Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 127 memaafkan


__ADS_3

Sila menggeliat merasakan tubuhnya yang terasa berat. perlahan ia mengercapkan matanya dan melihat ruangan yang nampak asing baginya. Sila mencoba mengingat ingat kejadian sebelum ia tertidur.


Sila bangkit dari tidurnya setelah mengingat semua yang terjadi. Arsya yang menyadari pergerakan Sila pun ikut terbangun dan kembali memeluk erat istrinya.


" Mau kemana Anya. Ku mohon jangan tinggalin aku pagi. Aku gak bisa hidup tanpa mu Anya. Aku mohon". Arsya terus memohon dan memeluk erat tubuh Sila. Seolah tak ingin kehilangan wanita yang sangat dicintainya.


" ish.... Tolong lepasin aku. Aku hanya ingin menelpon Vania. Dia pasti lama menunggu ku". Jawab Sila ketus. Arsya hanya tersenyum malu mendengar ucapan Sila.


Sila mencari keberadaan tas miliknya yang entah dimana keberadaannya. Dan mendapati tas itu teronggok di sofa yang ada di pojok ruangan.


" Mau kemana".


" Aku ingin mengambil tas milik ku". Jawab Sila ketus.


" tunggu disini". Arsya segera bangun dari tempat tidurnya dan berlalu untuk mengambil tas Sila.


" Terima kasih ". Ucap Sila setelah menerima tasnya.


Sila lalu menghubungi sahabatnya dan bertanya akan keberadaannya saat ini.

__ADS_1


" aku pergi bersama temanku Sil. Aku sudah mengirim pesan padamu untuk menghubungiku jika kau ingin pulang. Tapi sampai sekarang kau belum memberi kabar jadi aku belum menjemputmu". Ucap Vania dari seberang sana. Sedikit lega setelah mendengar penuturan sahabatnya. Paling tidak Sila tidak merasa bersalah karena membiarkan Vania menunggu lam.


" Baiklah kalau begitu. Nanti aku bisa menghubungi mu jika membutuhkan bantuanmu. Lanjutkan saja bersenang senang bersama temanmu". jelas Sila lalu mematikan panggilan telponnya.


Arsya yang sedari tadi hanya tersenyum senyum sendiri mendengar perbincangan kedua sahabat itu.


" Kau begiti mengkhawatirkan sahabatmu. Padahal sejak kau masuk ke sini aku sudah menyuruhnya pulang. Kau tidak tahu jika sahabatmu itu pandai sekali berakting". Batin Arsya menertawakan sikap istrinya.


" Aku ingin pulang ". Sila sudah berdiri dan ingin meninggalkan kamar itu.


" Tidak. Aku tidak mengizinkan mu untuk pulang sekarang". Arsya kembali memeluk tubuh istrinya.


" Kamu yang seperti anak kecil. Aku masih berstatus suamimu Anya. Aku berhak atas dirimu. Tiga bulan aku mencarimu dan tersiksa karena kehilangamu. Apa itu masih belum cukup juga. Lalu harus dengan apa lagi aku meminta maaf mu. Aku tahu. Aku bersalah padamu. Tapi tolong buka hatimu untuk memaafkan suamimu ini. Apaaku perlu bersujud padamu untuk meminta maaf darimu". Arsya menjatuhkan tubuhnya dan bersujud di hadapan Sila. Melihat sikap Arsya yang seperti itu tentu saja hati Sila terasa sakit dan nyeri. Sungguh kejam dan tega dirinya membiarkan suaminya melakukan itu.


" Bangun. Ayo cepat bangun. Aku tidak ingin seperti ini. Aku bukan ibumu yang harus menerima sujudmu". Sila berusaha menarik Arsya agar segera berdiri.


" aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkan ku dan berjanji tidak akan meninggalkanku ". Pinta Arsya.


Dengan berat hati Sila pun memenuhi permintaan suaminya agar drama ini ceoat berlalu. Arsya bangun dari sujudnya dengan perasaan bahagia dan langsung memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


" Terima kasih Anya. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku sekali lagi". Arsya mengecup kening Sila dengan sangat lama. Untuk mengurangi kerinduannya selama ini.


Arsya menatap mata indah milik Sila. Perlahan tatapan itu semakin menuntut dan intens. Sila hanya diam terpaku melihat Arsya yang semakin mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafasnya menyapu wajah Sila.


Kerinduan yang tertahan selama tiga bulan lamanya. Membuat pasangan suami istri itu tidak dapat lagi membendung hasrat untuk saling melepas rindu yang membara. melihat Sila yang hanya diam saja atas tindakannya. Arsya semakin berani untuk bermain di bibir Sila yang ranum yang membuatnya ingin merasakan lebih dari itu.


" Bolehkah aku mengunjungi anak kita. Aku sangat ingin melihatnya. Aku sudah menahannya selama tiga bulan. Tolong jangan menolakku. Aku bisa gila karena hal itu". Pintanya memelas.


Sila yang melihat wajah suaminya yang sudah dipenuhi oleh hasrat merasa tak tega jika tidak memenuhi keinginannya. Apalagi statusnya yang masih istri sah secara hukum dan agama karena memang tidak pernah ada kata talak diantara mereka. Tak dapat dipungkiri jika Sila sangat merindukan sentuhan dari suaminya.


Dengan malu malu Sila menganggukkan kepalanya tanda memberikan izin pada Arsya. Tak ingin menunggu lama. Arsya segera membopong tubuh Sila dan meletakkannya secara perlahan di atas ranjang. Perlahan tapi pasti Arsya mulai menikmati inci demi inci tubuh istrinya.


Tak perlu menunggu lama pakaian yang mereka gunakan sudah berhamburan dilantai menyisakan tubuh polos mereka.


" Apa kau sudah siap". Tanya Arsya dengan nafas yang memburu.


" Ya. Tapi pelan pelan. Ada anak kita di dalam sana". Arsya tersenyum mendengar ucapan istrinya.


Sore itu menjadi hari yang paling membahagiakan bagi dua insan yang saling mencintai dan merindukan tapi terhalang oleh keegoisan.

__ADS_1


__ADS_2