnya Joe melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Arsya. Dan tanpa di sadari oleh mereka Reno masuk tanpa permisi.
" bisa gak sih kalau masuk itu pakai permisi dulu, gak Bos gak Asistennya kerjaannya ngagetin aja". Umpatnya pada Reno yang tiba tiba sudah duduk di kursi pasien.
" ini adalah salah satu kelebihan kami, seharusnya ruanganmu ini dilengkapi dengan alat pendeteksi mahkluk halus". Reno dan Arsya berusaha menahan tawanya melihat Joe yang terlihat dongkol pada mereka.
Joe membuka berkas pemeriksaan Arsya untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang dialaminya. Setelah membaca dan membandingkan Joe kembali melihat dua mahkluk halus yang ada dihadapannya.
" kalian mau reunian duduk di sana, Dokternya di sini. kalau bukan karena kau yang punya Rumah sakit ini udah aku usir kalian". Joe masih aja dongkol dengan sikap Arsya dan Reno yang selalu membuatnya kaget.
" kamu jadi Dokter judes amat sih Joe, gini gini aku pasien mu lo. Mau aku laporin ke pemilik rumah sakit ini biar kamu di pecat". Canda Reno pada Joe.
__ADS_1
" apa kamu lagi PMS jadi bawaannya bete terus, jadi dokter tu yang ramah biar banyak pasien". Sambung Reno mengejek Joe.
Joe semakin kesal dengan dua sahabatnya itu, jika sudah berkumpul pasti dia yang akan di bully dengan dua manusia balok. Keduanya terkenal dengan sikap dinginnya jika sudah berhadapan dengan bisnis, dan hanya Joe yang ramah terhadap wanita yang mendekati mereka dan itu sebabnya Joe terkenal dengan playboy karena suka ganti ganti wanita.