
Sila menangis tersedu - sedu di kamarnya, ia tak menyangka jika masalah datang bertubi - tubi padanya, hinaan dan cercaan dari netizen membuat hatinya sakit, tanpa melihat kenyataan mereka bisa menilai seseorang dengan sesukanya, bahkan ucapan mereka sangat menyakitkan.
" tok.. tok... tok... ", pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Sila tak langsung membuka pintu kamarnya, ia merapikan rambutnya yang kusut dan mengelap air matanya, setelah dirasa tenang ia berjalan membuka pintu kamarnya.
" Vania... ", Sila terkejut mendapati sahabatnya berada di rumah Arsya dan langsung memeluknya.
Vania hanya diam saja melihat sahabatnya menangis, ia hanya membiarkan Sila menangis sepuasnya dalam pelukannya.
Sila melepas pelukannya dari sahabatnya, ia sudah merasa lebih tenang. Vania hanya mengusap punggungnya sebagai tanda ia memberi dukungan dan memberi semangat untuk Sila.
" ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?, tanya Vania kepada sahabatnya.
Sila tahu jika Vania selalu ada dan mendukungnya selama ini, tentu saja Vania juga harus tahu apa yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang diberitakan di media online, setelah menghela napas dalam - dalam Sila menceritakan semuanya kepada Vania, dari sejak Vania meninggalkan mereka di restoran, tentang foto mereka yang saling suap - suapan hingga foto yang menampilkan mereka berdua di ranjang yang sama.
" tapi aku berani bersumpah Van, antara aku dan Arsya tidak terjadi apa - apa, di kamar itu ada Adit dan Dania bersama kami, tidak seperti yang ada di berita itu", jelas Sila dengan penuh kejujuran.
" aku percaya padamu Sil, aku sudah lama mengenalmu, dan aku tahu siapa dirimu, kau tak perlu kuatir aku dan mas Alex akan mendampingi mu dalam Konferensi pers nanti, sekarang tenangkan dirimu dulu", ucap Vania pada sahabatnya.
" bagaimana kau bisa berada di sini", tanya Sila kepada sahabatnya.
" Arsya menghubungi mas Alex dan menceritakan semuanya dan meminta Mas Alex untuk menangani kasus ini, dan Arsya juga yang minta di dampingi dalam konferensi pers nanti malam, lalu memintaku ikut untuk menemanimu, Mas Alex sedang berada di ruang kerja Arsya saat ini sedang membahas kasus ini dan aku di antar bibi ke kamarmu", jelas Vania pada Sila.
" apa mereka tahu tentang masalah ini", tanya Vania sambil menunjuk pada dua bocah yang sedang tertidur sangat nyenyak di ranjang.
__ADS_1
Sila hanya menggeleng lesu, dan melihat kedua buah hatinya yang sangat ia sayangi.
" mereka tak boleh tahu tentang masalah ini, aku takut mereka akan terluka mendengar berita ini, bisa kah kau membawa mereka dari sini nanti malam, agar mereka tak mendengar apa yang sebenarnya terjadi" pinta Sila kepada Vania sahabatnya.
" jika suatu hari nanti terjadi sesuatu padaku, aku titipkan mereka padamu, jaga mereka untukku", lanjut Sila sambil tertunduk lesu.
" kau bicara apa Sil, mana Sila yang aku kenal kuat, pantang menyerah, mandiri, apa gara - gara masalah ini kamu menjadi lemah dan pengecut seperti ini, lihatlah mereka, apa kamu tega ingin meninggalkan mereka begitu saja, menyerah pada hidup ini, lalu mereka akan bersandar pada siapa jika kau mamanya tak bisa berdiri menghadapi hidup ini, mereka membutuhkanmu Sil, ingat itu", geram Vania pada Sila, baru kali ini sahabatnya bisa serapuh ini, saat berpisah dengan mantan suaminya ia bahkan tak pernah sedikitpun mengeluh.
Vania benar - benar tak menyangka jika Sila bisa berkata seperti itu padanya, wanita yang ia kenal sangat kuat kini berubah menjadi seperti ini.
" semua akan berlalu, percayalah padaku, kau wanita hebat dan kuat, jika tidak karena dirimu sendiri maka kuatlah demi kedua anakmu", Vania berusaha memberikan semangat kepada sahabatnya.
" aku capek Van, bahkan aku merasa malu untuk menampakkan wajahku di depan umum, berita itu sungguh menyakitiku", ucap Sila lirih dan berderai air mata.
waktu terus berlalu, Vania tetap setia menemani sahabatnya, segala persiapan tentang Konferensi Pers sudah usai. Sila dibantu oleh sahabatnya mempersiapkan dirinya, memakai gaun yang dibelikan Arsya saat di kuala lumpur. sedangkan kedua anaknya juga sudah rapi dan wangi.
untuk sementara Vania akan membawa kedua anak Sila untuk bermain - main di taman belakang yang terdapat kolam renangnya di bantu oleh Art Arsya, sedangkan Konferensi Pers akan di gelar di halaman depan agar kedua anak Sila tidak mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
sesuai waktu yang dijadwalkan dan para wartawan yang diundang juga sudah datang, Arsya menjemput Sila untuk keluar bersama, diluar sudah ada Alex sang kuasa hukum, Reno dan asisten Dion. sedangkan Oma Cintya hanya memantau mereka dari kamarnya.
Arsya dan Sila duduk berdampingan, dan di samping Arsya ada Alex yang akan mewakili kliennya untuk berbicara.
acara di mulai dengan di buka oleh Alex yang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Kuala Lumpur, hingga tentang foto - foto yang beredar, dan menjelaskan bahwa semua itu hanya fitnah dari mantan istri Arsya yang ingin menjatuhkan Arsya.
__ADS_1
setelah Konferensi Pers itu usai, Alex membawa Arsya dan Sila untuk menemui Anna yang kini sudah menjadi tahanan, mereka ke sana untuk melengkapi berkas tuntutan sekali gus untuk menjenguk wanita yang pernah menjadi istrinya.
sampai di kantor polisi Alex langsung menemui bagian yang terkait dengan kasus yang ditanganinya. sedangkan Arsya dan Sila menuju tempat di mana Anna di tahan. Arsya dan Sila menunggu kedatangan Anna, mereka bertemu dan duduk saling berhadapan.
" jadi ini ja***ng mu, hingga kau menolak kembali lagi dengan ku", ucap Anna sinis.
" tutup mulut mu, bicaralah yang sepantasnya, dia bukan dirimu yang menjual diri untuk kesenangan semata", balas Arsya geram dengan sikap Anna.
" kau jangan terlalu berharap padanya, setiap wanita butuh kepuasan, apa kau yakin bisa memberikan hal itu padanya? tawa Anna mengejek mantan suaminya.
Arsya berusaha menahan emosinya agar tidak terpancing oleh ucapan Anna, meski ingin rasanya ia merobek mulut mantan suaminya itu.
sedangkan Sila hanya diam mendengar pembicaraan antara Arsya dan Anna, ia tak menyangka jika ada seorang wanita yang bisa bicara kasar seperti itu.
" aku kira tidak ada yang perlu aku bicarakan denganmu, tadinya aku kasihan padamu dan ingin mencabut tuntutan ku tapi sepertinya kamu memang pantas untuk tinggal di sini, bila perlu dalam waktu yang lama", ucap Arsya lalu berdiri menggandeng tangan Sila meninggalkan ruang besuk.
" aku tak butuh rasa kasihan darimu, aku bahkan bisa bebas jika kekasihku menjamin ku, aku yang kasihan padamu tak bisa menikmati tubuh ja***ng mu itu, kau hanya laki - laki impoten yang menyedihkan hahaha... ", Anna tertawa puas dengan menghina Arsya.
Sila menghentikan langkahnya, mendengar makian Anna pada Arsya, Sila melepaskan genggaman tangan Arsya dan berbalik menuju Anna berada, Sila berada tepat dihadapan Anna lalu melayangkan tamparan hingga membuat Anna terjungkal.
" mulutmu busuk seperti tong sampah, jika dia tidak bisa membuat dirimu puas kenapa kau masih terus mengejarnya hingga membuat berita bohong seperti ini, seharusnya Arsya tidak memasukkan mu ke penjara tapi sebaiknya mengubur mu di tempat pembuangan sampah", ucap Sila geram dengan mencengkram mulut Anna lalu menghempaskan nya dan pergi meninggalkan Anna sambil mengandeng tangan Arsya.
ntah mengapa Sila di buat emosi dan kesal dengan ucapan Anna yang menghina Arsya, sedangkan Arsya tersenyum melihat sikap Sila.
__ADS_1
" dia garang sekali, aku kira dia wanita yang tak bisa menghajar orang dan marah, ternyata dia wanita tangguh, aku sangat menyukainya, dan dia membelaku di depan Anna", Arsya masih senyum - senyum sendiri sambil terus berjalan mengikuti langkah kaki Sila.