
Sampai di kantor Arsya, Sila segera menaiki lift karyawan untuk menuju ruangan CEO. banyak pasang mata yang melihatnya bahkan desas desus Sila menjadi kekasih Arsya sudah mulai terdengar yang membuat para pemuja Arsya menatapnya dengan sinis dan cemburu padanya.
Sila tak begitu mau ambil pusing tentang gunjingan yang dilontarkan oleh karyawan lain padanya, yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana ia bisa tetap memperjuangkan hak pengasuhan putrinya.
meskipun Aldi adalah ayah kandungnya, namun Sila tak begitu percaya jika mantan suaminya itu bisa menjaga dan menyayangi putrinya seperti waktu mereka masih bersama dulu, setelah melihat banyaknya perubahan atas diri Aldi saat ini.
" apa aku mengganggumu?, tanya Sila yang sudah berada di ruangan Arsya.
mendengar suara yang sangat dikenalnya membuat Arsya menghentikan pekerjaannya, hampir saja ia mengumpat Reno karena masuk ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" kenapa kamu tiba - tiba ke kantor, aku menyuruhmu untuk istirahat?, tanya Arsya lalu berdiri menghampiri wanita pujaannya lalu menariknya ke dalam pelukannya.
" ada apa, kenapa wajahmu sedih seperti ini?, ucap Arsya masih memeluk Sila sambil mengusap punggung kekasihnya.
Sila benar - benar lelah memikirkan nasib putrinya, rasa takut kehilangan membuatnya tertekan dan stres memikirkannya.
Arsya membimbing Sila untuk duduk di sofa, agar Sila bisa beristirahat. Sila diam seribu bahasa dan menyandarkan kepalanya dipundak Arsya, namun Arsya memberikan ruang untuk kekasihnya sampai Sila benar - benar siap untuk mengungkapkannya padanya.
" apa kau benar - benar ingin menikah denganku?, tanya Sila tiba - tiba tanpa mengubah posisinya.
Arsya menatap sekilas pada Sila yang masih menyandarkan kepalanya pada pundaknya.
" jika aku tak benar - benar ingin, untuk apa aku menyiapkan semuanya untukmu, apa kau masih meragukan ku Anya!, berikan alasanmu jika kau masih meragukan ku", tanya Arsya pada Sila.
__ADS_1
" aku hanya ingin memastikannya saja, aku tak ingin kamu menyesal nanti jika kita sudah menikah, aku tak ingin merasakan pahitnya perceraian untuk yang kedua kali, menikahi ku berarti kamu sudah siap dengan segala yang berhubungan denganku, kedua anakku dan masalah yang akan aku hadapi dengan mantan suamiku", jelas Sila pada Arsya agar tak ada penyesalan nantinya.
Arsya membalikkan tubuh Sila agar menghadap padanya, ditatapnya dalam - dalam mata indah itu dengan penuh cinta dan kasih agar wanita dihadapannya itu bisa yakin padanya.
" tatap lah mataku apakah ada keraguan di sana, jika aku sudah memilih dan yakin padamu, maka tak akan ada penyesalan untuk sekarang atau nanti, aku bahkan sudah tahu segalanya tentangmu sebelum kamu memberitahukan padaku, buang jauh - jauh ketakutan dan keraguanmu tentangku, karena aku benar - benar tulus padamu", jelas Arsya dengan penuh kelembutan.
Sila tak mampu membalas ucapan laki - laki dihadapannya, berjuta kali ia mencoba mencari kebohongan dimata Arsya justru yang ada adalah kejujuran dan cinta.
" terima kasih karena sudah menerimaku dengan segala kekurangan dan kelemahan ku, dan terima kasih untuk cinta yang kau berikan padaku, I LOVE YOU ARSYA", ucap Sila dengan penuh haru dan air mata bahagia.
" I LOVE YOU TO ANYA", Arsya melepas pelukan Sila padanya lalu mengusap air mata kekasihnya.
Sila benar - benar merasa beruntung bertemu seorang Arsya, setelah rasa sakit yang dia alami karena dicampakkan, tapi di gantikan oleh seseorang yang sangat tulus dan sayang padanya dan juga pada kedua buah hatinya.
" baiklah jika begitu, aku mau menikah denganmu dan aku ingin kita menikah secepatnya", ucap Sila malu - malu pada Arsya.
mendengar ucapan Sila, Arsya merasa ada petir di siang hari, bagaimana bisa wanita itu justru meminta menikahinya secepatnya, sedangkan sebelumnya ia pernah ditolak berkali - kali olehnya.
" kamu gak lagi demam kan?, atau karena Joe memberimu vitamin yang salah?, Arsya mencoba mengecek suhu tubuh Sila dengan meletakkan tangannya di kening Sila.
mendengar pertanyaan Arsya membuat Sila cemberut dibuatnya.
" hai... aku hanya terkejut tiba - tiba mengajakku menikah, padahal aku sudah memintamu berkali - kali padamu", jelas Arsya agar Sila tak marah padanya.
__ADS_1
" kapan kita akan menikah", tanya Arsya pada Sila sambil mengedip - ngedipkan matanya yang genit.
Sila melihat tingkah Arsya membuatnya ingin tertawa, ternyata CEO dingin dan jutek pada karyawannya ini bisa bertingkah konyol juga.
" sesuai rencana Oma saja, bukankah kurang 3 hari lagi?, tanya Sila pada Arsya.
" baiklah Ratuku, apapun keinginanmu, akan aku turuti", jawab Arsya bahagia, akhirnya bisa menikahi janda yang membuat hatinya selalu galau selama ini.
" tapi ada syaratnya", ucap Sila yang langsung membuat wajah Arsya berubah.
" apa syaratnya", tanya Arsya dengan wajah datarnya.
" aku ingin pernikahan kita tidak dipublikasikan, karena aku belum siap, setelah menikah aku juga ingin tetap tinggal di rumahku hingga sampai waktunya tiba", ucap Sila pada Arsya.
" jika pernikahan tertutup yang kamu inginkan aku bisa mewujudkan hal itu, tapi setelah menikah kita tetap hidup terpisah itu yang berat aku kabulkan untukmu", jawab Arsya singkat.
" soal itu aku memiliki alasan tersendiri, jika sudah waktunya kapan pun kau memintaku tinggal bersamamu aku akan bersedia", ungkap Sila pada Arsya.
Arsya merasa keberatan dengan tuntutan Sila, namun rasa cintanya pada Sila membuatnya mengalah pada Sila.
" baiklah, tapi kapan pun aku ingin bersamamu tak ada penolakan untukku", ucap Arsya tegas.
" baiklah, aku setuju. tapi apa kau ingin setelah kita menikah, kau ingin langsung berbuka puasa", tanya Sila dengan sedikit ngeri membayangkan malam pertamanya dengan Arsya.
__ADS_1
" aw... apa yang kau pikirkan, kenapa pikiranmu terlalu jauh ke sana, aku bahkan belum memikirkan hal itu, aku hanya ingin hidup denganmu dalam satu atap, biar memudahkan ku untuk berbuka puasa, tapi aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap", jawab Arsya sambil menggoda calon istrinya.