
Sila terus menatap keluar jendela selama perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, Arsya hanya memperhatikan Sila tanpa mau bertanya atau memulai pembicaraan, ia masih bingung dengan sikap Sila yang tiba - tiba berubah menjadi pemberani dan galak, tidak seperti yang ia kenal selama ini.
mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, membawa dua insan yang saling berperang dengan pikiran mereka masing - masing.
" pak tolong antar kan saya pulang saja", ucapnya pada supir Arsya.
sang supir hanya bisa menganggukkan permintaan Sila.
" kita langsung pulang ke rumah besar saja pak", ucap Arsya pada supirnya tanpa melihat ke arah Sila.
" Tuan, saya ingin pulang ke rumah saya saja", ucap Sila jutek.
" tidak, kau harus pulang ke rumah besar, aku ingin kau dan anak - anak akan aman bersamaku", jelas Arsya yang memaksa Sila ikut bersamanya.
" tidak Tuan, saya ingin pulang ke rumah saja, kedua anakku sudah berada di rumah bersama Vania, jadi tolong biarkan saya pulang, jika anda tidak ingin mengantar saya, turunkan saja saya di sini, saya bisa menggunakan taksi untuk pulang", jawab Sila tak mau kalah.
Arsya merasa kesal pada Sila yang tidak menurut padanya, ia masih ingin bersama Sila saat ini, namun karena belum adanya ikatan yang resmi membuatnya sulit untuk mewujudkan keinginannya, Arsya bisa saja memaksa Sila untuk menikah dengannya tapi ia tak ingin Sila justru semakin membencinya karena hal itu.
supir mulai mengurangi kecepatan mobilnya, karena bingung harus mengarah kemana. Arsya yang menyadari akan hal itu, segera menyuruh supirnya untuk memutar arah menuju rumah Sila.
sampai di rumah Sila, wanita itu langsung turun dari mobil sang bos.
" terima kasih, Tuan!, Sila segera masuk ke dalam rumahnya tanpa mempersilahkan Arsya untuk singgah terlebih dahulu di rumahnya.
" hemmmm", jawab Arsya.
" kenapa dia, tidak ada basa basinya sama sekali, dasar sekretaris gak da akhlak", umpat Arsya geram.
" pantau keadaan dan keberadaan Sila dan kedua anaknya, laporkan padaku apapun yang mereka lakukan", Arsya bicara melalui sambungan telpon kepada orang suruhannya.
" kita pulang pak", titah Arsya kepada supirnya.
mobil mulai berjalan menyusuri jalanan ibu kota yang masih saja ramai walau hari sudah malam, bahkan lalu lalang kendaraan belum juga berkurang.
__ADS_1
***
Sila masuk ke dalam rumahnya di sambut oleh kedua anaknya dan sahabatnya Vania. Sila langsung menjatuhkan dirinya di sofa tempak Vania dan kedua anaknya menunggunya.
" kok tumben kalian belum tidur?, tanya Sila kepada kedua buah hatinya dengan lembut.
" belum ngantuk ma, kan tadi siang tidurnya lama", jawab Dania pada mamanya.
" tapi udah jam 9, udah malam sayang", ucap Sila pada Dania dan membelai rambut putrinya.
Sila memerintahkan kedua anaknya untuk segera tidur, mereka pun menurut pada Sila.
" kau tampak tidak baik - baik saja, ada apa?, tanya Vania kepada sahabatnya.
" aku hanya lelah dan sedikit kesal saja", jawab Sila.
" kenapa kau kesal, apa ada masalah?, tanya Vania penasaran.
" apa yang membuatmu kesal sehingga kau bisa menamparnya?, tanya Vania yang mulai tertarik dengan cerita Sila.
" dia memaki Arsya dan mengatainya laki - laki impoten yang menyedihkan, aku kesal mendengarnya, ya lalu aku datangi dia dan menamparnya", lanjut Sila.
" wah - wah... ternyata kau bisa menampar orang hanya karena dia memaki Arsya, apa kau mulai menyukai duda kaya itu", tanya Vania sambil tertawa menggoda Sila.
" apa yang kau katakan, aku hanya ingin membelanya karena dia sudah banyak membantuku", jelas Sila dengan rasa gugup.
" hai... Nona, aku bukan baru 2 hari
mengenalmu, jika kau mulai menyukainya aku justru mendukungmu, dan dia sudah sembuh dari penyakitnya jadi aku pastikan dia laki - laki normal", goda Vania semakin menjadi.
" ah... sudahlah aku tak mau membicarakan itu lagi, kau ini bisa - bisanya berpikir begitu, sudah sana pulang sudah malam nanti suamimu mencari mu", usir Sila dan mendorong tubuh sahabatnya agar segera pulang.
" dasar kau teman tak punya hati, aku sudah menunggumu tapi kau malah mengusirku, aku masih ingin mendengar kisah cintamu yang rumit itu", Vania semakin menggoda sahabatnya, yang membuat Sila merona.
__ADS_1
setelah sahabatnya meninggalkan rumahnya, Sila bergegas menuju kamar kedua anaknya, dan memastikan jika mereka sudah tidur. setelah menyelimuti kedua anaknya dan mencium mereka, Sila menuju kamarnya untuk beristirahat, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi dirinya.
" dreet... dreeet.. dreet", handphone Sila bergetar, Sila meraih handphonenya dan melihat siapa yang malam - malam begini menghubunginya.
" ada apa dia, malam - malam menelpon ku", guman Sila.
" ya Tuan, ada apa?, tanya Sila pada Arsya yang sedang menelponnya.
" ya saya baik - baik saja Tuan, anda tak perlu kuatir pada saya", jawab Sila dan sambungan telpon terputus.
" sok perhatian sekali dia", batin Sila tersenyum bahagia.
***
Sila memulai paginya dengan membuat sarapan untuk dirinya dan kedua anaknya, ia sudah berjanji pada dirinya untuk terus semangat dan berani demi kedua anaknya. Sila mengajak Adit dan Dania untuk sarapan bersama, dan hari ini ia akan pergi ke Resto untuk mengecek laporan yang setiap seminggu sekali ia lakukan.
Sila mengajak kedua anaknya pergi ke Resto, setelah pekerjaannya selesai ia akan mengajak anak - anaknya untuk bermain ke mall bersama sahabatnya Vania. Sampai di Resto Sila disambut oleh Asistennya dan langsung menuju ruangannya bersama kedua anaknya.
" apa ada masalah yang berarti ketika aku tidak ada san?, tanya Sila kepada Asistennya.
" Tidak ada Nona, semua baik - baik saja", jawab Sandra dan menyodorkan laporan yang biasa ia berikan pada Sila.
Sila mengecek laporan yang diberikan oleh Asistennya dengan teliti dan hati - hati agar tidak ada kekeliruan dimasa mendatang.
waktu sudah memasuki makan siang, banyak pelanggan yang sudah mulai berdatangan, hari minggu biasa pelanggan akan ramai sekali, bahkan karyawan dan asistennya akan sangat sibuk melayani pelanggannya.
Sila memutuskan untuk ikut terjun melayani pelanggannya, meski asistennya sudah melarangnya.
" Nona, sebaiknya anda istirahat, biar kami yang melakukannya", ucap Sandra yang melihat Sila ikut melayani customernya.
" tidak apa - apa San, hari ini sangat ramai sekali dan kalian juga sedang kewalahan melayani mereka", jawab Sila tersenyum ramah.
Sila merasa sangat bahagia melihat Restonya yang ramai oleh pengunjung, tak sia - sia perjuangannya selama ini dalam mengelola dan memajukan Restonya bersama Asistennya. banyak suka duka yang di alami untuk membuat Resto itu hingga bisa berkembang hingga seperti saat ini, dan Sandra adalah karyawannya yang selalu setia dari awal hingga saat ini menemaninya, dari yang tidak ada seorang pelanggan pun yang datang hingga ramai seperti saat ini.
__ADS_1