Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 74


__ADS_3

Arsya terbangun ketika sudah larut malam, ia merasakan perutnya yang lapar karena melewatkan makan malamnya karena tertidur. Arsya berjalan ke dapur yang sudah gelap dan sepi oleh para asisten rumah tangganya. Arsya melihat meja makan yang sudah kosong dengan makanan, lalu berpindah ke kulkas, di sana masih banyak terdapat makanan namun ia bingung harus bagaimana memakannya, jika langsung di makan pasti rasanya yang dingin dan tidak enak, jika harus memanaskan tentu saja itu pekerjaan yang tak dapat ia lakukan, sedangkan perutnya menuntut ingin segera di isi.


" apa yang sedang anda lakukan Tuan?, tanya Reno yang tiba - tiba berada dibelakang Arsya sehingga membuat Arsya terkejut.


" apa kau bosan hidup, mengagetkan aku saja!, kesal Arsya pada Reno.


" Tuan gelap - gelap di dapur, apa anda lupa cara menghidupkan lampu dapur ?, sindir Reno pada Arsya.


" kau.... bicara sekali lagi ku hilangkan bonus untukmu", jawab Arsya dengan dongkol.


kriuk.... kriuk... suara bunyi cacing diperut Arsya , membuat Reno tertawa. ternyata bosnya itu sedang kelaparan.


" apa anda menginginkan sesuatu Tuan?, tanya Reno dengan tersenyum.


" bisakah kau memanaskan makanan yang ada di kulkas itu untukku, aku sudah tidak bisa lagi menahan lapar", titah Arsya pada asistennya.


" aku sangat mengantuk dan lelah Tuan, kenapa anda tak membangunkan mereka saja, ini tugas mereka untuk melayani anda", ucap Reno menunjuk pada para Art yang sedang berada di kamar mereka.


" mereka pasti sedang terlelap Ren, aku tak tega membangunkan mereka, kau saja yang sudah bangun, cepatlah aku sudah sangat lapar", ucap Arsya.


terpaksa Reno menuruti perintah Arsya meski dengan hati yang kesal, seharusnya ia tidak turun untuk mengambil air minum jika harus mendapat tugas tambahan tengah malam seperti malam ini.


" ubah wajah mu supaya enak di lihat, aku tidak menyuruhmu secara cuma - cuma, besok akan aku kirimkan bonus untuk pekerjaanmu malam ini" ungkap Arsya, agar asistennya merasa senang dan tidak jutek padanya.


mendengar kata bonus membuat Reno berbinar dan secara otomatis merubah wajahnya menjadi tersenyum manis yang semula cemberut.


" giliran bonus saja, kau tersenyum, dasar asisten matre", ledek Arsya pada Reno yang dibalas dengan nyengir kuda oleh Reno.


" ini Tuan, sudah siap dan silahkan dinikmati, tapi saya akan kembali ke kamar lagi, karena saya sangat mengantuk ", ucap Reno setelah menyiapkan beberapa menu di atas meja makan dan langsung meninggalkan Arsya sendiri di meja makan.

__ADS_1


Arsya yang sudah sangat kelaparan langsung mengambil nasi berserta pendampingnya lalu melahapnya, tanpa menghiraukan ucapan asistennya.


Reno hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya, dan segera menuju kamarnya.


***


Sila nampak begitu tak bersemangat, rasanya ia ingin libur kerja hari ini, lagi pula di kantor pun tidak bisa bertemu dengan Arsya. Sila menyiapkan segala kebutuhan sekolah kedua buah hatinya, lalu mengantarkan mereka berdua masuk ke dalam mobil jemputan yang disediakan oleh Arsya.


sudah pukul tujuh, seharusnya Sila sudah berangkat menuju kantornya, namun justru Sila baru memulai sarapannya meski ia nampak tak berselera, namun tuntutan perutnya yang minta diisi memaksa Sila untuk sarapan pagi ini.


pukul delapan pagi Sila masih menikmati waktu santainya dalam kegalauan hatinya.


drettt..... dreeettt... dreetttt.... handphone Sila bergetar, Sila mengambil handphone yang berada di sampingnya dan melihat siapa yang sedang menghubunginya.


" Asisten Reno", batinnya lalu menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


" ha.. hallo Asisten Reno, em... sebenarnya saya ingin berangkat bekerja namun pagi ini, perutku mules - mules jadi mungkin satu jam lagi baru saya sampai kantor", bohong Sila pada Reno, karena yang sesungguhnya ia hanya malas untuk pergi kekantor karena tidak ada Arsya di sana.


" baiklah Nona, saya tunggu kabar anda selanjutnya, jika terjadi sesuatu segera hubungi saya " ucap Reno lalu mengakhiri panggilannya.


***


sedangkan di kantor Arsya sedari tadi menunggu kedatangan Sila, namun yang ditunggu tak kunjung datang, sehingga ia menyuruh Reno untuk menghubungi Sila.


" sepertinya Nona Sila sedang tidak enak badan Tuan, Nona bilang perutnya mules - mules ", jelas Reno pada Arsya.


mendengar penjelasan asistennya, Arsya segera menghentikan aktifitasnya dan menatap tajam asistennya.


" apa kau bilang, Sila sakit!, cepat telpon Joe untuk menyusul ku ke rumah Sila, segera jangan lama - lama ", perintah Arsya pada Asistennya lalu menyambar kunci mobil miliknya dan pergi meninggalkan kantor.

__ADS_1


" Nona Sila, kenapa anda harus sakit lagi, pekerjaan saya begitu banyak Nona, kenapa harus anda tambah lagi ", umpat Reno kesal sendiri.


Reno segera menghubungi Dokter Joe, yang tak lain adalah teman Arsya sewaktu mereka menempuh pendidikan di perancis yang kini bekerja sebagai dokter keluarga Mahesa, mewarisi pekerjaan sang Ayah yang dulu juga bekerja sebagai Dokter keluarga Mahesa pada masa Oma Cintya.


Arsya tak menghiraukan ramainya jalan raya, ia terus menambah kecepatannya agar bisa lebih cepat sampai di rumah Sila, ia ingin segera memastikan keadaan Sila.


sampai di rumah Sila, Arsya menghentikan mobilnya dan langsung keluar menuju rumah Sila, Arsya langsung menuju kamar Sila setelah mengetahui dari bik Nani jika Sila berada di kamarnya.


Arsya langsung masuk ke kamar Sila, karena sudah mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.


" dimana Dia, kenapa sepi sekali ", batin Arsya yang menyisir seisi kamar kekasihnya.


" kenapa di kamar mandi lama sekali, apa perutnya sangat mules sehingga begitu lama", guman Arsya yang berjalan mondar - mandir di depan pintu kamar mandi.


tak lama bunyi pintu kamar mandi, membuat Arsya menghentikan langkahnya, dan berdiri menatap Wanita yang sudah sejak kemaren tidak dapat di temui nya.


" Tu... Tuan... Arsya", Sila di buat kaget karena tiba - tiba ada Arsya di kamarnya, Sila mengucek kedua matanya, takut jika itu hanya halusinasinya saja. namun setelah ia membuka mata Arsya masih berada di depannya.


" apa perutmu sangat sakit, aku sangat mengkhawatirkan dirimu", ucap Arsya lalu memegang kedua bahu Sila lalu menintinnya menuju ranjangnya.


" apa kau sudah minum obat?, tanya Arsya lagi.


Sila hanya menggeleng, karena masih bingung dengan keberadaan Arsya di kamarnya.


" baringkan tubuh disini, semua akan baik - baik saja, aku akan menjagamu disini ", jelas Arsya dan mulai membaringkan tubuh Sila lalu menyelimutinya.


" Sayang.... aku.. ", Sila ingin menjelaskan jika dirinya baik - baik saja, namun Arsya justru menempelkan telunjuknya di bibirnya, mengisyaratkan untuk diam dan tak banyak bicara.


Sila merasa kesal karena tak bisa menjelaskan keadaan dirinya yang sesungguhnya. ia hanya bisa menuruti ucapan Arsya karena ia tak akan bisa menang jika Arsya sudah begini.

__ADS_1


__ADS_2