
pukul tujuh malam Reno dan Dion sampai di mansion Arsya. Reno langsung menuju kamar Arsya untuk mengetahui keadaan sang bos.
", bagaimana keadaannya Sil, apa sudah lebih baik", tanya Reno kepada Sila yang masih setia menjaga Arsya.
", demamnya sudah turun mas, mungkin karena ia terlalu syok dan kurang memperhatikan makanannya, jadi membuat ia lemah", jelas Sila kepada Reno.
Reno menempelkan punggung tangannya di kening Arsya, sekedar memastikan ucapan Sila. ada rasa kasihan kepada sahabatnya atas apa yang menimpanya, biar bagaimana pun mereka seperti saudara yang sejak kecil selalu bersama - sama.
", mas bisa saya ijin pulang, kedua anakku pasti sedang menungguku", ucap Sila menjelaskan kepada Reno.
", baiklah Sil, biar supir Yang mengantarmu, aku tak bisa mengantarmu karena harus menjaganya", jelas Reno kepada Sila.
", tak masalah mas, aku mengerti! ", ucap Sila dan bersiap untuk pulang.
Sila berpamitan kepada Oma Cintya, dan pulang bersama supir keluarga Arsya, entah mengapa ia ikut merasa punya andil untuk membuat Arsya sembuh dari trauma masa lalunya. kedua orang tua Arsya sangat baik kepada keluarganya begitu juga dengan Oma Cintya, sehingga ia merasa berhutang budi pada mereka.
****
", mama pulang", ucap Sila ketika sampai dirumahnya. kedua anaknya sedang asyik menikmati film kesukaan mereka yang di temani oleh Art nya.
", mama Vania udah pulang ya", tanya Sila kepada Dania.
", udah ma, katanya mau mandi dan istirahat, paling baru satu jam yang lalu ma", jelas Dania kepada mamanya.
", kalian udah makan belum", tanya Sila kepada Dania dan Adit.
", sudah ma, kami laper banget jadi gak nunggu mama, habisnya lama banget sih", ucap Dania kepada mamanya.
__ADS_1
Sila segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri, setelah selesai dengan aktifitasnya, ia segera bergabung dengan kedua anaknya.
Sila merasa perutnya butuh asupan karena tadi ia melewatkan makan malamnya di kediaman Arsya, Sila segera menuju meja makan dan melahap apa yang masih tersisa.
", sudah malam sayang, saatnya kalian harus tidur, cuci kaki dan jangan lupa gosok gigi sebelum tidur", Ucap Sila mengingatkan kedua anaknya.
kedua anak itu patuh atas perintah mama mereka, dan pergi menuju kamar mereka masing - masing. kini tinggallah Sila duduk di sofa dan menyadarkan punggungnya. pikirannya jauh menerawang ke masa lalu disaat kedua orang tuanya masih ada, betapa ia merindukan mereka, namun kini ia adalah sebatang kara yang harus berjuang untuk kebahagiaan kedua anaknya.
tak ingin larut dalam kesedihan Sila beranjak menuju kamarnya untuk beristirahat, karena besok ia harus kembali bekerja.
****
", em... aku haus", Arsya terbangun dari tidurnya karena rasa haus yang mendera.
Reno terjaga dan langsung melihat keadaan Tuannya.
Reno segera mengambil segelas air yang sudah tersedia di nakas dan memberikannya kepada Arsya. dengan cepat Arsya meminum air dalam gelas hingga tandas.
", apa kau yang menjagaku sejak tadi, Ren?, tanya Arsya yang mencoba menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
", tidak Tuan, aku hanya melanjutkan pekerjaan Nona Sila, anda demam tinggi dan selalu mengigau, Nona Sila yang mengompres anda, dan menyuruh saya menjaga Tuan takut anda terbangun dan membutuhkan sesuatu", jelas Reno kepada sang bos.
", pantas saja aku merasa seperti ada mama di sampingku", batin Arsya mengingat mimpinya.
", mama maafkan aku yang lemah, maafkan aku papa tak bisa menjadi seperti dirimu, aku akan berusaha melawan rasa takutku, aku akan terus berusaha agar Oma bangga padaku", lirihnya dalam hati.
", apa anda ingin makan sesuatu Tuan", tanya Reno memecahkan lamunannya.
__ADS_1
", Nona Sila membuatkan bubur untuk anda, jika anda mau bisa dihangatkan", lanjut Reno.
Arsya hanya mengangguk, ntah sudah sejak kapan ia tidak makan, yang membuat ia merasa lemah. Reno memanggil Art untuk memanaskan bubur dan membawanya ke kamar.
", Silahkan Tuan buburnya", ucap Art yang menyuguhkan bubur buatan Sila.
Arsya segera mengambilnya, aroma sungguh lezat dan membuat perut Arsya memberontak minta untuk diisi.
perlahan Arsya memasukkan bubur kedalam mulutnya, dan mengulangnya lagi.
", rasanya sungguh gurih dan nikmat, dia memang pintar memasak, dan lidahku sudah sangat cocok dengan masakannya", batinnya .
membayangkan dulu ketika masih dipabrik bahkan ia selalu datang ke rumah Sila diwaktu mereka sedang makan dengan alasan bertemu Dania. meski Sila ketus tapi ia pasti menawari Arsya untuk makan bersama. Arsya tersenyum mengenang masa itu, dan dengan cepat menghabiskan hidangannya.
", besok aku akan bekerja di rumah saja, perintahkan Sila untuk datang kesini dan bekerja denganku disini", titah Arsya kepada asistennya.
Reno mengerutkan keningnya, mendengar permintaan bosnya. ",apakah bos sudah mulai membuka hati untuk Sila", batin Reno menelisik raut wajah Arsya yang kini ada senyum kecil di sana.
", semoga saja kehadiran Sila, membawa angin segar untuknya", guman Reno.
", apa kau tak mendengar ucapan ku", kesal Arsya karena tak ada jawaban dari asistennya.
", tentu aku mendengarnya, aku yang akan menjemputnya besok dan membawanya kemari untukmu", jawab Reno dengan sebal.
", sekarang sudah malam, sebaiknya anda beristirahat lagi Tuan, agar besok kembali segar", lanjut Reno memperingatkan bosnya.
Reno kembali ke sofa dan ingin segera melanjutkan tidurnya, ia benar - benar lelah dan mengantuk, seharian ini sungguh banyak pekerjaan karena bosnya tidak kekantor, semoga saja besok pekerjaannya bisa lebih ringan.
__ADS_1
Arsya pun kembali beristirahat meski Matanya belum mengantuk, karena ia baru saja terbangun dari tidurnya, namun ia tak ingin menganggu istirahat asistennya, ia tahu jika Reno lelah mengurus dirinya dan perusahaan.