Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 92


__ADS_3

Arsya membubarkan meeting pagi ini, dan semua petinggi Anggara Group segera meninggalkan ruangan itu, kini hanya tinggal Arsya dan Asistennya serta Aldi yang masih duduk di kursinya.


Aldi masih tidak percaya jika Jihan Pratama Mandiri adalah perusahaan yang dinaungi oleh Mahesa Group, kesalahan yang fatal bagi Aldi karena tidak mengecek lebih detail dokumen kerja sama kepemilikan saham Anggara Group, dan kini ia harus bertemu kapan saja dengan laki - laki yang menjadi rivalnya itu.


Arsya menatap sinis laki - laki yang ada dihadapannya, ada kekhawatiran pada laki - laki yang dulu begitu sombong dan angkuh itu.


Arsya berdiri dari duduknya dan ingin melangkah untuk meninggalkan ruangan itu, ia terlalu muak untuk melihat laki - laki dihadapannya.


" tunggu ", ucap Aldi menghentikan langkah kaki Arsya.


Arsya menghentikan langkahnya diikuti oleh Asistennya, dan menoleh pada sumber suara itu.


" apa ada yang ingin anda sampaikan Tuan?, tanya Asisten Reno pada Aldi.


Aldi menatap Asisten Reno yang masih berdiri dibelakang Arsya, lalu berpindah menatap Arsya yang tak sedikitpun menoleh pada Aldi dan tetap memasang wajah dinginnya.


" apa yang ingin kau lakukan pada perusahaan ku?, tanya Aldi pada Arsya yang masih berdiri ditempatnya.


Arsya menoleh pada Aldi mendengar pertanyaan dari pemilik Anggara Group.


" apa maksud anda, saya hanya ingin membenahi sistem kerja perusahaan ini, karena saya tidak ingin merugi dan melihat perusahaan ini bangkrut", ucap Arsya dengan nada dinginnya.


Arsya kembali menuju kursinya semula dan duduk kembali di sana.


" saya juga akan mengawasi penggunaan dana yang ada di perusahaan ini, meski pun anda sebagai CEO dari Anggara Group tapi saya punya wewenang untuk melakukan itu, agar dana di perusahaan ini tidak disalah gunakan", lanjut Arsya, dan tentu saja hal itu membuat Aldi semakin berang pada Arsya.


" anda tidak bisa seenaknya melakukan itu terhadap perusahaan saya", ucap Aldi dengan nada yang menahan emosi.

__ADS_1


Arsya tersenyum sinis mendengar ucapan Aldi.


ternyata CEO Anggara Group adalah seorang pecundang, yang lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada kelangsungan hidup perusahaannya.


" saya bisa melakukan apa saja yang saya mau Tuan Aldi, bahkan untuk mengganti posisi anda saat ini, anda jangan lupa jika saya adalah pemilik saham terbesar di perusahaan ini, dan tentu saja saya memiliki kuasa penuh untuk perusahaan ini, jika anda tidak ingin bekerja sama dengan saya, anda bisa menjual saham anda yang hanya 20% itu, dengan senang hati saya akan membelinya", jelas Aldi dengan nada mengejek pada laki - laki yang menjadi rivalnya.


Aldi geram dengan ucapan Arsya yang menghinanya, jika tidak karena posisinya saat ini, ingin rasanya Aldi menghajarnya.


" dan satu lagi Tuan Aldi, saya ingin memberitahu dan menekankan pada anda jika saya dan Sila adalah suami istri yang Sah secara hukum dan agama, oleh sebab itu apapun yang berhubungan dengan istri saya itu akan berhubungan juga dengan saya, jadi saya peringatkan jangan menganggu nya dan jaga batasan - batasan anda, jika tidak ingin Anggara Group tinggal nama", ucap Arsya dengan penuh penekanan dan bernada ancaman.


mendengar ucapan Arsya, membuat Aldi sulit menelan salivanya, ia tahu jika Arsya tidak pernah main - main dengan ucapannya, dan hal itu tentu saja membuat Aldi sangat tertekan.


Arsya beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Anggara Group.


Aldi kembali keruangan nya, ia benar - benar dibuat pusing hari ini, apalagi mengetahui bahwa Arsya dan Sila sudah menikah benar - benar membuat emosinya tidak stabil.


*****


Sila terus mendampingi Dania, bahkan Sila rela tidak bekerja sementara waktu demi untuk mengantar jemput putri kesayangannya. Sila tidak ingin jika Dania merasa tidak diinginkan oleh kedua orang tuannya, sehingga Sila berusaha untuk memberikan perhatian yang lebih padanya.


" sore sayang, apa kau lelah hari ini?, tanya Sila saat menjemput putrinya di sekolahnya.


Dania hanya menggelengkan kepalanya, sejak mengetahui masalah yang dihadapi oleh kedua orang tuanya, Dania selalu murung dan itu membuat Sila merasa sedih.


" mama bolehkah aku bertemu dengan papa?, tanya Dania pada sang mama.


mendengar pertanyaan putrinya, Sila sangat terkejut, dan menatap putrinya dengan lekat.

__ADS_1


" Dania sayang, apa yang ingin kamu lakukan jika bertemu papa?, apa kau sudah tidak takut bertemu dengan papa ?, jangan pikirkan masalah ini, mama akan terus berusaha agar Dania tetap bersama mama' ucap Sila pada putrinya sambil mengusap rambut putrinya.


Sila tak ingin Dania terus terbebani oleh masalah ini, dan membuat gadis kecil itu merasa tersakiti.


" ganti pakaianmu dan beristirahatlah " ucap Sila ketika mereka sampai di Mansionnya.


Dania hanya mengangguk dan berlalu pergi menuju kamarnya, wajah cerianya tak ada lagi, bahkan kecerewetan gadis kecil itu pun sirna, kini Dania berubah menjadi anak yang pendiam dan hal itu membuat Sila merasa sedih.


Sila menunggu suaminya pulang, karena ada hal yang ingin dibicarakan olehnya dan itu tentang putri mereka. perasaan sedih dan merasa bersalah pada putrinya kini menghantui pikirannya, apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


pukul 7, Arsya barulah sampai di Mansionnya dan disambut oleh istrinya.


" apa kau menungguku?, tanya Arsya pada istrinya lalu mengecup kening Sila.


Sila mengangguk dan tersenyum pada suaminya, lalu mengambil tas dan membuka jas yang dikenakan oleh suaminya.


" apa kau sedang menggodaku Anya?, tanya Arsya dengan mengedipkan matanya menggoda Sila.


" Aish.... aku hanya tersenyum padamu dan membantumu melepaskan jas mu, bukan meraba mu, kenapa kau anggap itu menggodamu", ucap Sila sewot, lalu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.


" kenapa dia sensitif sekali hari ini, apa dia sedang datang bulan ", batin Arsya, tak seperti biasanya sikap Sila akan mudah merajuk seperti malam ini.


Sila keluar dari kamar mandi masih dengan wajah yang cemberut, dan tentu saja itu membuat Arsya merasa serba salah.


" pergilah mandi sebelum airnya dingin" ucap Sila dingin dan langsung menuju Work in closet untuk menyiapkan baju ganti untuk Arsya. lalu meletakkannya diatas tempat tidur.


Arsya hanya menuruti ucapan istrinya karena tidak ingin membuat wanita itu semakin sebal padanya, ia tak ingin malam ini tidur tanpa memeluk guling hidupnya itu, yang berakibat ia tak bisa memejamkan matanya.

__ADS_1


Arsya meredam tubuhnya di dalam Bath up, tubuh yang terasa lengket dan pegal kini terasa sangat segar apalagi dengan adanya tambahan aroma teraphy lavender di sana tentu saja membuatnya bisa rileks dan menikmati mandinya.


__ADS_2