
Arsya terbang menuruti kata hatinya yang sedang gundah gulana, jauh dari Sila membuatnya seakan mati suri. tiga hari di rasa seakan tiga bulan menanti sang pujaan hati untuk kembali, dan Arsya tak ingin lebih lama menahan segala rindu di dada.
sore hari ia mendarat di Kuala Lumpur International Airport, di sambut oleh orang suruhannya dan langsung menuju hotel dimana Sila dan kedua anaknya menginap.
sampai di hotel, Arsya segera menuju kamarnya dan beristirahat. malam ini ia akan menyamar untuk mengikuti kegiatan Sila dan sahabatnya, agar Sila tak terkejut melihat dirinya juga berada disini.
saat memasuki makan malam, orang suruhan Arsya mengabarkan jika Sila dan kedua anaknya sedang menikmati makan malam di restoran hotel. Arsya segera menyusul ke restoran tersebut, dengan menggunakan Hoodie dan topi agar Sila dan kedua anaknya tidak mengenalinya.
Arsya melihat Sila, sahabat dan kedua anaknya sedang menikmati makan malam bersama, mereka tampak ceria dan bercanda bersama.
" baru kali ini aku melihatnya tertawa bebas", guman Arsya yang terus memandang mereka dari kejauhan.
Arsya memesan makanan untuk dirinya, dan menikmati makan malamnya sendiri.
" habis ini kita mau kemana Van?, tanya Sila kepada sahabatnya.
" Kalian mau lihat pemandangan indah Petronas Towers gak, di sana kalau malam hari ramai banget, pada malam hari akan terlihat lebih hidup towersnya karena efek lampu yang menyala", jelas Vania yang memang sudah sering pergi keluar negeri apalagi cuma kuala lumpur.
" mau.. mau.. mau.. ma, Dania pengen lihat dan foto ma, buat kenang - kenangan ", ucap Dania dengan antusias.
setelah selesai menikmati makan malamnya, mereka menuju Petronas Towers yang berada di Kuala lumpur City di persimpangan Jalan Ampang dan Raja Chulan.
mereka sangat senang dan asyik menikmati pemandangan lampu yang menyala terang di Menara Kembar Petronas.
"gimana indahkan pemandangannya , di sini juga terdapat Mall dan Taman dengan fasilitas lengkap seperti Jogging Track, Air mancur, dan kolam renang anak - anak, gak cuma itu ada pula Petronas Art Galeri, Petrosains seciance centre, dan kuala lumpur conventional centre. tapi kalau semua mau kita kunjungi malam ini kayaknya gak cukup waktunya, gimana kalau besok kita kesini lagi, kita jalan - jalan, makan, belanja, main sepuasnya", ucap Vania kepada Sila dan kedua anaknya.
mereka setuju dengan usulan Vania, waktu sudah menunjukkan pukul 9, dan mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.
__ADS_1
tak disadari oleh mereka jika sepasang mata terus memperhatikan mereka dari kejauhan, Arsya tak pernah sedikitpun lalai dalam memantau Sila, pandangannya terus tertuju padanya, bahkan semua gerak geriknya terekam jelas di kepala Arsya.
" andai aku yang berada di sana bersama mereka, aku pasti sangat bahagia", batin Arsya pada dirinya sendiri.
Arsya terus mengikuti kemana pun Sila dan kedua anaknya pergi, malam semakin larut namun tak membuat mata Arsya bisa terpejam, ia masih gelisah memikirkan Sila yang hingga saat ini masih belum memberikan kabar padanya.
**
Arsya sudah memutuskan untuk tidak melakukan penyamaran lagi, ia akan membiarkan takdir mempertemukan mereka, meski sebenarnya ia masih menyuruh orang suruhannya untuk memantau keberadaan Sila.
Arsya ingin Sila tidak curiga bahwa dirinya mengikutinya hingga ke negeri Jiran, dengan gaya coolnya, Arsya turun untuk sarapan di restoran hotel tempat ia menginap. ia sengaja duduk tak jauh dari meja Sila agar salah satu dari mereka melihatnya.
" om ganteng,.. ", Dania berusaha meyakinkan pandangannya, agar apa yang dilihat tidak salah, ia terus memperhatikan gerak gerik Arsya, dan berjalan mendekati meja tempat Arsya menikmati sarapannya.
" om ganteng... ", teriak Dania, jika yang dilihatnya benar - benar Arsya, Dania memeluk Arsya, sedangkan Arsya menyambut pelukan gadis kecil itu dengan hangat dan memangkunya diatas pahanya.
" kok om bisa ada disini", tanya Dania pada Arsya.
" aku diajak mama Vania om, mama sama bang Adit juga ikut, itu mereka", jelas Dania sambil menunjuk tempat duduk mereka.
Sila yang melihat putrinya bersama Arsya sangat terkejut dan susah menelan salivanya, tak disangka orang yang ingin dihindarinya justru ia sudah berada di depan matanya.
Dania membawa Arsya ikut sarapan bersama di meja yang sama, Sila hanya bisa melirik dan memperhatikan bosnya, lidahnya kelu tak mampu berucap, ntah alasan apa yang ingin Sila sampaikan karena ia bolos dari kantor tanpa ijin.
" selamat pagi Nyonya Alex", Arsya menyapa Vania dan menjabat tangannya.
" pagi juga Tuan Arsya, sepertinya kalian berjodoh ya, selalu dipertemukan dimana pun berada", sindir Vania yang ditanggapi Arsya hanya dengan senyuman, sedangkan Sila semakin kikuk dan kaku.
Arsya duduk tepat dihadapan Sila, dan sekilas menatap wanitanya, Sila hanya tersenyum ketika Arsya melihatnya dan melanjutkan kembali sarapannya yang kini berubah rasa menjadi hambar.
__ADS_1
" anak - anak apa kalian sudah selesai sarapannya, jika sudah tolong temeni mama ke toko oleh - oleh di sana", Vania berusaha mengajak kedua anak Sila untuk memberikan waktu kepada mereka agar bisa bicara dengan leluasa.
" om ganteng, aku antar mama Vania dulu ya, tolong jagain mama karena mama belum selesai sarapan", pinta Dania yang polos pada Arsya.
Sila memberikan kode pada Vania agar tetap disini, namun justru Vania cuek dan seolah - olah tidak tahu maksud Sila.
" em... Tuan,.. apa kabar", Sila sekedar basa basi menyapa Arsya.
Arsya tak menjawab sapaan Sila, ia terus menikmati sarapannya.
" apakah Tuan Reno bersama anda Tuan?, Sila kembali menyapa Arsya, meski ia sangat kikuk dengan keadaannya saat ini.
" apa kau melihatnya bersamaku!, jawab Arsya ketus.
Sila hanya menggeleng, ia benar - benar merasa bicara dengan seorang tentara yang dingin dan tegas. Sila hanya membeku di tempatnya, ia merasa bingung harus bagaimana menyapa sang Tuan bos yang dingin ini.
" apa kau sudah meminta ijin ke kantor, untuk tidak masuk kerja?, tanya Arsya tanpa melihat ke arah Sila.
Sila yang mendengar pertanyaan Arsya hampir saja tersedak, ia sama sekali belum menyiapkan alasan jika pertanyaan itu ditujukan kepadanya. Sila hanya menggeleng menjawab pertanyaan dari Arsya.
Arsya menghentikan aktifitasnya dan menatap tajam kearah Sila, sedangkan yang di tatap hanya diam menunduk.
" angkat wajah anda Nona Sila", perintah Arsya dengan Sinis.
Sila ragu - ragu mengangkat wajahnya, kini sorot mata mereka saling bertemu, dan saling bergumul dengan pikiran mereka masing - masing.
" apakah dia marah padaku, hingga bicara padaku seformal itu", batin Sila.
" Anda bisa mengajukan cuti jika ingin berlibur, tidak dengan bolos tanpa keterangan seperti ini, perusahaan saya sangat disiplin Nona, jadi saya harap anda mengerti peraturan yang ada, jika selama 3 hari anda bolos tanpa keterangan, maka perusahaan punya hak untuk memecat anda, itu artinya anda harus membayar denda sesuai surat kontrak yang sudah anda tanda tangani!, jelas Arsya dengan tegas dan tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Sila.
__ADS_1
mendengar penjelasan Arsya, Sila seakan meminum air laut yang sangat asin sehingga susah untuk menelannya.
Arsya tertawa dalam hati, melihat raut wajah Sila, ia tak bermaksud mengerjai Sila, namun Arsya ingin memberikan sedikit pelajaran agar ia tak pergi tanpa kabar lagi.