
Sila kembali menuju kamarnya. Hari ini ia akan pergi bersama sahabatnya untuk mengusir kegalauan hatinya. Sikap Arsya yang dingin dan terkesan menghindarinya membuat moodnya benar benar buruk. Dan terbersit dalam pikirannya jika Arsya sudah tidak mencintainya lagi.
Sila memakai gaun selutut berwarna ungu warna kesukaannya. Setelah dikira rapi dan pas Sila segera turun dan berangkat. Sila membuat janji bertemu dengan Vania di Restonya dengan diantar oleh supirnya.
Sampai di Resto mobil Vania sudah terparkir di sana. Sila segera masuk menuju ruangannya setelah menyuruh supirnya untuk pulang terlebih dahulu.
" kamu yang ngajak ketemu. Kamu juga yang telat datang". Sindir Vania saat Sila memasuki ruangannya.
" maaf Van. Aku kan ibu rumah tangga harus menyelesaikan tugasku dulu". Jawabnya asal agar sahabatnya tidak marah padanya.
" lagak mu Sil, emang suaminya sudah bangkrut dan memecat semua Asisten rumah tangganya sampai kamu harus turun tangan sendiri". Ledek Vania
" eh gimana kabar suamimu apa sudah baikan?. Tanya Vania pada sahabatnya. Jika dilihat dari raut wajah Sila mereka masih dalam fase masih saling diam dan menghindar.
Sila hanya menghela napas kasar mendapat pertanyaan dari sahabatnya. Sila masih kesal dengan sikap dingin Arsya padanya. Dan untuk saat ini Sila tak ingin membahasnya. Sila hanya mengangkat dua bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan sahabatnya.
" daripada kamu bete dan bad mood mending kita ke mall kita nonton, makan, shopping terserah deh yang penting kamu happy". Ajak Vania pada sahabatnya. Mereka berdua pergi dengan menaiki mobil Vania. Vania sangat menyayangi Sila begitu pun sebaliknya. Ia akan berusaha menghibur dan menjadi orang pertama yang akan mendampingi Sila disaat saat tersulitnya. Mereka sama sama anak tunggal yang tidak memiliki siapa siapa. Bagi Vania dan Sila mereka bukan hanya sahabat tapi juga sebagai saudara yang akan saling membantu dan menyayangi satu sama lain.
Setelah sampai di mall mereka benar benar pergi ke bioskop untuk menonton film sekaligus mengulang masa masa kuliah mereka dulu. Mereka sering menghabiskan weekend dengan menonton film bersama untuk merefreskan pikiran mereka. Setelah selesai dengan nobar mereka melanjutkan acara shopping bersama. Setelah lelah nonton dan shopping akhirnya mereka merasa lelah dan lapar.
__ADS_1
" Van kita makan dulu yuk, aku lapar dan lelah". Ajak Sila pada sahabatnya. Mereka menuju restorant untuk beristirahat dan mengisi amunisi di sana.
" Sila kamu belum belanja bulanan banyak banget yang kamu beli". Tanya Vania disela sela makan siangnya setelah memperhatikan banyaknya belanjaan Sila.
" udah kok Van. Ini untuk dirumah lama". Jawab Sila sambil mengunyah makanannya.
" maksudmu Sil?. Kamu mau pulang kerumah lama mu. Kamu mau pergi dari rumah Arsya. Kamu jangan gegabah Sil. Jangan menghindari masalah tapi selesaikan". Cerocos Vania menasehati sahabatnya.
" habisnya aku sebel Van. Dia yang menghindariku dan menganggapku seolah olah ga ada jadi ya aku turuti aja keinginannya. Jawab Sila santai sambil menikmati masakan padang kesukaannya.
" dengan aku tidak ada dirumah dia tidak perlu bersusah susah untuk menghindariku dan bebas melakukan apa saja". Lanjutnya.
" aku ingin menikmati kesendirianku malam ini Van. Dan aku tidak akan mengubah keputusanku". Jawab Sila singkat.
" terserah kau saja. Paling tidak berikan kabar pada Arsya dulu jika kamu menginap dirumahmu. Lalu bagaimana dengan Dania?. Vania sudah menyerah untuk membujuk Sila dan tak dapat berbuat apa apa.
" Dania pulang sekolah langsung aku suruh antar kesana Van. dan aku sudah mengabari bibi jika malam ini kami akan menginap di sana". jelas Sila pada sahabatnya.
Sila dan Vania kembali fokus untuk menyantap makan siang mereka. Vania benar benar bingung dengan cerita cinta sahabatnya. Mereka saling mencintai tetapi tidak bisa saling memahami. Sila yang terbiasa dihujani kasih sayang, perhatian oleh Arsya tentu saja syok jika tiba tiba sejarang Arsya menghindarinya meskipun dengan alasan untuk pengobatannya.
__ADS_1
" kisah cinta kalian benar benar seperti anak Abg padahal usia kalian sudah sangat sangat matang". Batin Vania sambil mengelengkan kepalanya.
" habis ini kamu mau langsung pulang atau kemana Sil". Tanya Vania setelah mrnghabiskan makan siangnnya.
" aku mau langsung pulang saja Van. Lagian ini udah mau sore takuk Dania sudah sampai terlebih dahulu". Sila mulai merapikan belanjaanya yang sedikit berserakan. Sila membeli berbagai macam cemilan untuk dirinya dan putrinya. Berbagaimacam sayuran segar dan seafood untuk persiapan makan malam mereka.
" aku antar ya. Sekalian aku mau ketemu Dania". Vania menawarkan diri untuk mengantar sahabatnya.
Sila hanya mengangguk menerima tawaran dari sahabatnya. Mereka pun segera pergi menuju mobil Vania. Selama di perjalanan Sila hanya diam. Sebenarnya dia sedikit ragu dengan keputusannya kembali kerumahnya. Namun ia merasa diabaikan dan tidak dihargai sebagai seorang istri dengan sikap suaminya.
Sila melihat sahabatnya yang tampak diam dsn melamun. Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi jika Arsya dan Sila saling berkomunikasi.
" kenapa cinta kalian ini sangat ribet dan berliku liku seperti ular tangga". Batin Vania menatap sahabatnya.
" Sil aku gak jadi mampir ya. Aku lupa kalau ada janji dengan teman sosialitaku. Gak papa kan ". Tanya Vania pada sahabatnya saat mereka sudah sampai di rumah Sila.
" Ya Van. Gak papa. Makasih ya atas hari ini. Kamu hati hati dijalan ya". Sambil memeluk sahabatnya dan turun membawa berbagai belanjaannya.
Vania kembali melajukan mobilnya setelah melihat sahabatnya masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya Vania tidak memiliki janji dengan teman sosialitanya namun dia memiliki misi untuk membantu sahabatnya menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
__ADS_1