
Sila sedang sibuk menyiapkan menu makan siang yang dikirimkan oleh Arsya bersama Dania putrinya, mereka terlihat sangat bersemangat dan bahagia, sambil berceloteh kecil gadis itu menyusun sendok di atas piring, sambil terus bercerita pada Sila.
waktu sudah menunjukkan makan siang, Sila juga sudah siap dengan dandanannya yang sederhana namun tidak mengurangi kadar kecantikannya, sedangkan Dania dan Adit menonton film kesukaan mereka.
suara mobil berasal dari depan rumah Sila, Dania segera berlari membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
" om ganteng ", Dania berteriak memanggil Arsya.
Arsya berjalan menuju Dania yang berdiri di teras menunggu dirinya, lalu mengandeng tangan gadis kecil itu untuk masuk bersama - sama.
Sila menatap mereka berdua dengan penuh rasa bahagia, Arsya mampu menjadi seseorang yang sangat dekat dengan putrinya dan itu adalah nilai plus untuk kekasihnya.
Arsya duduk di samping Adit dan mulai menyapanya, dan mendudukkan Dania di Sampingnya.
" hai boy, apa kau suka main game ?, tanya Arsya sekedar basa basi.
Adit menoleh pada Arsya, mendengar pertanyaannya, lalu menganggukkan kepalanya.
melihat respon Adit padanya, Arsya hanya tersenyum, ternyata ia harus bekerja keras untuk mengambil hati Adit, agar jalannya semakin mudah untuk menikahi mamanya.
Arsya mengandeng tangan kedua anak Sila dan mengajaknya menuju meja makan untuk menikmati makan siang mereka.
Sila mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk kekasihnya dan kedua anaknya, mereka menikmati makan siang mereka dengan khusuk.
" besok kalian sudah bisa bersekolah, om akan menjemput dan mengantar kalian", ucap Arsya setelah menyelesaikan makan siangnya.
mendengar kata sekolah membuat Dania dan Adit merasa senang, sudah sangat lama mereka tidak sekolah sejak pindah kembali ke ibu kota, mereka hanya home schooling yang membuat mereka tidak memiliki teman.
Sila menatap Arsya meminta penjelasan, sebelumnya tak ada pembicaraan di antara mereka tentang sekolah untuk kedua anaknya.
" nyonya ini ada orang yang mengirimkan paket ", asisten rumah tangga Sila memberitahukan jika ada irang yang membawa barang untuk mereka.
__ADS_1
" suruh mereka masuk bik ", jawab Arsya singkat
dua orang membawa kardus yang ntah apa isinya, Sila semakin di buat bingung oleh kekasihnya. belum selesai masalah sekolah kini sudah ada hal baru yang ia tak mengerti.
" lakukan tugas kalian dengan baik, jangan ada yang salah " titah Arsya pada kedua anak buahnya.
" baik Tuan ", jawab mereka sambil melakukan tugas mereka dengan hati - hati.
Arsya mengajak Sila dan kedua anaknya untuk menuju ruang keluarga, dan melanjutkan percakapan mereka yang sempat terputus, serta melihat pekerjaan anak buahnya.
" sayang, bisa tolong jelaskan tentang sekolah tadi ", ucap Sila pada Arsya.
Arsya tersenyum bahagia karena Sila tidak malu memanggilnya dengan sebutan sayang di depan kedua anaknya.
" aku sudah mendaftarkan Adit dan Dania di sekolah milik yayasan mama yang sekarang di kelola oleh oma Cintya, jadi sekolah dan yayasan itu tetap di bawah Mhs Group, sekolah itu adalah sekolah elit, hanya orang - orang yang pintar yang bisa sekolah di sana, kau tak perlu kuatir tentang yang lainnya, aku sudah mengatur semuanya, seragam sekolah kalian nanti akan ada orang yang mengantarnya, beserta perlengkapan lainnya, mereka harus segera sekolah, jangan mengurung mereka lebih lama di rumah karena rasa takutmu, aku yakin Adit akan bisa bersosialisasi dengan baik, mereka akan di antar jemput oleh orang kepercayaan ku, jadi kamu tak perlu takut ", jelas Arsya pada Sila dan juga pada kedua anaknya.
Sila merasa bersyukur bertemu dengan Arsya, meski awal pertemuannya membuat hatinya selalu kesal karena ulah Arsya yang pemaksa, egois.
" semua sudah siap Tuan ", ucap kedua orang suruhan Arsya, lalu berlalu pergi meninggalkan rumah Sila.
Arsya mengajak Adit untuk melihat dan mencoba alat baru yang dipasang oleh anak buahnya. monitor beserta aksesoris lengkap, untuk bermain game dengan keluaran terbaru ada di depan mata Adit, membuatnya seakan tak percaya jika ia bisa memilikinya.
" apa kau menyukainya?, ini milikmu sekarang, kau bisa bermain dan menyalurkan emosimu lewat game ini, dulu oma Cintya juga memberikan ini pada om, saat om dalam keadaan seperti dirimu, om bisa menyalurkan emosi om dengan bermain game", jelas Arsya lalu menepuk- nepuk pundak Adit.
Adit menatap lekat Arsya, lalu maju memeluk tubuh kekar itu dan menangis diperlukannya, yang membuat Arsya semakin tersentuh dan kasihan pada anak sulung kekasihnya.
" jangan menangis, laki - laki tak boleh menangis, laki - laki harus kuat dan tangguh, maafkan om yang dulu pernah memaksamu, anggap om sebagai temanmu, kau bisa bercerita apapun pada om", Arsya mengusap rambut Adit dengan lembut, ia tahu apa yang dirasakan Adit, karena dulu ia juga pernah mengalami hal yang sama. trauma karena kehilangan orang yang paling disayangi.
Adit melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya tanda ia paham atas ucapan Arsya padanya.
" ayo kita coba, aku ingin tahu sejauh mana kehebatan mu dalam bermain game ", Arsya menantang Adit.
__ADS_1
Adit hanya mengangguk menerima tantangan Arsya padanya.
***
di depan rumah Sila berhenti sebuah mobil BMW berwarna hitam, yang tak lain adalah
milik Aldi. setelah mengetahui alamat Sila dari sepupunya Vino, Aldi langsung menuju rumah Sila setelah memastikan wanita itu tidak berada di rumah sakit lagi.
Aldi segera mengetuk pintu rumah Sila, lalu muncullah gadis kecil yang sangat ia kenali yang tak lain adalah Dania.
mendengar pintu rumahnya diketuk Dania segera berlari untuk melihat siapa yang datang kerumahnya, namun ia justru terkejut dengan sosok yang berdiri dihadapannya, yang tak lain adalah papanya yang dulu dengan tega mengusir mereka tanpa ada rasa belas kasihan.
" siapa sayang ", tanya Sila yang menyusul Dania karena tak segera kembali.
Sila pun terkejut melihat mantan suaminya berada dihadapannya, padahal ia sudah menyembunyikan alamat rumahnya dari siapapun, kecuali pada Vania dan Arsya.
" mas Aldi ", batin Sila ketika melihat siapa tamunya, yang membuat Dania mematung melihatnya.
Aldi ingin memeluk tubuh Dania yang dulu sering berada dalam gendongannya, namun perlahan Dania memundurkan langkahnya menghindari Aldi lalu bersembunyi dibalik tubuh Sila.
" dari mana mas tahu alamat rumahku ?, tanya Sila.
" aku menyuruh seseorang untuk melacak alamat mu, aku hanya ingin bertemu dengan anak - anakku ", jawabnya dengan wajah sendu.
" bolehkah aku masuk ", tanya Aldi lalu menuju sofa diruang tamu Sila.
Dania masih bersembunyi di balik tubuh Sila, sedangkan Sila hanya bisa membiarkan putrinya melakukan hal itu.
" Dania, ini papa sayang ", Aldi berusaha merayu putrinya, namun Dania tak bergeming sedikit pun.
Dania justru semakin menghindari Aldi dan memeluk erat tubuh Sila.
__ADS_1