
Sila merenung seorang diri di dalam ruangannya, pertemuannya dengan Sonia masih sangat membekas di ingatannya dan ucapannya masih mengiang - ngiang di telinganya.
bahkan ia tak menyadari jika Arsya sudah berada di depan pintu ruangannya dan sedang memperhatikan dirinya. rasa penasaran menyelimuti hati laki - laki tampan itu, apakah yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya hingga tak menyadari kedatangannya.
Arsya masuk dengan sangat pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu memeluk wanita yang kini sedang melamun menghadap jendela dan melihat pemandangan luar, dengan tangan yang bersedekap di dadanya.
tangan kekar melingkar di perutnya yang membuatnya terkejut dan melihat tangan itu, dari aroma tubuhnya Sila tahu jika itu adalah Arsya kekasihnya.
" apa yang kau pikirkan, hingga tak menyadari kedatangan ku ?, tanya Arsya dengan lembut di telinga Sila sehingga menimbulkan gejolak aneh di diri Sila.
" tidak ada, aku hanya mengenang semua perjalanan hidupku hingga aku bisa bertemu dengan mu ", jawab Sila berbohong.
mana mungkin ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Arsya, pasti laki - laki itu akan marah nantinya.
" di mana anak - anak ?, tanya Sila.
" mereka sedang tidur siang, aku tak ingin menganggu istirahat mereka jadi aku tinggal bersama bibi", ucap Arsya menjelaskan.
Sila membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada Arsya, lalu membelai wajah tampan laki - laki yang dulu pernah di bencinya, namun sekarang justru menjadi laki - laki yang dicintainya.
benar kata pepatah jika ingin membenci, maka bencilah sewajarnya, karena benci dan cinta berjalan beriringan dan tipis bedanya.
" aku lapar, aku ingin makan siang bersamamu ", ucap Arsya sambil mengusap perutnya yang sedang lapar.
" duduklah, aku akan menyiapkan untukmu ", jawab Sila lalu menyuruh Sandra untuk mengantarkan makan siang ke ruangannya.
Sila kembali duduk di kursinya, sedangkan Arsya duduk di sofa sambil memainkan handphonenya.
Sila menatap laki - laki dihadapannya, pikirannya terus berkecamuk yang membuat hati dan pikirannya tak tenang.
" apa sebaiknya aku terima saja ajakan Arsya untuk menikah, mungkin ini jalan terbaik agar aku bisa menghindari mas Aldi", batin Sila sambil terus menatap kekasihnya.
" apa kau baik - baik saja, sejak tadi aku lihat kamu tidak konsentrasi, apa yang mengganggu Pikiranmu, berbagilah dengan ku agar beban mu tidak berat ", nasehat Arsya karena memergoki Sila yang sering melamun tanpa alasan.
tok.. tok.. Sandra masuk keruangan Sila lalu meletakkan menu makan siang di meja, lalu kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
melihat menu yang menggugah selera membuat Arsya tak ingin berlama - lama, ia langsung mengambil nasi berserta pendampingnya lalu melahapnya.
Arsya menatap Sila yang hanya menatapnya, dan menelan salivanya seolah sangat menginginkan apa yang di makan oleh Arsya.
" buka mulutmu ", perintah Arsya.
" aku tahu kamu pasti melupakan makan siang mu", ucapnya lagi, dan meminta Sila untuk membuka mulutnya.
Sila terpaksa menuruti permintaan Arsya, yang tak ingin laki - laki itu marah padanya. Sila menikmati suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya yang di rasa sangat nikmat, padahal sejak tadi nafsu makannya sedang menghilang.
" jujurlah padaku, jangan sampai aku mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi padamu" ancam Arsya pada Sila yang membuat nyali Sila menciut.
mudah bagi Arsya untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi padanya, meski Sila berusaha untuk menutupinya.
Arsya menarik tangan Sila dan membawa tas milik kekasihnya, lalu membawanya menaiki mobilnya. Sila masih diam tak berani bertanya apapun pada Arsya, melihat wajah Arsya yang sudah mulai kesal padanya.
" untuk apa kita kesini", tanya Sila pada Arsya setelah Arsya menghentikan mobilnya di depan sebuah butik yang terkenal dan mahal.
Arsya tak menjawab pertanyaan Sila, ia lalu keluar dari mobilnya lalu membuka pintu disisi lainnya dan kembali mengandeng tangan Sila agar ikut dengannya.
pegawai itu mengantarkan mereka menuju sebuah ruangan yang luas dan berjajar gaun pengantin yang sangat indah dan mahal tentunya.
" oma, tamu istimewa anda sudah datang" ucap pegawai itu lalu pergi meninggalkan Arsya dan Sila.
Pemilik butik itu segera berdiri untuk menyambut kedatangan tamu istimewanya, lalu memeluk Arsya dan Sila secara bergantian.
" kau memang pandai mencari calon istri", ucap pemilik butik.
" panggil aku Oma Nadin", ucap Oma Nadin pada Sila.
Oma Nadin menatap Sila dari ujung rambut hingga ke kaki, kemudian tersenyum pada Sila lalu menyuruh mereka untuk duduk di Sofa.
lalu memanggil Sila dan menyuruh pegawainya untuk menemani Sila untuk mencoba gaun pengantinnya.
seribu pertanyaan bersarang di kepala Sila, yang ingin rasanya ia bertanya langsung pada Arsya, namun waktu dan keadaan tidak memungkin sehingga ia memendamnya hingga waktunya nanti tiba.
__ADS_1
Sila keluar dengan gaun putih yang menampakkan bahu mulusnya yang membuat Arsya kesal dan menyuruh mengganti gaun lainnya.
" bisakah Oma berikan gaun yang tidak terlalu terbuka, aku tidak ingin tubuh istriku dilihat banyak orang", ucap Arsya protes pada Oma Nadin.
" ish kau ini tidak kenal fashion, sekarang gaun seperti itu yang banyak diminati oleh calon pengantin" ucap Oma Nadin jengah.
setelah empat kali menganti gaun, akhirnya Arsya memilih desain gaun yang tidak terlalu terbuka, namun terlihat mewah dan elegan.
kira - kira kayak gini ya gaun pengantin Sila.
" apa kau tak ingin mencoba tuxedo milik mu", tanya Oma Nadin yang sudah sangat mengenal Arsya dan keluarganya.
Oma Nadin merupakan sahabat Oma Cintya, sejak dulu hingga sekarang jika mengadakan suatu perjamuan yang penting, Oma Cintya akan mempercayakan desain pakaian mereka pada Oma Nadin.
" tidak perlu Oma, aku sudah percaya pada Oma dan pasti akan pas dan cocok di tubuhku ", ucap Arsya singkat.
" aku heran mengapa ada wanita yang mau menikah dengan balok es seperti dirimu", ketus Oma Nadin pada Arsya.
mendengar omelan Oma Nadin, Arsya hanya acuh dan mengangkat kedua bahunya, yang membuat Oma Nadin menggelengkan kepala.
Oma Nadin mengambil tuxedo Arsya dan memperlihatkan padanya, meski Arsya menolak untuk mencobanya, karena Arsya yakin Oma Nadin tidak akan mengecewakannya.
kira - kira begini nih tuxedo Arsya ya, untuk hari pernikahannya.
Arsya menghampiri Oma Nadin dan memberikan kartu black card untuk membayar baju pengantin mereka, dengan senyum yang menawan Oma Nadin menerimanya dan melakukan transaksi pembayaran yang bernilai fantastis yaitu 500 juta hanya untuk baju pengantin mereka.
" terima kasih Sila, jika kau sudah menjadi istri dari si balok es itu, sering - seringlah kemari, aku akan menunjukan gaun yang cocok dan elegan untukmu, kau tak perlu takut padanya, uangnya tak akan habis meski kau membeli butik ini sekalipun ", canda Oma Nadin pada Sila lalu memeluknya.
" terima kasih Oma, akan aku pikirkan nanti", ucap Sila dan memberikan senyum termanisnya untuk Oma Nadin .
Arsya sudah sangat malas menunggu dua wanita yang sedang membicarakan dirinya, Arsya segera menggandeng tangan Sila dan membawanya menuju mobilnya.
__ADS_1