Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 87


__ADS_3

" buka mulutmu", ucap Asisten Reno tegas.


Sandra yang mendengar hal itu membuatnya mengeluarkan keringat dingin, dan bergantian menatap Arsya dan Sila, lalu terpaksa membuka mulutnya menuruti perintah Asisten Reno.


Sila tahu jika Sandra merasa canggung dan malu karena sikap Asisten Reno yang pemaksa, dan demi kenyamanan para Asistennya, Sila mengajak suaminya untuk pindah ke ruangannya, agar Sandra dan Reno bisa lebih leluasa.


" sayang, bisakah kau temani aku keruangan, aku ingin melihat laporan yang sudah ditumpuk oleh Sandra di mejaku " pinta Sila pada suaminya.


" kau tetap disini dan kau boleh menghabiskan semua makanan ini jika perutmu muat untuk menampungnya " titah Arsya pada Asistennya.


" baik Tuan, aku juga tidak ingin jadi obat nyamuk jika ikut bersama kalian, aku akan menikmati makan malam ku saja" jawab Asisten Reno pada bosnya.


Arsya lalu berdiri dan berjalan mengikuti langkah istrinya menuju ruangannya, seperti yang dikatakan oleh Sila.


sampai di ruangannya Sila hanya duduk tak melakukan apapun, dan memilih menyalakan tv yang ada di dalam ruangan itu.


" Anya, bukan tadi kau bilang ingin melihat laporan Asisten mu, kenapa sekarang kau hanya duduk menonton tv saja", tanya Arsya pada istrinya.


Sila menatap suaminya jengah, ternyata suaminya itu tidak tahu maksud dirinya menjauh dari meja makan itu.


" ish... kau ini tidak peka sekali, Asisten ku dan Asisten mu itu malu jika ada kita berdua di sana, makanya aku mengajakmu ke sini, biarkan mereka saling berinteraksi", ucap Sila yang kesal pada suaminya.


" jangan bilang kau ingin menjodohkan mereka, Sandra terlalu muda untuk Reno", ungkap Arsya merasa keberatan dengan ide sang istri.


" hai Tuan, aku hanya memperkenalkan saja, jika mereka cocok dan saling suka terus apa salahnya, cinta tak memandang perbedaan umur, biarkan mereka yang menentukan dan jangan ikut campur urusan hati mereka" jelas Sila menasehati suaminya.


" terserah kau saja, aku hanya tidak ingin Asistenku terluka dan kecewa karena Asisten mu, Reno tidak pernah mengenal wanita sebelumnya, jadi aku tidak ingin dia patah hati nantinya", ucap Arsya pada istrinya, agar ia tahu kekhawatirannya.


Sila tahu kekhawatiran suaminya pada Asistennya, meski sering berdebat dan tidak akur tapi mereka saling menyayangi layaknya saudara.


" aku tahu sayang, itu sebabnya aku mengenalkannya pada Sandra, aku ingin mengenalkan Asisten Reno dengan wanita yang baik dan tepat, dan itu sebabnya aku memilih Asisten ku, karena aku tahu dan mengenalnya asal usulnya" jelas Sila panjang lebar pada suaminya.

__ADS_1


Arsya hanya diam dan mendengarkan ucapan istrinya, dan berharap jika Asistennya menemukan wanita yang benar - benar tulus padanya.


waktu terus berputar dan tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Sila mengajak suami dan Asisten Reno untuk pulang, karena takut Dania akan menunggu mereka.


***


pagi - pagi Sila sudah bangun, lalu membersihkan dirinya, setelah rapi ia bergegas menuju kamar putrinya untuk melihat apakah sudah bangun atau belum. perlahan Sila membuka pintu kamar Dania, agar tidak menimbulkan bunyi yang dapat menganggu tidur sang putri, dan di lihatnya Dania masih tidur nyenyak dibawah selimutnya.


Sila turun kebawah untuk melihat dapurnya, ia ingin menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya, dan menyiapkan sedikit bekal untuk mengajak putrinya menghabiskan hari liburnya.


" mama.... Daddy mana, semalam kalian kemana, Adek nunggu sampai ngantuk belum pulang juga, adek kira Daddy dan mama lembur", celoteh Dania ketika sampai di meja makan.


" maafin mama sama Daddy sayang, tadi malam ada pekerjaan yang harua diselesaikan", ucap Sila merasa bersalah karena terlambat sampai rumah.


Sila dan Dania saling bercerita, sambil menyiapkan sarapan pagi mereka.


" Daddy..... jangan cium - cium Niah, Daddy belum mandi dam bau", teriak Dania kesal pada Arsya karena langsung mencium gadis kecil itu sehabis olah raga.


" Daddy wangi sayang, lihat mama dekat - dekat Daddy terus"ucap Arsya menggoda Dania.


" Daddy bau, Niah gak mau deket - deket Daddy, kalau Daddy belum mandi", rajuk Dania yang tak ingin didekati Arsya jika belum mandi.


" baiklah Daddy mandi dulu, tapi kalian jangan sarapan duluan, tunggu Daddy ok", pinta Arsya pada istri dan putrinya.


kedua wanita beda generasi itu hanya menganggukkan kepala tanda menyetujuinya, Arsya segera naik ke kamarnya untuk ritual mandinya. tak berapa lama Arsya sudah turun dengan pakaian santainya dan tentu saja sudah dalam kondisi wangi seperti keinginan putrinya.


cup, Arsya kembali melayangkan ciumannya pada putrinya, dan kali ini Dania tak melakukan protes karena Daddy nya sudah wangi dan tampan.


" ayo kita makan, Daddy sudah sangat lapar", ajak Arsya pada istri dan putrinya.


mereka menikmati sarapan mereka bersama - sama, dan tanpa bersuara sedikit pun.

__ADS_1


" pagi Nona, Tuan", tiba - tiba suara yang sangat familiar terdengar dan menuju tempat mereka.


" pagi Asisten Reno", jawab Sila sambil tersenyum.


" Pagi Om Reno, kok pagi - pagi udah rapi, Om mau kerja?, tanya Dania pada Reno.


Sila mengambilkan piring untuk Asisten Reno, dan menyuruhnya untuk ikut sarapan bersama, sejak Sila dan Arsya menikah, Reno menempati Paviliun yang ada di samping rumah Arsya, karena Arsya tak mengizinkan Reno untuk pindah ke apartemen miliknya dengan alasan tak ingin kesulitan jika ada hal yang ingin mereka kerjakan, lagi pula Mansion Arsya akan sangat sepi jika hanya mereka bertiga yang menempati, sedangkan para Art memiliki kamar yang terletak di belakang.


" apa aku menyuruhmu kemari pagi - pagi", ucap Arsya yang selalu suka bicara seenaknya pada Asistennya, namun Reno tak pernah mengambil hati ucapan bosnya karena pada dasarnya sang bos itu sayang padanya.


" aku hanya mengikuti kemauan perutku Tuan, dia tahu jika sudah ada sarapan di Mansion ini", jawab Reno pada sang Bos.


Sila menatap tajam suaminya, jika bicara selalu saja seenaknya, dan tidak memikirkan perasaan orang lain.


" Silahkan Asisten Reno", Sila mempersilahkan Reno untuk ikut sarapan.


" terima kasih Nona,... anda sangat baik tidak seperti orang disebelah anda" ledek Asisten Reno pada Arsya. tentu saja Arsya yang mendengar hal itu langsung memberikan tatapan tajam pada Asistennya.


" kau menyindirku, kau harus berterima kasih padaku, karena membiarkan ikut sarapan bersama kami", ucap Arsya kesal.


namun Reno tak menanggapi ucapan bosnya, karena sebenarnya Reno datang untuk maksud dan tujuan lainnya.


" Nona, boleh kah saya meminta bantuan anda", tanya Asisten Reno pada Sila.


Arsya dan Sila secara bersamaan menatap Asisten Reno, karena tak pernah sekali pun Asistennya meminta bantuannya, justru Arsya yang selalu meminta bantuannya.


" apa yang kau inginkan, katakan saja", ucap Arsya yang takut Asistennya itu ada dalam masalah.


" dengarkan saya dulu Tuan, saya belum meminta apa pun pada Nona", jawab Asisten Reno yang tak ingin sang Bos memutus pembicaraannya dengan Sila.


Arsya dan Sila hanya diam, karena menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Asistennya. namun yang ditunggu justru tak kunjung menyampaikan permintaannya.

__ADS_1


__ADS_2