
Sila masih bingung dan membolak - balikkan lingerie yang berjajar di lemari. sudah setengah jam ia berdiri dan hanya menatap pakaian di depannya.
" Anya... ayo tidur, kenapa lama sekali hanya menganti baju tidur saja?, teriak Arsya dari tempatnya membaringkan tubuhnya.
Sila semakin bingung mendengar teriakan suaminya, dengan asal ia mengambil salah satu lingerie lalu memakainya dan melapisinya dengan baju mandinya agar lingerie nya tidak langsung terlihat, dengan ragu Sila melangkahkan kakinya menuju ranjang menyusul suaminya.
Arsya memperhatikan penampilan istrinya, sambil mengerutkan alisnya.
" kamu mau mandi malam - malam begini?, tanya Arsya pada Sila yang berada dihadapannya.
" ti... tidak, aku sudah mandi dan mau tidur", jawab Sila dengan wajah bingung ingin memberi alasan pada suaminya.
Arsya menatap kembali baju yang dipakai istrinya untuk tidur.
" kamu gak salah memakai baju tidur, apa Oma membelikan baju tidur yang mirip baju mandi" tanya Arsya bingung.
" kenapa, apa tidak bagus memakai baju ini, aku nyaman memakainya untuk tidur", jawab Sila mencoba meyakinkan suaminya.
Arsya tak ingin membahas lagi baju tidur yang tak biasa yang dikenakan istrinya, lalu mengajak Sila untuk tidur karena waktu yang sudah malam dan lelah.
baru saja mereka ingin merebahkan tubuhnya, pintu kamar mereka diketuk dari luar. Sila segera turun untuk membukakan pintunya dan melihat siapa yang mengetuk pintunya.
" ada apa Bik", tanya Sila pada kepala Asisten rumah tangga Arsya.
" saya di suruh Nyonya besar untuk mengantar ini pada Nona dan Tuan", jawab Kepala Art, lalu Sila menyuruhnya untuk masuk kedalam kamarnya.
Kepala Art itu masuk dengan membawa dua gelas yang berisi minuman, lalu meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
" Silahkan di minum Tuan dan Nona, saya akan menunggu disini dan langsung membawa gelasnya kembali", ucap sang kepala Art.
Arsya dan Sila saling pandang mendengar ucapan kepala Art itu, dan melihat minuman apa yang dibawakan olehnya.
" apa Oma juga yang menyuruhmu melakukan itu?, tanya Arsya pada wanita yang sudah 15 tahun mengabdikan dirinya untuk bekerja di Mansionnya.
" benar Tuan, Nyonya besar memerintahkan saya untuk memastikan jika ramuan ini benar - benar diminum oleh Tuan dan Nona", jawab kepala Art itu.
Arsya dan Sila mengambil masing - masing gelas untuk meminumnya, mereka agak ragu untuk meminum ramuan itu, karena warna yang gelap dan bau yang tidak enak.
" silahkan di minum Tuan dan Nona, itu tidak pahit, itu hanya minuman kesehatan untuk menjaga stamina saja" jelas kepala Art itu, karena melihat Tuan dan Nona nya ragu untuk meminumnya.
Sila segera meminum miliknya, karena tak ingin berlama - lama memegang gelas, sedangkan Arsya melihat istrinya tak memberikan reaksi apa pun, ia pun segera meminum ramuan miliknya.
Kepala Art itu segera meninggalkan kamar Tuannya dan membawa gelas itu kembali. Arsya dan Sila segera kembali membaringkan tubuhnya di ranjang untuk tidur.
" sayang, apa kau mematikan AC di kamarmu", tanya Sila pada suaminya dengan mata yang masih terpejam.
Arsya pun mengalami hal yang sama, ia mulai gelisah karena sesuatu yang mulai bergejolak, napasnya memburu seolah menahan sesuatu yang sangat sulit untuk dikendalikan, Arsya segera mengambil remote Ac untuk mengecek suhunya, lalu membuka kaos dan melemparnya ke sembarang tempat.
" tidak Anya, Ac sudah aku tambah lebih dingin lagi", ucap Arsya pada istrinya, lalu menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang.
Sila yang merasa tubuhnya panas membuang selimut yang menutupi tubuhnya, tentu saja hal itu membuat Arsya susah menelan salivanya karena ternyata istrinya menggunakan lingerie ungu yang sangat seksi bahkan hanya menutupi bagian intinya saja.
Sila tak menyadari jika suaminya menatapnya seperti singa yang sedang kelaparan, bahkan Sila lupa jika ia memakai lingerie yang cukup seksi dan transparan.
Sila membuka lingerie nya, yang hanya meninggalkan ********** saja, tanpa ia sadari suara ******* keluar dari mulut Sila, yang membuat Arsya semakin tidak dapat menahan hasratnya, padahal ia sudah mati - matian berusaha untuk menahannya. namun Sila justru seolah ingin memancing dirinya.
__ADS_1
perlahan Arsya mendekati tubuh istrinya, lalu mencium dan memeluk tubuh kecil istrinya , yang membuat Sila semakin menggila dalam dekapan Arsya.
tak mereka sadari jika ramuan yang diberikan oleh Oma Cintya untuk mereka berdua adalah ramuan untuk pembangkit stamina dan gairah yang membuat mereka berdua terbakar gairah, malam pertama yang mereka lewatkan akhirnya malam ini akan mereka lalukan dengan penuh gairah dan suka cita.
" apa aku boleh melakukannya", tanya Arsya yang sudah tidak tahan lagi menahan hasratnya.
Sila hanya mengangguk mendengar pertanyaan suaminya, ia justru membuka kedua kakinya dengan lebar agar suaminya bisa memasukinya lebih mudah dan cepat, ia juga sudah tidak sabar untuk melakukan pertempuran selanjutnya.
" sayang... lakukanlah, aku sudah tidak tahan lagi ingin menikmati tongkat milikmu", ucap Sila dengan liarnya sambil menggenggam tongkat sakti milik suaminya dan mengarahkannya ke goa miliknya.
tanpa ragu Arsya menekan sedikit demi sedikit, agar tongkat miliknya bisa masuk ke goa sempit istrinya yang sudah lama tidak berpenghuni.
suara laknat Sila membuat Arsya semakin bersemangat untuk menekan lebih dalam tongkat miliknya, sehingga perjuangannya tidak sia - sia, tongkat itu berhasil masuk dan terbenam sempurna ditempatnya. pertempuran panas mereka membuat dua insan itu saling melepas kenikmatan, meski waktu mereka untuk melakukan itu tidak begitu lama, namun Arsya sudah bisa melakukan tugasnya sebagai suami.
Arsya tumbang di samping tubuh istrinya, lalu memeluk istrinya. Sila tersenyum menatap suaminya lalu menutupi tubuh mereka dengan selimut.
" apa kau puas dengan milikku, maafkan aku tak bisa lebih lama dari ini" ucap Arsya malu dan sedih.
Sila tahu jika suaminya masih dalam masa kurang percaya diri karena kondisinya, namun sebagai istri Sila harus berusaha untuk menumbuhkan rasa itu kembali. Sila akan membantu memulai pengobatan suaminya kembali agar Arsya bisa sembuh seperti sedia kala.
" aku puas dengan mu, tak perlu risau", ucap Sila agar suaminya tak berkecil hati.
Sila tersenyum dan mencium pipi suaminya, apapun keadaan Arsya ia siap untuk menerimanya.
" maafkan Aku" ucap Arsya sambil memeluk erat tubuh polos istrinya.
" sudahlah, sebaiknya kita tidur, kau pasti lelah sudah menguras semua tenaga mu", jawab Sila lalu membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
__ADS_1
mereka sama - sama kelelahan karena pertempuran yang baru mereka lakukan, akhirnya dua insan itu tertidur dengan saling berpelukan, dan terhanyut dalam mimpi ibdah bersama.