
keesokan harinya Dania dan Adit sudah bersiap - siap untuk jalan - jalan sesuai janji Arsya kepada mereka kemarin. bahkan mereka sudah tidak sabar menunggu Arsya yang ingin menjemput mereka, ini pertama kalinya bagi mereka bisa menikmati dunia luar setelah apa yang menimpa Adit, dan itu sangat membuat mereka bahagia.
" kok lama ya bang om gantengnya?, tanya Dania kepada Adit, mereka sedang duduk di ruang tamu dan terus menatap keluar menunggu Arsya.
" wah anak - anak mama udah ganteng dan cantik, pada mau kemana sih?, tanya Sila yang baru saja keluar dari kamarnya.
" mama juga udah cantik, mau kemana?, Dania balik Bertanya kepada mamanya.
" mama mau ke Resto, udah lama gak ke sana ", jawab Sila singkat.
" Dania juga mau pergi jalan - jalan sama om ganteng ma, sama bang Adit juga", jelas Dania dengan ceria.
" ya udah kita sarapan dulu yuk, mama udah siapin sarapan kesukaan kalian" ajak Sila pada kedua anaknya.
mereka berjalan menuju meja makan, Sila mengambilkan makanan untuk Adit dan juga Dania, mereka menikmati sarapan paginya dengan sangat hikmat.
" Nona diluar ada Tuan Arsya", ucap Art Sila yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.
mendengar nana Arsya disebut, Dania segera berlari ke depan untuk membawa Arsya masuk bersamanya.
" ayo om duduk" Dania memerintahkan Arsya duduk di kursi kepala keluarga yang selama ini selalu kosong.
Sila yang sedari tadi menikmati sarapannya, tertegun melihat tingkah putri kecilnya dan hanya menyaksikan tingkah mereka.
" mama tolong ambilkan sarapan untuk om ganteng" ucap Dania kepada mamanya.
Sila menghentikan aktifitasnya, dan mengambilkan sarapan untuk Arsya.
" anda mau lauk apa Tuan, ayam atau telur mata sapi", tanya Sila kepada Arsya.
" telur saja" jawab Arsya singkat dan menerima piring yang sudah berisi makanan.
sarapan nasi goreng merupakan sarapan favorit kedua anaknya, dengan kerupuk, telur mata sapi atau ayam goreng sebagai pelengkapnya.
" hari ini saya akan ke Resto Tuan, karena sudah lama saya tidak ke sana ", ucap Sila setelah menghabiskan sarapannya.
Arsya hanya mengangguk mendengar ucapan Sila.
" aku akan mengantarmu, setelah itu baru membawa anak - anak pergi jalan - jalan", ucap Arsya disela sarapan paginya.
__ADS_1
**
Arsya menuju Resto milik Sila, di sana nampak karyawan Sila sedang sibuk menyiapkan segala kebutuhan Resto, setelah menurunkan Sila mereka akhirnya berpisah, Sila masuk ke dalam Resto sedangkan Arsya memenuhi janjinya membawa dua bocah itu untuk bermain.
" pagi semua", sapa Sila kepada karyawannya.
Sandra yang merasa familiar dengan suara itu, menghentikan aktifitasnya, dan menoleh ke sumber suara.
" bu Sila", teriak Sandra, dan bergegas menuju bosnya dan mencium punggung tangannya.
" pa kabar san, gimana perkembangan Resto" tanya Sila sambil berlalu menuju ruangan pribadinya.
" semua berjalan lancar dan aman,bu... bu Vania juga sering kemari mengontrol, setiap laporan yang saya kirim lewat email, berkasnya saya taruh di meja ibu", jelas Sandra dengan sangat rinci.
**
semenjak Pertemuannya dengan Sila di perusahaan Mahesa group, Aldi hampir setiap pagi memantau Resto Sila, untuk mengetahui apakah ia ada di sana atau tidak.
seperti pagi ini, Aldi sudah standby di dalam mobilnya yang tak jauh dari Resto Sila, Aldi melihat Sila turun dari mobil Alphard warna hitam hingga masuk ke dalam Resto yang tak luput dari perhatiannya.
setelah dirasa keadaan sudah memungkinkan, Aldi turun dan memasuki Resto.
" saya ingin bertemu dengan Sila, bilang padanya jika Aldi ingin bertemu dengannya", karyawan itu segera masuk kedalam dan menyampaikannya pada Sandra, dan menyampaikan kepada Sila.
", kamu yakin yang di depan itu mas Aldi" tanya Sila pada Sandra.
Sandra hanya menganggukkan kepala, meyakinkan Sila.
" ada apalagi ia mau bertemu dengan ku", batin Sila, meski ragu Sila tetap ingin menemuinya.
" Sila... bisakah kita bicara sebentar" ucap Aldi ketika Sila sudah ada didepannya.
" Silahkan duduk mas, maaf aku tak punya banyak waktu, silahkan bicara seperlunya saja" ucap Sila ketus kepada mantan suaminya.
Aldi merasa lega, Sila mau memberinya waktu untuk bicara, tidak seperti kemaren yang menghindar darinya.
" sebelumnya aku mau minta maaf, atas perlakuanku dulu kepadamu dan juga anak - anak, aku laki - laki bodoh yang tidak bertanggung jawab sehingga membuat kalian terlantar" ucap Aldi dengan penuh penyesalan.
dan perlahan menggenggam tangan Sila, namun ditepis oleh Sila secara perlahan.
__ADS_1
melihat Aldi yang seperti itu, hati Sila merasa sedih, laki - laki yang dulu sangat dicintainya dan pernah mengisi hari - hari indahnya dulu, namun semua harus berakhir dengan kebencian karena sebuah penghianatan.
" sudahlah mas, aku sudah memaafkan mu, aku dan anak - anak sudah bahagia dengan kehidupan kami yang sekarang" ucapnya tanpa melihat Aldi di depannya, yang sedari tadi terus menatapnya.
" kamu sekarang lebih terawat dan cantik Sil, apa kamu sudah punya suami?, tanya Aldi pelan dengan rasa takut akan menyinggung wanita yang pernah menjadi istrinya.
Sila menarik napas dalam - dalam, ia sudah merasa jengah dengan sikap mantan suaminya.
" aku bukan tipe orang yang mudah pindah ke lain hati mas, dan mas tak perlu tahu tentang urusan pribadiku" jawab Sila dengan singkat.
" apakah itu artinya aku masih punya kesempatan kedua untuk kita", Aldi menggenggam tangan Sila, yang berharap Sila mau kembali kepadanya.
" prok... prok... prok... ", suara tepuk tangan mengagetkan mereka berdua, dan secara bersamaan menoleh ke sumber suara.
" bagus ya mas, katanya pergi joging, aku telpon gak di angkat - angkat, ternyata kamu di sini janjian sama mantan istri kamu", ucap istri Aldi yang secara tiba - tiba datang dan mengacaukan suasana.
" kamu membuntuti ku, Sonia!, aku hanya ingin meminta maaf dan ingin bertemu dengan anak - anakku", bentak Aldi kepada istrinya. sedangkan Sila hanya diam melihat pertengkaran mereka berdua.
" meminta maaf atau merayunya mas, tak perlu berpegangan tangan jika kamu datang untuk itu", jawab Sonia tak kalah berang.
" dan kau janda gatel, jauhi suamiku, kalian sudah tidak ada hubungan apa - apa lagi, dan jangan jadi pelakor di rumah tangga kami", tuding Sonia kepada Sila dengan amarah yang berapi - api.
" apa anda tidak malu menyebut diri anda sendiri Nona, empat tahun yang lalu anda datang dan merusak rumah tangga kami, apa anda lupa itu!, jawab Sila dengan kesal.
tak terima dengan ucapan Sila, Sonia menghampiri Sila dan mengangkat tangannya ingin menampar Sila.
Sila menutup matanya karena akan mendapat serangan itu, namun tak ada rasa sakit yang didapatnya, perlahan Sila membuka matanya.
" Arsya", batin Sila, yang terkejut atas kehadirannya di sini.
Arsya menangkap tangan Sonia dan mencengkeramnya hingga ia kesakitan, wajahnya memerah menahan emosi.
" singkirkan tangan anda dari calon istri ku, jika tidak ingin tangan anda patah, berani anda menyentuhnya seujung kuku saja, aku pastikan tangan anda tak dapat di gunakan lagi", ucap Arsya dengan mata memerah dan menghempaskan tangan Sonia secara kasar.
" Tuan Arsya, maafkan atas sikap istri saya", ucap Aldi namun tak ditanggapi oleh Arsya.
" Ayo Sonia, kita pulang", sentak Aldi dan langsung menyeret tangan Sonia dengan kasar.
Sila masih tak bergeming, melihat apa yang terjadi di depannya, ia tahu jika sudah begini sulit untuk menjelaskan pada Arsya apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1