
Sila kembali menikmati dan menjalani hidupnya dengan semangat, memiliki Arsya disampingnya banyak membawa perubahan positif pada dirinya, meski sejuta ketakutan dalam dirinya memikirkan Dania tapi dukungan dan semangat yang diberikan oleh suaminya mampu membuatnya lebih dewasa dalam menghadapi masalah hidupnya.
Sila kembali bekerja seperti biasa sebagai sekretaris suaminya sendiri, mereka berangkat dan pulang bersama.
seperti pagi ini mereka bersiap - siap untuk pergi kekantor bersama, mereka duduk di belakang sedangkan Asisten Reno sebagai pengemudinya.
" sayang tolong hentikan tanganmu, malu jika Asisten Reno melihat kita", ucap Sila pada suaminya, agar menghentikan kegiatannya tangannya yang sedang bergerilya.
Arsya tak memperdulikan ucapan istrinya, ia bahkan tak membiarkan Sila duduk dengan tenang, bahkan sering mencuri kesempatan untuk mencium pipi istrinya.
" sayang, please ! hentikan, nanti make up ku luntur karena ulah mu", geram Sila pada suaminya yang menciumi pipinya dan juga memainkan rambutnya.
Asisten Reno yang mendengar suara ribut dibelakang mencoba melihat apa yang terjadi lewat kaca spionnya.
" dasar, Abg tua, tidak bisa melihat tempat yang sepi sedikit, sudah mulai gerilya, apa kau tak kasihan padaku Tuan!, umpat Reno pada Bosnya.
" kondisikan matamu, apa kau ingin matamu ka
tarak karena mengintip kami", ucap Arsya menegur Asistennya.
Sila hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya, ternyata jika sudah bucin sifat kekanak - kanakan suaminya lebih mendominasi.
Arsya kembali menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya berkali - kali, dan tak terasa mobil sudah berhenti di depan loby kantor Mhs Group.
Arsya turun diikuti oleh Sila dan Asisten Reno, Arsya berjalan sambil menggandeng tangan istrinya, meski Sila berusaha untuk menolaknya namun Arsya tak perduli. Sila takut akan banyak beredar kabar miring tentangnya, mengingat suaminya adalah idola para karyawan wanita dan tak banyak yang mengetahui tentang pernikahan mereka.
" sayang, aku bisa jalan sendiri, aku tak ingin mereka membicarakan kita", ucap Sila pada suaminya.
Arsya tak perduli dengan ucapan Sila, dan terus melangkah menuju lift khusus miliknya dengan wajah dinginnya, Sila hanya diam mengikuti keinginan suaminya tanpa bisa menolaknya.
sampai di ruangannya, Sila langsung menuju meja kerjanya dan menyiapkan segala pekerjaannya, dan melihat jadwal bosnya untuk hari ini.
" Anya, apa kau lupa membuatkan teh untukku?, tanya Arsya pada sekretarisnya.
__ADS_1
Sila hanya tersenyum mendengar pertanyaan suaminya, lalu segera beranjak ke pantry untuk membuatkan pesanan suaminya. sejak adanya Sila bekerja sebagai sekretarisnya, Arsya memang tidak ingin teh buatan siapapun kecuali buatan Sila.
" ini sayang, minumlah mumpung masih hangat", ucap Sila meletakkan teh dimeja suaminya.
" terima kasih Anya, tunggu jangan pergi dulu", ucap Arsya dan menghentikan pekerjaannya lalu meminum teh buatan istrinya.
rasa yang selalu pas di lidahnya, itu lah yang dirasakan Arsya, bahkan belum pernah ia merasakan minum teh yang pas dan nikmat seperti buatan istrinya.
" kemarilah, berikan aku ciuman agar bisa semangat untuk menyelesaikan pekerjaanku", ucap Arsya sambil mengedipkan matanya menggoda istrinya.
" ish... kau selalu mengerjai ku" jawab Sila lalu mencium pipi kanan dan kiri suaminya lalu sekilas mengecup bibirnya.
Sila kembali kemeja kerjanya, melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Arsya kembali berkutat dengan berkas yang menunggu tanda tangannya.
waktu terus berjalan dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan untuk makan siang, Sila menggeliat melemaskan otot - ototnya yang kaku, lalu melihat suaminya yang masih sibuk dengan berkas - berkasnya di meja.
Sila berinisiatif untuk memesan makan siang untuk dirinya, Arsya dan Reno. ia memesan dari Resto miliknya.
setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya pesanannya sampai juga, Sila segera mengambil dan menyiapkannya lalu membawanya ke meja.
Arsya menghentikan pekerjaannya lalu ikut bergabung dan duduk di samping istrinya.
" sayang, suruh Asisten Reno untuk makan bersama kita", pinta Sila pada suaminya.
Arsya agak malas menuruti permintaan istrinya, jiwa posesifnya mulai memberontak jika Sila sedikit perhatian pada Asistennya.
" biarkan dia makan sendiri, kita nikmati saja makan siang kita berdua", ucap Arsya dengan nada datar.
Sila mulai jengah dengan sikap suaminya, yang tidak ingin di ganggu oleh Asistennya sendiri, Sila mengambil handphonenya dan menghubungi Asisten Reno untuk makan bersama.
Asisten Reno masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, dan langsung mendudukkan bokongnya di kursi.
" mari makan, ini untuk anda Asisten Reno dan ini untuk suamiku", ucap Sila menyodorkan piring pada Asisten Reno dan memberikan piring berisi makanan pada Arsya.
__ADS_1
Arsya menikmati makan siangnya dengan wajah datarnya, sedangkan Asisten Reno makan dengan lahapnya karena memang perutnya yang sedang lapar.
" pelan kan makan mu, apa gaji dariku tidak cukup untuk membeli makanan, seperti orang tidak makan seminggu saja" ucap Arsya menyindir Asisten Reno yang makan dengan lahap dan hikmatnya, karena sejak pagi perutnya belum terisi oleh apapun.
Asisten Reno hanya nyengir kuda mendengar ucapan bosnya, dan melanjutkan aktifitasnya tanpa mau ambil pusing hingga ia lebih dahulu menyelesaikan makannya.
" terima kasih Nona, sudah mengajak saya makan siang bersama", ucap Asisten Reno ketika sudah menyelesaikan makannya.
" sama - sama Asisten Reno, aku tahu pasti anda belum makan, jadi sekalian saja saya pesankan untuk anda", jawab Sila sambil membereskan bekas makan mereka.
" apa kau sudah kenyang, jika sudah kembalilah keruangan mu, aku ingin beristirahat dan berduaan dengan istriku", ucap Arsya jutek pada Asistennya.
Sila menepuk bahu suaminya, karena ucapannya yang membuatnya malu dihadapan Asisten Reno.
" bisa - bisanya dia berkata seperti itu, membuat malu saja", batin Sila mengumpat suaminya.
" baiklah Tuan, saya akan kembali keruangan saya, berada di ruangan ini lebih lama membuat jiwa jomblo saya meronta, tapi anda selalu memberikan pekerjaan yang menyita waktu saya hingga saya tak memiliki untuk mencari pasangan", jawab Asisten Reno yang berbalik menyindir sang bos.
" kau.... aku akan menambah pekerjaanmu agar kau tak bisa beranjak dari kursi mu", balas Arsya kesal.
Sila hanya menggelengkan kepalanya melihat sang bos dan Asistennya yang bertingkah seperti Tom & Jerry, namun mereka tetap saling membutuhkan bahkan saling menyayangi seperti saudara.
waktu terus berlalu hingga tiba saatnya mereka untuk pulang, mereka adalah orang terakhir penghuni kantor Mhs Group.
" Anya, apakah ada yang ingin kau beli sebelum kita sampai rumah?, tanya Arsya pada istrinya.
Sila nampak berpikir dan mengingat - ingat apa yang akan ia beli.
" tidak ada sayang, semua kebutuhan kita masih cukup, mungkin kita berhenti di minimarket saja, untuk membeli sedikit makanan ringan dan es krim untuk Dania", ucap Sila pada suaminya.
" Ren, berhenti di minimarket, istriku ingin membeli sesuatu" titah Arsya pada, Asistennya yang sedang mengemudi mobilnya.
" baik Tuan", jawab Asisten Reno singkat.
__ADS_1
Asisten Reno menghentikan mobilnya di minimarket yang Tak begitu jauh dari Masionnya