
Sudah berbulan bulan Arsya dan Sila mengikuti program kehamilan dan terus berusaha membuat adonan setiap malam. Namun hingga kini mereka belum juga mendapatkan kabar baik.
Sila selalu menghibur suaminya agar tidak mudah menyerah dan putus asa. Baginya ada atau tidaknya buah hati dari Arsya tak mengurangi rasa cintanya pada laki laki itu.
Setiap weekend tiba mereka akan menghabiskan waktunya di Hotel milik Arsya. Tentunya Dania ikut bersama mereka jika tidak sedang bersama Aldi papa kandungnya.
****
" Anya. Hari ini aku ada rapat penting jadi kau tak perlu repot repot mengantarkan makan siang. Aku tak ingin kau lama menunggu karena aku tidak tahu kapan selesai". Pesan Arsya pada istrinya yang sedang memasangkan dasi untuknya. Arsya terus memeluk tubuh istrinya yang membuat Sila tak dapat bergerak dengan bebas.
" berikan aku vitamin. Agar aku lebih semangat untuk mencarikanmu uang yang banyak".
" baiklah aku akan mengambilnya". Sila hendak beranjak dari tempatnya namun Arsya masih memeluknya.
" bagaimana aku akan mengambil vitamin mu jika kau tak melepaskan ku". Arsya gemas dengan istrinya. Ternyata Sila tak tahu maksudnya.
" bukan vitamin itu yang ku maksud tapi vitamin ini". Arsya menunjuk bibir mungil istrinya.
" semakin hari kau semakin mesum saja. Tidak pagi siang malam yang kau minta tak jauh dari itu". Ucap Sila malu malu.
" tapi kau sangat menikmati dan selalu minta lagi dan lagi". Sila tersipu malu mendengar ucapan suaminya. Tak dapat dipungkiri jika Arsya sekarang pandai membuatnya ketagihan dengan miliknya.
Arsya tak ingin menunggu lama. Ia lalu mulai mengecup bibir mungil istrinya. Mereka kembali melakukan senam bibir dan terlepas ketika sana sama tak mampu bernapas lagi.
" aku berangkat dulu. Reno pasti sudah kusut di bawah karena menungguku". Ucap Arsya sambil mengelap bibir istrinya denga ibu jari.
mereka akhirnya turun ke bawah dan sudah ada Reno yang duduk sambil memainkan handphone. Melihat Tuan dan Nyonya turun dengan senyum dan rambut yang selalu basah di pagi hari membuat Reno kesal. Dari tadi ia menunggui orang yang sedang bercinta dan itu menyakitkan dengan statusnya yang masih jomblo hingga saat ini.
__ADS_1
" ada apa dengan matamu. Kenapa menatap kami seperti seorang terdakwa".
" bukan begitu Tuan. Saya hanya bingung apa sekarang sedang trend setiap mandi pagi harus membasahi rambut ". Sindirnya.
" kau tak akan mengerti soal itu. Ilmu mu belum cukup untuk memahaminya. Iau hanya pandai dalam masalah pekerjaan. Untuk masalah rambut basah nanti aku akan mengajarinya jika sudah waktunya".jelas Arsya tanpa merasa bersalah. Sedang Sila sudah salah tingkah mendengar hal itu.
" bagaimana saya akan tahu Tuan. Jika waktuku untuk anda semua. Jangankan untuk soal itu. Untukku tidur saja masih anda potong". Sindirnya. Arsya pura pura tak mendengar dengan apa yang dikatakan oleh Asistennya.
" hari ini aku akan ke Resto. Sudah lama aku tak mengunjunginya". Sila meminta izin pada suaminya.
" pergilah biarkan supir mengantarmu". Sila hanya mengangguk mendengar perintah suaminya.
****
Sila sudah berada di Restonya dan berkutat dengan laporan yang sudah mengunung di mejanya. Matanya mulai berkunang kunang melihat banyaknya angka dan kepalanya terasa sangat pusing. Dengan kesadaran yang masih tersisa Sila menghubungi Asistennya.
" ya Nona. ada apa. Hallo. Hallo. Hallo. Nona . Nona." tak mendengar jawaban Sandra segera berlari menuju ruangan Sila.
Melihat beberapa karyawan yang menuju ruangan Sila dengan wajah panik. Aldi yang sedang menikmati makan siang sekaligus meeting bersama cliennya merasa ada sesuatu yang terjadi. Aldi beranjak dari tempatnya dan mengikuti para karyawan itu.
" Ada apa. Sila ". Aldi menerobos masuk keruangan Sila setelah melihat Sila yang tergeletak tak sadarkan diri.
" tidak tahu Tuan. Nona sudak tak sadarkan diri ketika saya masuk ruangannya". Jawab Sandra khawatir.
" kita bawa kerumah sakit saja". Aldi segera mengendong tubuh Sila lalu memasukkannya ke dalam mobil yang dibawanya. Setelah Aldi berpamitan dengan cliennya dan menyuruh Asistennya untuk meneruskan pekerjaannya.
" Tuan. Tapi saya tidak bisa ikut. Resto sangat ramai saya takut meninggalkannya". Ucap Sandra bingung.
__ADS_1
" biarkan aku yang mengantarnya. Kamu hubungi Arsya tebtang kondisi Sila". Jelas Aldi dan segera membawa Sila ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit. Sila segera di tangani oleh dokter dan tenaga medis lainnya. Aldi terlihat panik dan hanya mondar mandir di drpan ruang ICU. Berulang kali ia mencoba menghubungi handphone Arsya namun tak satupun yang mendapatkan jawaban yang membuat Aldi gusar.
" keluarga pasien". Seorang dokter keluar dari ruang icu tempat Sila diperiksa.
" saya dok".
" Anda tak perlu khawatir Tuan. Istri anda baik baik saja. dia hanya kelelahan dan kurangnya asupan makanan jadi membuatnya seperti ini. Dan saya ucapkan selamat . Istri anda sepertinya sedang hamil. Jadi perhatikan pola makan dan istirahatnya. Untuk memastikan kondisi janin dan ibunya saya rujuk ke Dokter kandungan. Jadi anda bisa membawanya ke sana". Tutur sang dokter .
Aldi ingin menjelaskan bahwa ia bukan suami dari Sila. Namun dokter tersebut tak memberinya kesempatan.
Aldi segera menuju ruang icu tempat Sila berada.
" Mas Aldi"
" bagaimana keadaan kamu Sil. Aku tadi meeting di Resto mu. Aku melihat beberapa karyawan mu berlari keruangan mu. Jadi aku ikuti mereka dan Asisten mu menemukan kamu tak sadarkan diri dimeja kerjamu. Aku langsung saja membawamu ke sini takut terjadi apa apa". Aldi berusaha menjelaskan pada Sila agar tidak terjadi kesalahpahaman.
" Makasih mas atas bantuannya".
" Dokter bilang kamu terlalu capek dan tidak makan. Ada apa sebenarnya?. Apa efek kamu hamil jadi tidak nafsu makan!. Sila terkejut mendengar ucapan mantan suaminya.
" Apa mas. Aku hamil?.
" Jadi kamu tidak tahu kalau kamu sedang hamil. Kata Dokter tadi kamu kemungkinan saat ini sedang hamil. Ini surat rujukan untuk ke Dokter kandungan". Aldi menunjukkan surat rujukan yang diberikan oleh Dokter kepadanya.
Sila sangat bahagia akhirnya bisa mengandung anak Arsya. Perlahan dia mengusap perutnya yang masih datar. Ia sudah tak sabar ingin segera menemui suaminya untuk memberi kabar bahagia ini.
__ADS_1
" ayo aku antar ke Dokter kandungan untuk mengecek kondisi janinnya". Sila hanya mengangguk karena tak tahu harus berkata apa sangking bahagianya.
Mereka sampai di ruang Dokter spesialis kandungan. Aldi mendorong Sila yang berada kursi roda. Sila benar benat sangat bahagia setelah dinyatakan sedang mengandung. Kini umur kehamilannya baru berjalan empat minggu. Pantas saja akhir akhir ini ia merasakan tubuhnya berbeda dari biasanya. tubuhnya terasa lesu dan kurang bersemangat. Setelah mendapatkan bukti usg Sila dan Aldi segera meninggalkan tempat itu. Dan meminta Aldi untuk mengantarnya kembali ke Restonya.