
Aldi masuk ke dalam Restoran untuk menikmati makan malamnya, dan untuk bertemu dengan orang kepercayaannya yang kini sedang menyelidiki kasus kecurangan proyek yang di batalkan oleh Arsya.
" selamat malam bos", sapa seseorang dan langsung duduk di depan Aldi dan meletakkan map coklat di atas meja.
" kerjamu cepat juga, Vin " ucap Aldi pada Vino yang tak lain adalah sepupunya yang bekerja sebagai detektif swasta.
" apa kau sudah tahu siapa ba*****an itu", tanya Aldi.
" buka saja map itu, kamu akan tahu siapa yang berkhianat padamu", jawab Vino pada Aldi.
Aldi meraih map diatas meja dan membukanya, wajahnya memerah menahan amarah dan emosinya.
" apa hubungan laki - laki ini dengan Sonia?, tanya Aldi pada Vino yang sedang menyesap kopi yang baru saja ia pesan.
" manager proyek itu adalah teman Sonia, mereka sudah saling mengenal sejak Sonia menjadi sekretaris mu, karena kau mengurangi jatah uangnya, Sonia berusaha mencari uang tambahan dengan bekerja sama dengan manager proyek itu, yang hasil kecurangan mereka di bagi dua, karena Sonia kini menjadi wanita Sosialita yang tentunya gaya hidupnya yang glamor dan mewah membuat Sonia terpaksa melakukan itu demi gaya hidupnya", jelas Vino pada Aldi.
" kau lihatlah foto - foto Sonia, kamu pasti tidak tahu apa yang dilakukan Sonia di luar sana, kau akan sadar dan tahu jika kau melihat foto - foto itu" lanjut Vino .
Aldi kembali membuka lembar demi lembar foto - foto Sonia yang sedang berada di club malam, di restoran mewah bersama teman sosialitanya, dan membeli barang Barang branded bersama teman - temannya, membuat Aldi memijit pelipisnya, selama ini Aldi menutup mata dan telinga tentang Sonia, karena rasa penyesalannya meninggalkan Sila wanita yang benar - benar mencintainya tidak seperti Sonia yang hanya menginginkan uangnya.
Vino hanya menggelengkan kepala melihat raut wajah sepupunya, ada rasa kasihan melihat nasib Aldi, tapi semua sudah terjadi dan itu adalah pilihannya.
" semua bukti tentang kecurangan mereka juga ada di map itu, selanjutnya terserah padamu", ucap Vino dan akan beranjak meninggalkan Aldi yang masih membisu di tempatnya.
" tunggu", cegah Aldi pada Vino
" aku butuh bantuan mu lagi, carikan informasi tentang Sila di rawat di rumah sakit mana, dia sedang sakit sekarang", lanjut Aldi dengan nada sedih.
" baiklah, akan aku informasikan segera" jawab Vino dan berlalu meninggalkan sepupunya.
Aldi kembali termenung mengingat masa lalunya, yang dengan tega mengusir istri dan kedua anaknya hanya karena tergoda dengan sekretarisnya.
***
__ADS_1
Arsya bangun lebih pagi di lihatnya Sila masih terlelap dalam tidurnya. ia memandang wanita disampingnya dengan perasaan campur aduk, rasa bahagia bisa merawat dan menjaganya, ada rasa sedih karena perasaannya yang belum terbalaskan. perlahan Arsya bangkit dari tidur agar tidak membangunkan wanitanya, lalu pergi membersihkan diri.
Arsya pergi keluar untuk menemui Reno dan mengambil pesanannya. mereka bertemu di Lobi rumah sakit.
" ini Tuan, pesanan anda", ucap Reno dan memberikan dua paper bag yang berisi pakaian untuknya dan juga pakaian untuk Sila serta menu sarapan untuk mereka berdua.
" kau asisten yang tak tahu tata krama, tanganku tak bisa membawa ini semua, antarkan ke kamar", titah Arsya dan membawa satu paper bag, sedangkan Reno lah yang membawa semua barang yang dimintanya.
mereka berjalan beriringan menuju Lift khusus pemilik rumah sakit, sedangkan Reno mengikutinya dari belakang.
" untuk apa dia turun ke lobi, kalau akhirnya aku juga yang harus membawa dan mengantarkan barang - barang ini", gerutu Reno dalam hati.
Arsya membuka pintu kamar Sila dan menyuruh Reno untuk meletakkan barang - barang di atas meja.
" pelan kan suaramu, jangan membangunkan wanitaku", ucap Arsya dengan tatapan tajam.
" maaf Tuan, saya tidak sengaja", jawab Reno yang tidak sengaja menjatuhkan tempat tisu.
Arsya segera mengusir Asistennya setelah pekerjaannya selesai dan menyuruh Reno untuk mengurus pekerjaannya kemungkinan ia tidak akan ke kantor hari ini.
" Dia tidur atau mati sih, dariu tadi tidak bergerak sama sekali", batin Arsya yang berulang kali melihat ke arah Sila.
Arsya memainkan handphonenya untuk mengurangi kebosanannya. jam tujuh Sila baru bergerak dan membuka matanya melihat sekelilingnya. dilihatnya laki - laki tampan dengan pandangan yang sulit diartikan sedang menatapnya dengan rambut yang basah tersisir rapi serta baju yang sudah berubah.
" maaf Tuan, saya bangun kesiangan", ucap Sila malu.
Arsya tak bergeming mendengar ucapan Sila.
" sudah jam tujuh Tuan, apa anda tidak ke kantor", tanya Sila pada Arsya.
" kau lupa aku adalah bosnya, jadi terserah aku mau ke kantor atau tidak", jawab Arsya sombong.
" sombong sekali dia, aku juga tahu bahwa dia bosnya tapi tidak gitu juga kali", batin Sila sebal.
__ADS_1
j
"ayo bangun dan bersihkan dirimu, sudah berapa hari kau tidak mandi", cicit Arsya sambil menyibak selimut Sila dan membimbing Sila untuk bangun dari ranjangnya.
Sila segera turun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya di bantu oleh seorang suster yang berjaga saay itu.
Arsya memberikan paper bag yang berisi pakaian dan dalaman Sila pada suster, agar Sila bisa berganti pakaian.
Sila keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan rambut yang basah, membuat Arsya tak bisa berpaling menatapnya. wajah putih bersih alami dan bibir mungil menawan yang ingin selalu di kecapnya.
Suster memohon izin karena tugasnya sudah selesai, Arsya memberikan lima lembar uang berwarna merah sebagai tips nya karena membantu Sila.
" apa orang kaya selalu begitu, membuang uangnya secara berlebihan", guman Sila.
Arsya kembali menutup pintunya dan mengambil sarapan untuk mereka berdua.
" buka mulutmu", titah Arsya tegas.
" saya bisa makan sendiri Tuan", jelas Sila karena malu harus disuapi oleh Arsya.
" aku tak ingin di bantah", ucap Arsya singkat.
" semalam dia lembut dan baik, kenapa pagi ini dia menjadi dingin dan menyebalkan sih", gerutu Sila dalam hati.
Sila menuruti apapun perintah Arsya, karena tak ingin membuat Arsya semakin tidak mood pagi ini, Arsya dengan sigap menyuapi Sila dan bergantian menyuapi dirinya sendiri
" Tuan, apa anda tidak jijik memakan bekas saya?, tanya Sila merasa tidak enak pada Arsya.
" kenapa aku harus jijik, aku memakan makanan yang bersih dan enak,", jawab Arsya singkat padat dan jelas.
" ish.... jutek banget sih ni orang, apa dia marah karena aku bangun kesiangan, tapi kan semua itu karena dia, yang tidur terus memelukku dan itu membuatku tidak bisa tidur", batin Sila yang geram pada Arsya.
" apa kau sedang menghujat ku dalam hati, jangan terus memandangku seperti itu nanti kau jatuh cinta padaku", sindir Arsya pada Sila yang membuat wanita di depannya segera mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Arsya membereskan bekas sarapan mereka dan meletakkannya di meja, lalu mengambil obat dan memberikannya pada Sila , dengan segera Sila menelan obat yang diberikan padanya.
Arsya masih saja memasang wajah masamnya, ntah mengapa ia merasa Sila tidak ingin di temani olehnya dengan pertanyaannya tadi pagi. padahal dia sudah menyerahkan urusan kantor pada Reno agar bisa seharian berdua bersama Sila, Arsya juga sudah menghubungi Vania agar tak perlu ke rumah sakit untuk hari ini.