Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 119


__ADS_3

Arsya menatap langit langit kamar. Hari harinya sangat menyedihkan tanpa Sila disampingnya. Rasa penyesalan kini selalu menghantui dirinya. Jika saja waktu bisa diputar kembali mungkin ia akan mendengar semua penjelasan Sila dan memilih mempercayainya.


Oma Cintya masuk ke dalam kamar cucu tunggalnya. Melihat Arsya yang masih meringkuk di bawah selimutnya dengan wajah kusut dan rambut yang acak acakan.


" Apa kau belum bangun. Ini sudah hampir siang tapi kau masih bermalas malasan seperti ini. kau seorang CEO perusahaan besar tidak ada waktu untuk bersantai santai seperti ini". Oceh Oma Cintya pada cucunya. Lalu berjalan membuka korden dan jendela agar udara segar dapat masuk dan memberikan udara baru.


Arsya asyik dengan lamunannya sendiri langsung duduk di bibir ranjang setelah mendengar suara yang sangat dirindukannya.


" Oma.. Kapan Oma datang. Aku sangat merindukan Oma". Arsya mencium punggung tangan dan memeluk Oma Cintya dengan berderai air mata.


" tak penting kapan aku datang. Yang terpenting adalah dirimu".


" Maafkan aku Oma. Aku membuat Sila marah dan meninggalkanku. Aku menyesal Oma. Aku ingin Sila kembali padaku". Tangis Arsya pecah dipelukan sang Oma.

__ADS_1


Perih hati Oma Cintya melihat cucunya kembali rapuh. Untuk yang kesekian kalinya.


" Kau laki laki kenapa sangat cengeng seperti ini. Jika Sila tahu hal ini apa kau tidak malu. Sedangkan dia yang wanita saja bisa tegar dan tetap menjalani hidupnya". Arsya merasa tertampar dengan ucapan Oma.


Arsya menghapus air matanya lalu memandang wajah tua yang ada dihadapannya. sejak menjadi yatim piatu hanya Oma Cintya lah tempat mencurahkan segala isi hati dan mengantikan peran orang tuanya.


" Arsya cucuku tolong dengarkan aku baik baik. bisa jadi ini petuahku yang terakhir untukmu. Oma sudah sangat Tua dan tidak akan bisa selalu menemanimu selamanya. Kau pewaris tunggal Mhs Group. Untuk membangun Mhs Group bukan perkara mudah dan gampang . Bahkan seperti yang kau tahu kepergian orang tuamu adalah bukti sulitnya membangun perusahaan ini. Semua kami siapkan hanya untukmu agar kau tidak kesulitan secara ekonomi. Untuk itu Oma ingin kau menjadi orang yang kuat, tangguh dan berani dalam menjalani lika liku hidup. Jangan biarkan orang menganggapmu lemah dan menghancurkan hidupmu. Kau cucu Oma satu satunya. Penerus Oppa dan Papamu. Buat mereka bangga karena memilikimu. Buang jauh jauh trauma yang menjadi kelemahanmu. Oma yakin kamu bisa. Kau harapan kami satu satunya dan Oma percaya kau tak akan mengecewakan kami. Sila juga butuh seorang suami yang mampu menjaga dan melindunginya.bukan malah sebaiknya. Jika kau ingin anak dan istrimu kembali. Bangkitlah dan cari mereka bagaimana pun caranya. Tunjukkan jika kau mampu untuk melindungi dan menjaga mereka ". Panjang lebar Oma Cintya menasehati cucu kesayangannya berharap Arsya mulai bangkit dan menjadi pribadi yang lebih kuat.


Setelah kepergian sang Oma Arsya duduk termenung seorang diri. Kata kata Oma terus mengiang ngiang di telinganya. Arsya mengambil Handphone yang sudah berminggu minggu tak disentuhnya. Gambar Sila yang memenuhi galeri fotonya mengingatkan masa masa indah hidup bersamanya.


******


Di belahan benua eropa khususnya di Swiss Sila masih sibuk dengan peralatan dapurnya. ia menghabiskan waktunya untuk memasak sesuai hobbynya. Lagi pula masa kehamilannya kali ini tidak sangat merepotkan dirinya. Hingga ia bisa memasak tanpa halangan apa pun.

__ADS_1


" Sil. Kau tak perlu repot repot seperti ini. Aku mengajakmu kesini bukan untuk menyuruhmu memasak buat kami. Tapi untuk berlibur agar kau tak bersedih terus". ucap Vania yang baru turun dan mendudukan bokongnya di kursi.


" justru ini adalah caraku untuk melupakan kesedihanku. Aku jadi punya kegiatan dan tidak bosan hanya diam saja". Jelas Sila.


Vania langsung menyantap hidangan yang ada diatas meja. Vania memang sangat menyukai masakan sahabatnya.


" tapi jika kau memasak setiap hari. kau bisa membuatku gemuk". Sila tersenyum mendengar sahabatnya protes.


" kita memang sudah tua Van. Jika gemuk sedikit aku kira tidak masalah".


" ish.. Kau ini. Aku tidak ingin terlihat gendut dan tua. kau tahu mas Alex dikelilingi oleh wanita wanita cantik dan sexy. Aku tidak ingin terlihat jelek di matanya". Sila tertawa mendengar curhatan sahabatnya.


Mereka akhirnya menikmati makan bersama. Sila mulai bisa melupakan kesedihannya dan kembali menjalani hari harinya .

__ADS_1


__ADS_2