
hari sudah menunjukkan siang hari, Vania masih setia menemani sahabatnya di rumah sakit tempat Sila menjalani perawatan. kedua anak Sila juga masih setia menemani mama mereka. Vania memesankan makan siang untuk mereka berempat, karena Sila tidak ingin memakan makanan yang diberikan oleh rumah sakit. mereka menikmati makan siang mereka dengan nikmat, hanya Sila yang merasa kurang menikmati makanannya karena rasa pahit di lidahnya dan tidak leluasanya dalam menikmati makanannya hanya dengan satu tangan.
" apa aku perlu menyuapi mu?, tanya Vania pada Sila yang nampak kesusahan menggunakan tangan kirinya untuk makan, karena tangan Kanannya yang sedang di infus.
" tidak Van, aku sudah selesai, lidahku terasa pahit sekali jadi aku tidak berselera untuk menghabiskan makanan ini", ucap Sila pada sahabatnya.
" kau harus memaksakan dirimu, jika kau ingin cepat sembuh dan pulang", jawab Vania.
Vania membereskan bekas makanan Sila dan meletakkannya di meja, lalu memerintahkan kedua anak Sila untuk beristirahat siang agar mereka juga tidak sakit nantinya.
" apa yang membuatmu drop seperti ini?, tanya Vania pada sahabatnya dan duduk di samping ranjang Sila.
Sila menghela napasnya dan membuangnya dengan kasar. hanya pada Vania tempat Sila bisa berkeluh kesah dan mengungkapkan segara rasa yang menjadi beban pikirannya.
" mas Aldi menemui ku, dia mengajakku balikan tapi aku menolaknya karena dia masih berstatus suami orang, kamu tahukan gimana sikap Sonia kepadaku, aku tidak ingin Sonia terus memusuhiku karena sikap mas Aldi yang diam - diam menemui ku, itu sebabnya aku menolak permintaannya, tapi justru hal itu membuat mas Aldi marah padaku, dan dia mengancam ku akan merebut hak asuh Dania dan Adit dari tanganku, aku tidak bisa membayangkan jika aku jauh dari mereka, aku sangat takut dan kuatir akan hal itu, sehingga membuatku tertekan dan depresi Van, aku tidak bisa berpisah dengan kedua anakku, kamu tahu bagaimana perjuanganku merawat mereka, kamu tahu sakitnya aku saat aku tahu anak - anakku terluka karena sikap papanya pada mereka, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka saat bertemu mas Aldi apalagi sampai mereka tinggal bersama", ungkap Sila dengan air mata yang membanjiri pipinya, Sila menangis sesegukan mengungkapkan isi hatinya pada sahabatnya.
Vania yang mendengar penjelasan Sila merasa iba pada sahabatnya, tak pernah ia melihat Sila serapuh ini, selama ini sahabatnya selalu tegar menghadapi masalah hidupnya tidak seperti saat ini.
__ADS_1
" aku bisa mengerti kekuatiran mu Sil, tapi kamu juga harus memikirkan kesehatanmu , ada mereka yang membutuhkanmu dirimu, jangan memforsir pikiranmu dengan ketakutan mu secara berlebihan dan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. semua pasti ada jalan keluarnya Sil, jika Aldi benar - benar melakukan hal itu padamu, aku dan mas Alex akan membantumu, aku rasa Arsya juga tidak akan tinggal diam", jelas Vania agar sahabatnya bisa kembali berpikir dengan hati dan pikiran yang tenang.
Sila menatap bila mata sahabatnya, rasa haru dan bahagia merasuk dalam hatinya, meski mereka bukan saudara kandung tapi Vania membuktikan bahwa persahabatan mereka melebihi kasih sayang saudara sedarah. Sila memeluk Vania, ntah sampai kapan ia akan terus merepotkan sahabatnya itu.
" makasih Van, kamu selalu ada buat aku, jika tidak ada kamu ntah apa yang akan terjadi padaku, kamu benar - benar sahabat dan saudara terbaikku, makasih... makasih... hanya itu yang bisa aku ucapkan untukmu atas semua yang kamu udah kasih ke aku", jelas Sila dengan menggenggam tangan Vania dan menciumnya.
" sudahlah tak perlu berlebihan seperti ini Sil, kau dan aku adalah saudara, meski kita tak punya darah yang sama, tapi aku menyayangimu seperti adikku sendiri, aku hanya bisa melakukan sesuatu yang menurutku perlu dan bisa ku lakukan untukmu, sedangkan kau yang harus berperan lebih keras dalam setiap masalah yang datang padamu, kuatkan dirimu dan jangan mudah rapuh karena kau masih punya tanggung jawab untuk dua anakmu, hadapi apapun itu jangan lemah apalagi sampai menyerah, aku yakin kau wanita kuat dan hebat, demi mereka berdua", nasehat Vania pada sahabatnya dengan menepuk pundak Sila untuk menumbuhkan semangat diri sahabatnya.
Sila menatap wajah sahabatnya dan tersenyum padanya. mendengar nasehat Vania seakan membakar kembali semangat hidupnya yang hampir saja hilang dari dirinya. benar apa yang di katakan Vania, apapun masalah yang datang dia harus kuat untuk menghadapinya karena masih ada Dania dan Adit yang membutuhkan dirinya.
Vania memberikan obat pada Sila, agar segera meminumnya. Sila menerimanya dengan senyum dan langsung meminumnya, demi kedua buah hatinya ia harus segera pulih dan tetap semangat dalam menjalani hidupnya.
Sila menatap kedua buah hatinya yang sedang tertidur di ranjang. rasa bersalah, kuatir, sedih, bahagia bercampur aduk menjadi satu yang membuat dadanya terasa sesak.
****
" Tuan, ada Tuan Aldi Anggara yang ingin bertemu dengan Tuan Arsya", ucap resepsionis pada Reno.
__ADS_1
" suruh langsung keruang CEO, Tuan Arsya menunggunya", jawab Reno yang berada di ruang CEO bersama Arsya.
" Tuan Aldi menuju ke sini, Tuan", ucap Reno pada Arsya.
" siapkan berkas yang kemaren", perintah Arsya pada Reno Asistennya.
" selamat datang di kantor saya, Tuan Aldi. ternyata seorang CEO seperti anda tidak memiliki sopan santun, masuk ruang CEO dengan tanpa permisi terlebih dahulu", Sindir Arsya pada Aldi yang memasuki ruangan Arsya tanpa mengetuk pintu dahulu.
" tidak usah berbasa basi Tuan, apa maksud anda membatalkan kontrak kerja sama ini secara sepihak", ucap Aldi marah dan melemparkan dokumen ke atas meja Arsya.
" jadi anda sudah menerima dokumen pembatalan kerja sama kita, saya hanya tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan yang melakukan kecurangan terhadap perusahaan saya, dan saya punya hak untuk melanjutkan atau membatalkan kerjasama ini", jelas Arsya dengan nada tenang dan tetap duduk di kursi kebesarannya.
" apa maksud anda?, jangan karena Sila anda membatalkan kontrak ini, anda sungguh pengecut Tuan, seorang CEO perusahaan besar membatalkan kontrak hanya karena seorang wanita", ejek Aldi pada Arsya.
Arsya tidak menanggapi apa yang di ucapkan Aldi padanya, menghadapi Aldi harus dengan tenang dan bukti agar dia mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.
" ini Tuan, dokumen yang anda minta" Reno menyerahkan dokumen tentang penggelapan dana dan pemakaian bahan dibawah standar dari yang mereka sepakati.
__ADS_1
Arsya melemparkan dokumen itu kepada Aldi, agar dia mengerti mengapa Arsya membatalkan kerja samanya, meski dari awal Arsya ingin membatalkan kontrak itu karena tidak ingin berurusan dengan laki - laki tak bertanggung jawab seperti Aldi, namun setelah mendapatkan bukti kecurangan oleh orang - orangnya Aldi membuat Arsya ingin segera mengakhiri kerja samanya.