
Sila bangun lebih awal dari biasanya, ia segera membersihkan diri dan menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya. tak seperti biasanya Sila sangat bersemangat hari ini, percakapannya dengan Oma Cintya seakan menjadi vitamin bagi dirinya, untuk membuat putra semata wayangnya agar bisa kembali seperti sedia kala.
", pagi mama", sapa Dania yang sudah rapi dan wangi.
", pagi juga sayang, mana bang Adit, apa dia belum bangun?, tanya Sila kepada putrinya.
", sepertinya sudah bangun ma, mungkin sebentar lagi turun", jawab Dania, dan mendudukan bokongnya di kursi.
Sila mengambilkan sarapan untuk Dania, dan menyiapkan untuk Adit dan dirinya. mereka sarapan bersama - sama dengan sangat hikmat, tak ada suara yang keluar dari mulut mereka, hanya bunyi dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
", hari ini kalian di rumah Oma Cintya ya, kan mama Vania hari ini ada acara gak bisa temeni kalian, terus home schooling juga libur, mama takut kalau ninggalin kalian cuma sama bibik", jelas Sila dan meminta persetujuan dari kedua anaknya.
", kalau Dania mau ma, di sana enak, banyak makanan, rumahnya luas, pemandangannya juga banyak dan juga Dania bisa berenang lagi, ya kan bang", ucap Dania dengan ceria dan meminta pendapat pada Adit, namun yang disebut namanya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya.
", gimana bang, mau ke rumah Oma Cintya? ", tanya Sila ulang, karena Adit belum memberikan pendapatnya.
", terserah mama!, hanya kata itulah yang keluar dari mulut putranya, namun hal itu sudah membuat Sila merasa senang.
Sila mengantar kedua anaknya ke mansion Arsya, menggunakan mobil jemputan dari Arsya. sebenarnya Sila bisa mengantar anak - anaknya menggunakan mobil miliknya, namun Arsya sangat protektif dan posesif terhadap keluarganya.
Arsya sudah menunggu kedatangan mereka, dan langsung mengendong Dania dan membawa mereka ke ruang tengah yang sudah terdapat Oma Cintya.
setelah menitipkan mereka pada Oma Cintya dan berpamitan Arsya Dan Sila berangkat kekantor dalam satu mobil.
__ADS_1
", Tuan Anggara sudah menunggu anda Tuan, dan meeting sebentar lagi akan di mulai", Arsya menerima telpon dari Reno asistennya, yang mengabarkan jika pagi ini, Arsya harus menghadiri meeting bersama Anggara Group.
", baiklah, sebentar lagi aku sampai", ucap Arsya singkat dan memutuskan sambungan telponnya.
selama perjalanan baik Arsya maupun Sila tak ada yang memulai pembicaraan, mereka asyik dengan pemikiran mereka masing - masing.
sesampai di kantor Arsya langsung menaiki lift khusus untuk CEO yang diikuti oleh Sila, Arsya langsung menuju tempat dimana akan diadakannya meeting pagi ini.
", tolong ambilkan berkas untuk meeting hari ini di meja ku, map berwarna merah bertuliskan anggara group", perintah Arsya pada Sila.
Sila langsung menuju lantai paling atas, di mana ruangan CEO berada. sesuai perintah Arsya , Sila langsung mengambil dan memberikan berkas yang di minta Arsya keruang meeting.
", ini Tuan, berkas yang anda minta", Sila segera duduk tepat di samping Arsya untuk mengikuti meeting yang akan segera dimulai.
gerak - gerik Sila tak luput dari pandangan peserta meeting pagi itu, yang tanpa disadari oleh Sila bahwa Aldi tak berkedip memperhatikannya sejak ia masuk keruang meeting.
", seharusnya aku sadar jika Anggara group adalah perusahaannya, dan seharusnya aku tak perlu ikut dalam meeting ini", batin Sila dan langsung mengalihkan pandangannya dari Aldi.
meeting berjalan dengan lancar, dan waktu sudah menunjukkan siang hari, Sila segera membereskan berkas meeting dan ingin kembali ke ruangannya.
", Sila.. tunggu... ", Aldi menarik tangan Sila agar ia tak menghindarinya.
", tolong lepaskan tangan Anda Tuan, saya sedang bekerja", ucap Sila ketus dan mengibaskan tangan Aldi.
__ADS_1
", aku ingin bicara denganmu, tolong beri aku waktumu", Aldi memohon pada Sila.
sedangkan Arsya yang melihat adegan mereka sudah mengepalkan tangannya dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Arsya duduk di kursi kebesarannya dan melonggarkan dasinya dengan kasar, bayangan Aldi memegang tangan Sila membuat ia marah dan cemburu.
Sila yang melihat Arsya pergi dengan amarah dan terburu - buru ingin segera mengejarnya, agar sang bos posesif itu tidak salah menilai dirinya. namun Aldi kembali menarik tangan Sila yang membuat Sila mengurungkan niatnya.
", apa yang ingin mas bicarakan, kita sudah usai mas, dan tak ada lagi yang perlu dibicarakan", jelas Sila agar Aldi sadar akan keadaan mereka saat ini.
", aku hanya ingin tahu kabar anak - anak, biar bagaimana pun aku papanya", ucap Aldi tanpa merasa bersalah atas apa yang pernah ia lakukan dahulu.
", mas masih ingat kalau punya anak - anak, mas gak perlu kuatir mereka bahagia dan hidup cukup denganku, jadi tolong lepaskan tangan mas, saya masih ingin melanjutkan pekerjaanku", jelas Sila marah dan mengibaskan tangan Aldi, dan meninggalkan Aldi yang masih diam membisu ditempatnya.
Sila memasuki ruang CEO dengan ragu, tatapan Arsya saat melihat dirinya dan Aldi sungguh membuat ia merasa takut, sehingga membuat Sila takut melihat kearah Arsya.
Arsya memperhatikan gerak gerik Sila sejak masuk ruangannya, Arsya menggulung lengan bajunya hingga ke siku, lalu membuka dasi dan membuangnya ke sembarang arah. Arsya berjalan ke meja Sila, lalu menarik tangan Sila dengan sangat kuat yang membuat Sila menahan rasa sakit dipergelangan tangannya.
Sila mengerang kesakitan, namun tak menghentikan Arsya untuk terus menarik tangan Sila dan membawanya ke dalam kamar pribadinya yang ada dalam ruangan CEO. Arsya mengunci tubuh Sila di dinding sehingga membuat Sila tak bisa berbuat apa- apa.
", Dimana Aldi menyentuh tubuhmu", tanya Arsya dengan nada marah.
Sila yang mendengar pertanyaan Arsya, sangat bingung harus menjawab apa, Sila hanya menunjuk tangannya. Arsya segera memegang tangan Sila lalu menciumi nya dengan brutal, Sila merasa tersakiti atas perbuatan Arsya, namun Sila tak dapat berbuat banyak. tak sampai disitu, Arsya kembali mencium bibir Sila dengan paksa yang membuat Sila meneteskan air mata. Arsya tak menghentikan perbuatannya meski tahu jika Sila menahan sakit atas ulahnya, entah mengapa melihat Aldi memegang tangan Sila saja amarahnya langsung tidak terkontrol, dan hanya dengan cara ini Arsya bisa meredam rasa marah dan cemburu.
setelah hati dan pikirannya merasa tenang, Arsya melepaskan Sila, Arsya menyeka air mata Sila dengan kedua ibu jarinya.
__ADS_1
", maafkan aku yang tak bisa mengontrol emosiku, aku tak suka sesuatu yang sudah ku anggap milikku di ganggu atau di sentuh orang lain, kau adalah milikku Sila dan selamanya akan begitu, dan aku tak butuh persetujuan mu untuk hal itu", jelas Arsya lalu merapikan rambut dan baju Sila yang berantakan karena ulah nya.
Sila masih diam membisu dan tak tahu harus berbuat apa, perlakuan Arsya kepadanya dan kedua buah hatinya membuatnya nyaman berada di sampingnya, namun sikap Arsya yang terkadang lose kontrol membuat Sila takut untuk memulai hubungannya dengan Arsya. meski tak dipungkiri jika Sila kini sudah mulai terbiasa dengan adanya Arsya di tengah - tengah keluarganya.